
Selama dalam perjalanan pulang Zulhan yang menggeleng heran, kecemburuan Danendra yang tak berasalan membuatnya berulang kali berdecak kesal, sementara Soya hanya diam dan memandang ke luar jendela. Berulang kali Soya menghela napas membuang semua perasaan yang tiba-tiba membuat hatinya resah. Pandangan Soya terputus saat tangan Danendra memegang erat. "Tuan. Ada apa kenapa Tuan berkeringat?" tanya Soya terkejut dan memandang Danendra cemas.
"Kak Zulhan, berhenti dan menepi lihat keadaan Tuan saat ini sedang tak baik-baik saja," tutur Soya kembali khawatir.
Zulhan seketika menepi dan melaju perlahan.
"Danendra, kita lanjutkan perjalanan atau kita kembali ke rumah sakit?" tanya Zulhan dengan heran.
"Kita pulang Zulhan. Hanya badan saya saja yang merasa tak nyaman, tolong kamu ubah posisi kursi mobil agar saya bisa merebahkan tubuh," ujar Danendra pelan.
Mendengar ucapan Danendra seketika Zulhan turun, Zulhan menunggu beberapa saat hingga Soya turun. Zulhan dengan cekatan langsung membantu Danendra, setelah semuanya selesai Zulhan menatap sejenak Soya dan Danendra bergantian untuk beberapa saat.
"Danendra, sebaiknya kalian pulang ke toko saja, sampai semuanya beres dan luka bekas operasi kamu sembuh," kata Zulhan sembari melajukan mobil dengan perlahan.
Zulhan sedikit terkejut saat tiba di toko kue yang Soya kelola. Menghentiksn mobil sedikit menjauh. "Ada apa Kak?" tanya Soya heran.
"Entalah, sepertinya ada keributan. Lalu, ke mana Tuan besar?" tanya Zulhan penasaran.
"Soya, kamu awasi Danendra saya akan mencari tahu," ujar Zulhan sembari ke luar dari mobil.
Zulhan hanya bisa menggeleng tak percaya dengan apa yang di lihatnya, semua kue dan beberapa perabot toko sudah berhamburan.
Karyawan toko yang rata-rata cewek hanya busa diam dan menunduk takut. Terdengar suara teriakan seorang wanita yang begitu khas dan Zulhan kenal. "Wah, hebat kamu Nella, apalagi yang kamu kejar," ujar Zulhan tiba-tiba dan itu sangat mengejutkan Nella
Nella dengan emosi yang meluap-luap lalu menatap Zulhan tajam, ada rasa kebencian yang terpancar dari sorot matanya. Nella dengan emosi yang memuncak langsung menghampiri Zulhan. "Mana Danendra dan wanita si****an itu!" pekik Nella marah.
__ADS_1
"Zulhan! Katakan di mana Danendra!" teriak Nella ulang sembari mengguncang tubuh Zulhan berulang-ulang.
Zulhan masih membiarkan ulah Nella, hingga Nella menghentikan semua tingkahnya, perlahan napas Nella yang memburu berangsur mereda tak ada tangisan atau air mata hanya tatapannya yang terus nyalang marah. "Puas! Sudah puas kamu marah dan apa hak kamu untuk marah!" ujar Zulhan tegas dan tak urung tersulut juga emosinya.
Perlahan Nella menurunkan tangannya dan menatap Zulhan. "Seharusnya yang marah adalah Danendra, dan kamu tahu jika Danendra mau, hanya dengan mengangkat satu jarinya bisa membunuh kekasih kamu, Rengga," seru Zulhan geram.
Mendengar ucapan Zulhan Nella lalu mundur beberapa langkah menatap tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Kamu-kamu, bicara apa Zulhan?" tanya Nella bingung.
"Wah, jadi Rengga, kekasih kamu belum menceritakan apa yang terjadi? Hebat! Lalu kamu percaya begitu saja?" tanya Zulhan pelan.
Nella semakin mundur dan menjauh dari awal dia berdiri. "Duduklah dan akan saya jelaskan!" pinta Zulhan lirih.
Nella masih dengan sikapnya, tetapi netranya kini lebih meredup dan tenang. Perlahan Nella duduk di tempat yang sedikit jauh, terlihat jelas jika Nella sedang mengatur napasnya dan meredakan emosi. Zulhan yang melihat perubahan sikap dari Nella seketika tersenyum, "sudah bisa saya mulai bercerita?" tanya Zulhan tenang.
Di sisi lain Nella hanya mengangguk pasrah, seakan semua kekesalan dan amarahnya lenyap seketika. Zulhan perlahan menceritakan semua yang terjadi tanpa di kurangi ataupun di tambah, secara detail Zulhan menceritakan apa yang terjadi hingga beberapa saat kemudian Zulhan menghentikan ceritanya dan menatap Nella lekat. "Bagaimana, apa kamu paham dan apa yang kamu peroleh dari hubungan kamu dengan Rengga, Nella semua kejadian ini sumbernya berawal dari kamu, bahkan Danendra sengaja menutup matanya demi melihat kamu bahagia dan saya tak bisa menjamin saat ini, bukan Danendra yang akan menghukum kekasih kamu melainkan Tuan besar," tutur Zulhan akhirnya.
"Ya. Nella, tetapi Danendra tak akan menghukum kekasih kamu bahkan Tuan besar, karena mereka tak ingin memperkeruh suasana dan kamu tahu Nella, sebenarnya Tuan besar hanya ingin kamu sadar jika Danendra sudah melepas cintanya pada kamu. Tolong pahami ini, jika kamu mengerti pergilah! Danendra juga butuh istirahat!" usir Zulhan akhirnya.
"Zulhan, tetapi ...."
"Apa, apa yang membuat kamu belum ikhlas melepas Danendra, Danendra sendiri kini sudah sadar jika cintanya yang dulu berlabuh di tempat yang salah dan dia sudah paham dan bisa melepas kamu," ujar Zulhan akhirnya.
Nella kembali menghela napas panjang dan mengembuskannya pelan. "Maaf, tolong sampaikan pada Danendra, saya memang serakah Zulhan dan terlalu egois," ujar Nella akhirnya sembari berdiri dan kemudian meletakkan sesuatu di meja.
Zulhan hanya memperhatikan kepergian Nella dengan tatapan lega. "Akhirnya kamu paham Nella dan semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu begitu juga dengan Danendra," guman Zulhan lirih dan paham akan kejadian ini.
__ADS_1
Selepas kepergian Nella Zulhann hanya bisa menggeleng saat melihat keadaan toko yang kacau balau. "Huuufff ...." Guman Zulhan pelan.
"Mbak. Tolong bereskan toko dan ajak teman yang lainnya," ujar Zulhan memberi perintah sembari menatap ke arah seorang gadis yang sedari tadi menunduk takut.
"Mbak!" panggil Zulhan ulang.
"Ya. Tuan!" jawab gadis ini sembari mendongak dan menatap Zulhan.
"Mm .... itu. Paham, 'kan? Apa yang saya ucapkan tadi?" tanya Zulhan yang tiba-tiba kikuk.
"Siap, Tuan!" jawab gadis ini sembari menoleh ke teman yang lainnya.
Zulhan yang tiba-tiba kikuk di depan gadis ini, kini memilih kembali menuju mobil dengan senyum lega. Hingga langkah Zulhan berhenti di depan mobil dan tak lama dan kembali melajukan mobil. "Zulhan berhenti dan ceritakan apa yang sedang terjadi," ujar Danendra sembari meringis dan tangannya yang masih terus memegang tangan Soya.
"Hm .... ternyata ada yang masih penasaran dengan mantan," seru Zulhan menggoda.
Mendengar jawaban Zulhan Danendra langsung melotot marah, tetapi berbeda dengan Zulhan yang terus tertawa dan seakan puas sudah mengerjai Danendra.
Sementara itu, Soya masih dengan diamnya dan menatap ke arah Zulhan dan Danendra bergantian untuk beberapa saat. "Kak, memang mantan Tuan ada berapa?" celetuk Soya akhirnya.
"Soya ...."Panggil Danendra lirih.
"Eh. Hiya, Tuan. Memangnya mantan yang mana Kak? Clara atau Nella?" tanya Soya akhirnya.
Zulhan yang mendapat pertanyaan dari Soya, akhirnya tertawa terkekeh untuk beberapa saat. "Soya, kamu tahu yang datang ke toko kue milik kamu adalah mantan terindah Danendra. Nella, Soya" Ujar Zulhan sembari tertawa.
__ADS_1
"Ash! Kalian," jawab Danendra marah.