
Memasuki kamar Tuan Guntur langsung mematikan ponselnya. Senyum yang selalu tersungging seakan pertanda esok pagi akan ada kabar menyenangkan untuk di dengar.
Sementara itu, Soya yang masih duduk sendiri di balkon memilih meminum tehnya hingga tandas. Malam yang dingin serasa panas, tubuhnya yang sedari tadi menegang membuat Soya semakin gerah. "Huufff ..., andaikan Ibu masih hidup dan sekarang apa yang harus Soya lakukan," ujar Soya sembari menangkup wajahnya dan menunduk kesal.
"Masuk Non. Sudah malam lihat tubuh Nona sampai dingin begini," ujar sang bibi tiba-tiba.
"Eh, Bibi mengejutkan saja," ujar Soya sembari melepas tangannya.
"Ayo Non, sudah malam!" ajak sang bibi sembari menguap.
Soya lalu berdiri dan memeluk sang bibi. "Bibi, tidur di kamar Soya ya Bi? Soya ingin tidur di peluk," pinta Soya manja.
Sang Bibi yang menyadari kondisi Soya langsung tersenyum, hal inilah yang membuat Tuan besar begitu melindungi Soya.
"Ayo anak manja, Bibi akan tidur bersama Non Soya," ujar sang Bibi sembari menutup pintu balkon.
Memasuki kamar Soya hanya bisa tersenyum kecut saat menyadari ranjangnya hanya cukup untuk satu orang. "Non, kita tidur di kamar sebelah saja," ujar sang bibi sembari keluar dari kamar dan menuju kamar sebelah.
"Tidur Non," ujar sang bibi saat sudah di atas ranjang.
Soya malam ini benar-benar tidak bisa terlelap hingga pelukan sang bibi membuat hati Soya sedikit menghangat.
"Bi, apa Bibi belum tidur?" tanya Soya lirih.
"Ya, ada apa Soya?"
"Bi, kenapa Bibi memanggil saya Nona?" tanya Soya heran.
"Itu perintah Tuan Danendra Nona," jawab sang bibi mengejutkan.
Mendengar jawaban sang bibi, Soya seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
__ADS_1
"Bi, boleh Soya bertanya? Bagaimana menurut Bibi jika saya menerima tawaran Tuan muda dan bagaimana jika saya menolak?" tanya Soya membuat sang bibi langsung melepas pelukannya.
"Non, kenapa Non Soya begitu resah sedangkan Tuan muda sudah mengurus semuanya," ujar sang bibi keceplosan.
"Maksud Bibi?" tanya Soya curiga.
Sang bibi seakan sadar akan ucapannya dan kemudian memilih untuk duduk.
"Non, menurut Bibi terima saja tawaran Tuan muda, meskipun Tuan muda terkesan galak tetapi Tuan muda sangatlah baik, jika Tuan muda tak menyukai Non Soya, mungkin saat ini Non Soya sudah masuk penjara atau ...." Ucapan sang bibi terputus begitu saja dan menatap Soya lekat sembari tersenyum.
"Non, satu hal saja yang perlu Non Soya ketauhi bahwa Tuan muda sudah melepas Nella dan akan memutuskan Non Nella jika waktunya sudah tepat," jawab sang bibi akhirnya.
"Bi, apa ini gara-gara Soya?" tanya Soya takut.
Sang bibi seketika tersenyum dan mengusap wajah Soya penuh kasih. "Kamu gadis baik dan selayaknya kamu di perlakukan dengan baik, tentang Non Nella sebenarnya ..., biar Tuan muda yang menjelaskan semuanya pada Non Soya dan menurut saya sebaiknya Non terima saja permintaan Tuan muda."
"Bi, jika Soya menolak?"
Mendengar pertanyaan Soya, sang bibi hanya bisa tersenyum menghadapi gadis polos yang duduk di depannya. "Non, Nona hanya hidup seorang diri, tak ada tempat tinggal dan tak ada penghasilan tolong pikirkan ini baik-baik. Paling tidak jika Non Soya menerima tawaran Tuan muda masih ada orang yang melindungi Nona meskipun Tuan muda sedikit menyebalkan dan membuat Nona kesal," ujar sang bibi menasehati.
Soya menatap lekat wanita yang tidur di sisinya, wanita yang baik hati dan mau menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah.
"Terima kasih Bi," ujar Soya dan tak lama sudah terlelap dalam mimpinya.
Pagi ini rumah terdengar sedikit ramai, Soya yang bangun kesiangan langsung bergegas turun dari ranjang dan keluar dari kamar sementara Pak Min sedang memanasi mesin mobil dan sang bibi sudah memasak. "Maaf Bi, kenapa Bibi tak membangunkan Soya," ujar Soya malu.
"Sudah Nona lekas mandi," ujar sang bibi sembari tersenyum.
Namun, Soya tak kunjung beranjak menuju kamar mandi dan memilih duduk sesaat.
"Non!" panggil sang bibi lagi.
__ADS_1
"Kepala Soya pusing Bi," ujar Soya lirih.
Mendengar ucapan Soya sang bibi tersenyum dan mendekat. "Nona lekas mandi karena Tuan besar sebentar lagi akan turun untuk sarapan dan pasti akan menagih jawaban Nona, cepat Nona!" ujar sang bibi.
Keluar dari kamar mandi Soya seakan mendapatkan energi baru, Soya seakan mantap dengan jawaban yang akan di berikan nantinya, berlama-lama di kamar mandi membuat Soya memikirkan semuanya dengan tenang, hingga ketukan di pintu membuat lamunan Soya menghilang begitu saja. "Sebentar Bi," jawab Soya lirih.
Keluar dari kamar langkah Soya terhenti sejenak di depan pintu. 'Apa yang membuat kamu ragu Soya,' ujar hati Soya.
"Selamat pagi Tuan," sapa Soya akhirnya dan memilih membantu sang bibi.
"Soya!" panggil Tuan besar.
"Ya, saya Tuan," jawab Soya pelan dan mengurungkan langkahnya menuju ke dapur.
"Duduk dan ikut sarapan juga. Bi, tolong panggil Pak Muin juga!" titah Tuan besar.
Sarapan pagi yang cukup cepat dan setelah semuanya beres, "Soya, saya tunggu jawaban kamu dan biarkan Danendra yang mendengar jawaban langsung dari kamu," ujar Tuan Guntur sembari berdiri.
"Ingat Soya, pikirkan semua baik-baik," ujar Tuan Guntur sembari melangkah keluar.
Soya langsung mengekor langkah sang bibi, "Bi terima kasih untuk pelukan dan sarannya," ujar Soya sembari memeluk tubuh sang bibi.
"Anak baik, Bibi senang jika kamu sudah mengambil keputusan yang tepat dan harapan Bibi, tolong jangan membuat Tuan muda kecewa."
Soya hanya tersenyum sembari mengangguk seakan menghiyakan semua ucapan sang Bibi. "Hati-hati Bi, sekali lagi terima kasih," ujar Soya.
Sudah-sudah jangan di besar-besarkan Soya, jika ada sesuatu cerita saja pada Bibi," ujar sang bibi sembari mengusap bahu Soya.
Soya hanya menatap mobil yang melaju dan makin menjauh, perlahan Soya sadar akan percakapan semalam dengan sang bibi, kini Soya hanya tinggal menjalankan tugas yang memang harus berada di bahunya.
"Terima kasih Bi, sudah memberikan Soya sedikit ketenangan," guman Soya lirih sembari menutup pintu.
__ADS_1
Soya kembali melanjutkan pekerjaan sang bibi yang terbengkalai, hingga siang hari semuanya telah beres. Semoga Non Nella tak datang," guman Soya sembari menghempaskan tubuhnya asal di sofa.
"Huufff ..., bagaimana nanti jika Non Nella merasa tersakiti atau bahkan Tuan muda yang kecewa dengan keputusan yang saya buat nanti, tetapi pada akhirnya kami sama-sama kecewa," guman Soya lirih.