
Soya langsung terbangun saat mendengar ketukan yang cukup keras dengan tergesa Soya membuka pintu. "Akh. Kak Zulhan, Kak Zulhan benar-benar menepati janji," ujar Soya sembari membuka pintu lebar-lebar.
"Masuk Kak, Soya mau mandi dulu, jangan bicara dulu," ujar Soya memutus ucapan Zulhan begitu saja dan berlalu pergi.
Zulhan hanya bisa tersenyum saat mendengar ucapan Soya, gadis yang sudah di anggap seperti adiknya sendiri. Hingga beberapa menit kemudian Soya sudah kembali keluar dengan wajah yang lebih segar, gadis polos bermata jernih meskipun kini kulitnya sudah berubah warna menjadi sedikit coklat tetapi tak mengurangi parasnya yang cantik.
"Kak!" panggil Soya membuyarkan pandangan Zulhan.
Zulhan yang tertangkap basah sedang menatap Soya akhirnya tersenyum kikuk untuk menutupi rasa malunya.
"Kak Zulhan ini masih pagi, jangan melamun Kak," ujar Soya sembari duduk bersimpuh di dekat Zulhan.
"Ada Apa kak?" tanya Soya akhirnya.
"Eh, hiya. Soya ini tentang ... " ucapan Zulhan terhenti saat Soya tersenyum.
"Akh, Soya sudah tahu, pasti ini tentang bunga yang di naikkan lagi, bilang saja pada kutu kupret itu Kak. Naikkan saja setiap hari, meskipun begitu tak berpengaruh pada Soya. Soya akan membayar semampu Soya. Mulai sekarang Soya tak ingin di tindas Kak," ujar Soya tegas.
Zulhan yang mendengar Soya cerita hanya bisa tersenyum saat memanggil Danendra kutu kupret.
"Kak Zulhan pulang saja Soya mau berangkat," ujar Soya sembari berdiri.
Zulhan seketika berdiri tetapi, Zulhan menahan langkahnya sejenak. "Soya, hati-hati jangan pulang terlalu malam," ujar Zulhan pelan dan tak lama pergi begitu saja.
Soya hanya tersenyum, sesaat matanya mengembun tak menyangka masih ada orang yang memperhatikan dan mengkhawatirkan keadaannya. "Terima kasih Kak," cicit Soya lirih sembari menutup pintu.
Pagi ini secara tak sadar ucapan Kak Zulhan memberi semangat tersendiri untuk Soya. Bu Muji sedikit heran saat melihat perubahan Soya, tetapi sebisa mungkin bu Muji menahan ucapannya untuk bertanya.
"Bu, Soya berangkat," tutur Soya setelah menyelesaikan hitungannya.
__ADS_1
"Soya!" panggil bu Muji tiba-tiba.
"Ya, Bu!" jawab Soya sembari berhenti.
"Berangkat saja Soya, nanti sepulang kamu berjualan ibu akan bicara," ujar bu Muji.
"Akh, Ibu. Bikin Soya penasaran saja," ujar Soya tak urung melanjutkan langkahnya.
Pagi ini perasaan Soya sedikit tenang, jualan yang terasa cepat membuat Soya semakin tersenyum. "Alhamdulillah," ujar Soya saat melihat kue yang di jualnya habis.
Soya memilih kembali ke rumah bu Muji masih ada waktu hampir dua jam untuk Soya beristirahat sebelum nanti kembali berjualan di perempatan. Namun, Soya menghentikan niatnya begitu saja. "Dua jam ke depan, mungkin akan menambah penghasilan hari ini," guman Soya semangat.
"Kamu enggak istirahat dulu Soya?" tanya bu Muji. "Enggak, Bu. lumayan masih ada waktu lebih siang ini. Oh. Ya Bu, tadi pagi Ibu ingin mengatakan apa," ujar Soya menatap sejenak ke arah bu Muji sembari tangannya terus bekerja.
"Soya, boleh Ibu bertanya?" tanya bu Muji hati-hati.
"Tanya saja Bu!" jawab Soya.
"Enggaklah Bu! Tanya saja, pasti akan Soya jawab.
"Maaf, Soya. Apa kamu tak berniat untuk berumah tangga?" tanya bu Muji tiba-tiba.
Soya seketika menghentikan kegiatannya, menatap lekat ke arah bu Muji cukup lama Soya terdiam tanpa suara hingga yang terlihat hanya senyum Soya yang tersungging.
"Soya masih ingin menikmati masa mudah Soya, lagipula siapa yang mau debgan gadis jelek dan banyak hutang ini Bu, pemikiran Soya belum sampai ke arah sana," jawab Soya.
"Soya tak berani bermimpi Bu, Soya takut," jawab Soya ulang.
"Soya paling tidak, akan ada yang membantu Soya," tutur bu Muji lagi.
__ADS_1
Soya hanya tertawa lirih saat mendengar ucapan bu Muji, "akh, bu Muji jangan mengada-ada. Soya sudah memutuskan untuk mandiri. Soya berangkat Bu," ujar Soya akhirnya memutus pembicaraan mereka.
Bu Muji hanya menatap Soya dan tak berapa lama bu Muji tersenyum, "Soya, semoga kebahagian nanti akan datang dan kamu bisa segera menyelesaikan semua beban kamu," ujar bu Muji lirih.
Keluar dari rumah bu Muji Soya menghentikan langkahnya, sesaat Soya menghembuskan napas berat, "huufftt ..., apa Soya terlalu menjadi beban," ujar Sota lirih sembari melanjutkan langkahnya.
Tiba di perempatan tempat Soya, melirik jam yang berada di toko di mana Soya berjualan. Senyum Soya tersungging saat menyadari sepuluh menit lagi pegawai toko dan karyawan kantor akan keluar untuk makan siang. Soya hanya bisa tersenyum kecut saat Soya mengingat kembali cita-citanya yang kandas, harapan besar ingin bekerja di kantoran atau paling tidak bekerja di toko dengan memakai seragam rapi dan wangi.
"Soya, tolong bungkus kuenya sepuluh biji," ujar salah satu pelanggan Soya sembari mengulir ponselnya.
"Oh. hiya Mbak," jawab Soya sedikit terkejut.
"Enggak, baik melamun Soya," ujar pelanggan Soya menggoda.
Soya hanya menanggapi godaan pelanggan dengan tersenyum, tangan Soya tak henti meladeni para pembeli meskipun mereka hanya membeli satu atau dua kue, tetapi Soya bersyukur jika uang yang terkumpul bisa untuk membayar hutang. Hingga tak berapa lama Soya terkejut saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan di mana Soya berdiri.
Soya mundur beberapa langkah untuk menghindar. Soya seketika menatap tak suka dan melotot. "Hati-hati Pak," seru Soya geram.
Soya yang marah seketika menciut nyalinya dan langsung mundur lagi beberapa langkah saat Soya melihat sosok laki-laki yang sudah berumur keluar dari mobil, berpakaian sederhana, memakai celana pendek dan kaos serta memakai sandal jepit tubuh yang tidak begitu tinggi dan sedikit gemuk. Soya semakin menunduk dan menyadari bahwa beberapa menit yang lalu Soya telah menghardik laki-laki kaya ini. Soya kembali mundur ketakutan, "maaf, Tuan. Saya tidak tahu," ujar Soya lirih.
"Maaf. Tuan, maafkan ucapan saya tadi," ujar Soya, saat laki-laki ini makin mendekat.
Soya makin menunduk dan tak ayal tingkah Soya membuat laki-laki ini tersenyum, hingga cukup lama laki-laki menatap wajah Soya dan memindainya dari atas ke bawah.
"Nona jangan takut, saya tak marah," ujar laki-laki ini tiba-tiba.
Soya langsung mendongak menatap wajah laki-laki ini lekat. "Maaf. Saya tadi hanya terkejut, maafkan ucapan saya yang keluar begitu saja," ujar Soya malu.
Sesaat laki-laki ini tertawa terbahak. "Sudah, ternyata kedatangan saya mengejutkan Nona," ujar laki-laki ini lagi.
__ADS_1
Soya langsung bernapas lega, mendengar ucapan laki-laki ini. "Anda membuat saya takut Tuan," ujar Soya sembari tersenyum.
Tak berapa lama laki-laki ini mendekat, "eh. kenapa Tuan mendekat," ujar Soya terkejut.