
Soya hanya diam dan masih terus memindai kamar Danendra. "Tuan, kenapa ranjangnya hanya ada satu?" tanya Soya takut.
Danendra yang mendengar ucapan Soya langsung tertawa dan menyimpan ponsel miliknya. "Soya, tentu saja ada satu, ranjang sebesar itu apa masih kurang?" tanya Danendra sembari mendekat.
"Mm ..., bukan-bukan begitu!" jawab Soya sembari memainkan kaos yang di pegangnya.
"Mandilah!" titah Danendra sembari keluar dari kamar.
Soya yang melihat Danendra keluar dari kamar. "Tuan ..., malam ini kita pulang 'kan?" tanya Soya ragu.
Danendra yang sudah mencapai abang pintu memilih untuk masuk kembali. "Tidak, kita akan menginap di rumah Ayah selama tiga hari," ujar Danendra.
"Tidak-tidak, So-Soya tidak mau!" ujar Soya lirih.
Danendra seketika menyengitkan kening dan kembali mendekat ke arah Soya. "Kamu bilang tidak mau?" tanya Danendra tak suka.
Soya langsung mundur beberapa langkah dan berusaha mencegah semakin mendekat. "Bu-Bukan begitu Tuan. Soya senang tetapi Soya mau tidur dengan Bibi lagi pula Soya juga enggak bawa baju," ujar Soya lirih.
Danendra langsung tersenyum, menatap Soya. "Hm ..., kamu ingin tidur dengan Bibi, lalu untuk apa ranjang sebesar ini?" tanya Danendra makin mendekat.
Soya yang merasa takut akhirnya hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya saat semakin mendekat dengan wajah Danendra.
"Soya, lihat suami kamu!" ujar Danendra tak ingin di tolak.
Soya makin menunduk takut. "Soya coba lihat suami kamu ini. Apa Tuan kamu ini kurang tampan?" tanya Danendra aneh.
"Tuan jangan begini! Sedikit menjauh Soya takut," jawab Soya makin menunduk.
Danendra sesaat sadar jika Danedra makin memaksa, Soya akan makin menutup diri.
"Koya apa yang kamu pikirkan, lekas mandi!" titah Danendra sembari menyentil dahi Soya keras.
Soya yang mendapat panggilan tak lazim seketika menoleh. "Agh, Tuan. Kenapa Tuan ikut menunduk," ujar Soya merasa bersalah saat kepalanya terantuk dagu Danendra.
"Maaf, Tuan. Apa sakit?" tanya Soya bingung.
Danendra hanya meringis tak menjawab pertanyaan Soya, Soya yang merasa bersalah langsung berlari keluar, tetapi belum beberapa langkah Danendra langsung meraih tangan Soya. "Tuan, saya akan minta obat gosok pada Bibi, lihat dagu Tuan merah," ujar Soya panik.
Danendra langsung menggeleng dan menarik Soya makin dekat. "Jangan panggil Bibi, mendekatlah dan tiup dagu saya," ujar Danendra sembari meringis pura-pura sakit.
"Tapi, Tuan?"
Danendra seketika melotot marah ke arah Soya. Mendapat tatapan dari Danendra Soya dengan tubuh gemetar mendekat ke arah Danendra. "Maaf, tapi Tuan harus mendongak ke atas," ujar Soya dengan suara tercekat.
"Maaf Tuan. Saya akan tiup!" ujar Soya lirih.
Soya dengan mata terpejam perlahan mulai mengembuskan napasnya, meniup perlahan hingga wajah Danendra hampir menempel ke wajah Soya. Memandang lekat wajah cantik yang ada di depannya, Soya tak menyadari jika Danendra begitu menikmati posisi seperti ini hingga ketukan di pintu mengejutkan Soya. "Tuan ...." Ujar Soya marah saat netranya terbuka.
Danendra yang merasa aksinya ketauhan langsung beringsut mundur dan menatap Soya lekat.
"Mandilah!" titah Danendra sembari melangkah menuju pintu.
Soya yang merasa kesal dengan ulah Danendra terus mengumpat sembari melangkah menuju kamar mandi. Cukup lama Soya masih berputar-putar di kamar mandi hingga Danendra mengetuk pintu untuk memastikan.
"Ya, Tuan. sebentar saya belum mandi," ujar Soya sembari membuka pintu kamar mandi secara tiba-tiba.
Danendra yang tak menyadari hal itu langsung terjatuh. "Agh ..., Tuan!" pekik Soya keras saat Danendra jatuh menimpa tubuhnya. Soya seketika terdiam dan tak berani bergerak hingga Danendra bangun dari jatuhnya.
"Koya ...!" teriak Danendra marah.
Danendra sesaat sadar jika Soya belum mandi dan itu terlihat dari lantai kamar mandi yang masih kering.
"Kamu belum mandi? Lantas apa saja yang kamu lakukan Soya!" seru Danendra heran.
Soya yang kini sudah berdiri. "Tuan, saya tidak tahu bagaimana menggunakan peralatan di kamar mandi ini. Berbeda dengan yang di rumah Tuan," jawab Soya jujur.
__ADS_1
Danendra hanya menggeleng saat mendengar ucapan Soya. "Ayo, Koya saya tunjukkan cara pakainya," ujar Danendra sembari menarik tangan Soya.
Setelah beberapa menit kemudian.
"Lekas mandi, di ranjang ada beberapa baju dan dalaman," ujar Danendra sembari keluar dari kamar mandi dan memilih tidur di ranjang.
Hampir lima belas menit Soya tak keluar dari kamar mandi Danendra kembali merasa heran dengan ulah Soya.
"Koya ...!" teriak Danendra keras.
"Ya. Kutu kupret, Anda keluar dulu saya mau ambil baju saya. Saya sudah kedinginan," ujar Soya malu karena hanya memakai kaos pemberian Danendra sementara baju yang di pakainya tadi terguyur air.
Merasa kesal dengan sikap Soya akhirnya Danendra melangkah mendekat dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Cepat ambil dan pakai sudah saya letakkan di depan pintu," ujar Danendra kembali menuju ranjang.
Belum juga Danendra duduk kembali terdengar teriakan keras dari kamar mandi.
"Tuan ...!" teriak Soya kesal.
"Lalu bagaimana saya keluar jika semua model bajunya seperti ini," ujar Danendra sembari memindai tubuh bagian bawahnya.
Kaos yang Soya gunakan sudah menutupi sebagian bawah pantatnya tetapi untuk bawahannya.
Soya masih duduk di kamar mandi hingga suara Danendra terdengar di depan pintu kamar mandi. "Keluar Soya, Ayah sudah memanggil," seru Danendra.
Soya yang masih bingung dengan penampilannya kini akhirnya mau tidak mau keluar juga dari kamar mandi dengan menarik kaosnya sedikit ke bawah dan menutup tubuh bagian depannya dengan tas yang di bawahnya.
Soya dengan kikuk keluar dari kamar mandi.
"Tuan, tolong berbalik," ujar Soya malu.
Danendra yang masih enggan berpaling akhirnya melihat juga. "Agh, kenapa juga kamu malu, kita juga sudah sah," ujar Danendra sembari tersenyum.
Soya minta sarung atau apa saja untuk menutupi tubuh Soya," ujar Soya sembari meraih selimut tebal milik Danendra.
"Maksud kamu!"
"Tuan, tolong carikan saya bawahan, saya tak mau semalaman duduk di kamar atau kita pulang saja," seru Soya kesal.
"Cari saja celana saya di almari," ujar Danendra duduk dengan tenang menatap Soya.
Soya langsung membebatkan selimut ke tubuhnya dan berjalan perlahan menuju ke arah Danendra. "Tuan, cepatlah atau saya minta bajunya Bibi saja," ujar Soya tiba-tiba.
Danendra yang sedari tadi melihat sikap Soya seketika berdiri dan membopong tubuh Soya. "Diam dan jangan berontak atau saya akan menarik selimut yang kamu gunakan," ujar Danendra mengancam dan membuat Soya langsung terdiam.
Sampai di depan almari Danendra langsung menurunkan tubuh Soya, membuka lebar pintu almari. "Pilih yang kamu suka," ujar Danendra tetapi tak beringsut sedikit pun dari tubuh Soya.
Soya yang merasa risih dengan kelakuan Danendra akhirnya protes juga. "Tuan, bagaimana saya bisa memilih celana yang pas jika Tuan berdiri di belakang saya seperti ini," ujar Soya kesal.
Danendra masih belum juga bergeming masih terus mengekor langkah Soya, Soya yang kesal akhirnya menarik asal celana yang di lihatnya.
"Sudah, Tuan ini saja," ujar Soya sembari menutup pintu almari.
"Sudah, yakin hanya itu saja setelah ini saya akan memguncinya dan dengar baik-baik.
Selama tinggal di rumah Ayah setiap malam kamu harus tidur di sini berani melawan saya akan menambah hari untuk menginap," ujar Danendra tak mau di tolak.
Soya semakin kesal dengan peraturan yang Danendra buat dengan mendengus kesal akhirnya Soya menurut dan menghiyakan saja. Sebelum almari benar-benar di kunci oleh Danendra Soya menarik dua kaos dan celana, melihat ini Danendra akhirnya tersenyum lega.
"Cepat ganti baju, Ayah sudah menunggu," ujar Danendra sembari duduk.
Danendra seketika tertawa saat melihat Soya keluar dengan celana kedodoran. Wajah Soya seketika cemberut dan menekuk dengan kesal Soya duduk di ranjang. Membuka kembali baju yang ada di dalam tas.
"Ash, baju apa ini? Tuan, kenapa bajunya begini semua," ujar Soya kesal dan seakan menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Tuan, Tuan tahu ukuran, em ..., ini dari mana?" tanya Soya kikuk.
Danendra yang sejak tadi hanya mendengar akhirnya melihat juga ke arah Soya. "Rahasia," ujar Danendra sembari berdiri.
"Mau bertemu Ayah?" tanya Danendra.
Soya seketika menggeleng dan memilih berbaring di ranjang. "Malu, coba lihat celana begitu kebesaran dan baju Soya juga masih basah," ujar Soya pelan.
"Tuan, tolong panggilkan Bibi, Soya mau pinjem bajunya Bibi saja," ujar Soya lirih.
Danendra yang sedari melihat reaksi Soya lanngsung mendekat ke arah Soya, ada rasa tak suka dari tatapan Danendra saat Soya merasa tak nyaman dengan baju yang di gunakan.
"Lepas saja dan kamu terlihat lebih seksi jika memakai kaos saja," ujar Danendra sengaja.
Danendra langsung melihat isi tas yang di terimanya. Senyum Danendra seketika terkembang sempurna. "Mungkin memakai baju ini akan semakin seksi," ujar Danendra sembari membuka lebar baju yang di pegangnya.
Soya seketika terdiam dan tak berani untuk bergerak. "Kenapa?" tanya Danendra sembari menatap Soya.
Soya hanya menggeleng dan terdiam, ada rasa aneh yang tiba-tiba Soya rasakan dan perasaan yang membuat Soya kikuk dan malu. "Maaf, Tuan Soya akan pakai baju Tuan saja," ujar Soya lirih.
Mendapat jawaban yang sesuai dengan harapan hatinya Danendra seketika tersenyum dan langsung mengecup kening Soya. "Terima kasih Soya, mulai sekarang belajarlah untuk tidak memanggil saya Tuan, saya suami kamu dan panggil dengan panggilan yang khas," ujar Danendra pelan.
Soya seketika tak bergeming, tubuh Soya seketika menegang dan tak tahu harus berbuat apa. "Ayo, Soya," ujar Danendra ulang.
Soya dengan pergulatan hatinya kini hanya menurut saja, hingga tiba di ruang makan Tuan Guntur dan sang Bibi langsung menatap heran ke arah Soya, hingga beberapa saat akhirnya Tuan Guntur dan Bibi tersenyum penuh arti.
"Malam Ayah, Bibi," sapa Soya pelan dan langsung mendekat.
Entah apa yang Soya bisikkan pada sang bibi, tetapi sang bibi langsung mengangguk saat Danendra menatapnya. Sang Bibi langsung tersenyum dan memandang Soya lekat.
"Non, pakai saja. Baju Bibi bahkan tambah lebih besar," bisik Bibi pelan dan itu membuat Soya langsung menunduk.
Makan malam berlalu begitu saja, Soya terlihat tak begitu menikmati makan malam, setelah membantu Bibi berberes, Soya memilih lebih dulu masuk dalam kamar.
Sementara Danendra memilih masuk ruang kerja bersama sang Ayah.
Di dalam kamar Soya langsung berusaha terlelap ada perasaan yang tak biasa yang Soya rasakan. "Semoga kutu kupret tak memperlakukan Soya seperti Non Nella," guman Soya lirih dan berusaha terpejam.
Soya semakin mengeratkan selimutnya saat mendengar pintu di buka dan tak lama di tutup kembali. Soya masih bisa merasakan saat Danendra menarik selimut untuk dirinya.
Soya semakin takut dan menegang hingga terdengar napas Danendra yang mulai teratur.
Perlahan Soya turun dari ranjang dan berjalan keluar, Soya melangkah menuju kamar sang Bibi dan mengetuknya perlahan. Sang bibi yang terkejut akhirnya hanya bisa pasrah saat Soya langsung berbaring dan tidur di kamar sang bibi hingga tak lama Soya sudah terlelap.
Sementara itu di dalam kamar Danendra yang terbangun sedikit terkejut saat melihat Soya tak di sisinya dengan kesal Danendra keluar setekah pencariannya di kamar mandi dan ruang lainya tak menemukan Soya, hingga pilihan terakhir Soya tertuju pada kamar sang Bibi. Danendra dengan pelan memanggil sang bibi, setelah berbicara beberapa saat sang bibi langsung mengangguk setuju.
"Tuan dan Nona ini memang ada-ada saja," guman sang bibi sembari membuka kamar satunya.
Sementara itu, Danendra memilih tidur di sisi Soya, Danendra kini tak bisa berkutik saat Soya dengan tiba-tiba memeluk erat sembari memanggil Bibi. Perlahan akhirnya Danendra kembali terlelap. pelukan hangat yang di terimanya semakin membuat Danendra nyaman.
Hingga pagi hari Danendra yang sudah terbangun lebih dulu sesaat tersenyum saat Soya masih memeluknya dan tidur dengan nyaman. Danendra masih menunggu beberapa saat untuk turun dari ranjang. Berusaha melepas pelukan Soya dan kembali masuk dalam kamarnya. Danendra kembali naik ke ranjangnya dengan senyum penuh kemenangan. "Terima kasih Soya kamu gadis yang aneh," guman Danendra kembali melanjutkan tidurnya.
Sang Bibi yang di dapur hsnya menggeleng heran dan tersenyum. "Akhirnya Tuan muda mendapatkan juga gadis yang sulit di taklukkan," ujar Bibi lirih sembari melakukan tugasnya.
Sang bibi sesaat terkejut saat melihat Soya dengan senyum merekah. "Pagi Bi, ada yang bisa Soya bantu," ujar Soya sembari tersenyum.
"Boleh, bantu saja Non. Wah ..., sepertinya Nona semalam tidur nyenyak," ujar Bibi sedikit keras sembari melihat ke arah Danendra yang sudah keluar dari kamar.
"Hiya Bi, semalam Soya tidur nyenyak, apalagi tubuh Bibi hangat sampai Soya enggan melepas pelukan Soya, terima kasih ya, Bi," ujar Soya tak menyadari jika Danendra sudah duduk di meja makan.
Sang Bibi sesaat menatap ke arah Danendra yang sedang tersenyum senang wajah yang jarang Bibi temui. "Sudah Non, Non mandi dulu," ujar Sang Bibi.
"Bi, Soya sudah mandi di kamar mandi Bibi," ujar Soya sembari mengerjakan sesuatu.
Sang Bibi kembali tersenyum ada gurat kebahagiaan yang Bibi rasakan, 'semoga semua berjalan dengan baik Soya bisa menerima Tuan muda dengan semua masa lalunya dan mencintai Tuan Muda apa adanya,' guman sang Bibi sembari menyerahkan sayur yang sudah masak pada Soya.
__ADS_1