
Soya yang sedari tadi terkejut kini sedikit merasa lega saat melihat Zulhan dan Sekar masuk dalam rumah. Diandra duduk dengan takut akhirnya bisa tersenyum juga, menatap ke arah Kak Zulhan. Tatapan yang tak pernah Diandra tunjukkan, dirinya terus menatap ke arah Kak Zulhan untuk beberapa lama dan kembali menatap ke arah sang ibu.
"Bu, kenapa Ibu tak pernah berjalan seperti itu dengan Ayah Hazal?" tanya Diandra tiba-tiba dan itu membuat Soya dan yang lainnya terkejut.
Wajah Soya seketika memerah dan tak menyangka jika Diandra akan bertanya akan hal seperti itu. Soya merasa benar-benar terpukul dengan pertanyaan si kecil, tetapi Soya segera tersenyum untuk menutupi rasa terkejutnya. Perlahan sang ibu meraih tubuh Diandra dan memeluknya erat untuk beberapa saat hingga panggilan Zulhan mengejutkan dirinya.
"Diandra, kemari sama Om, kita jalan-jalan yuk! kita ke rumah Nek Muji," ajak Zulhan sembari tersenyum.
Lepas dari pelukan sang ibu, senyum Diandra seketika melebar dengan mata berbinar Diandra mengangguk dan menghiyakan ajakan Zulhan. "Bu, bolehkan Diandra ikut Om Zulhan," pintanya pelan.
Soya seketika menatap Zulhan seakan meminta penjelasan dan ajakan yang tiba-tiba. Merasa diperhatikan dengan tatapan tajam dirinya langsung mendekat dan tersenyum. Zulhan langsung mendekat dan berbisik ke telinga Soya.
"Diandra. Ayo, kita berangkat biarkan Ibu di rumah bersama Tante sekar," ujar Zulhan sembari menggendong tubuh Diandra.
Soya akhirnya hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Zulhan, benar ucapan Zulhan, Diandra akan terus bertanya tetntang hal-hal yang tak pernah ditemuinya.
"Diandra hati-hati," tutur Soya akhirnya.
__ADS_1
Sementara itu, bibi hanya menggeleng dan menuju dapur. "Bi, tolong Bibi ikut Diandra saya khawatir jika nanti dia rewel," pinta Soya mengejutkan.
"Tapi Non, mereka sudah berangkat," jawab sang bibi.
"Belum Bi, itu suara mereka masih terdengar," sahut Soya memastikan.
"Nak Zulhan tunggu!" teriak sang bibi sembari mengejar langkah Zulhan.
Sementara itu Soya hanya bisa melihat kepergian Diandra. Soya merasa tertampar dengan kejadian tadi hanya napasnya saja yang berembus berat, satu-satunya hal yang bisa dilakukan saat ini. Ada perasaan yang tiba-tiba mengiris hatinya semua kejadian dan keegoisan dan sifat keras kepalanya.
"Sekar, saya ingin istirahat dulu, maaf jika kita belum sempat berbincang," tutur Soya pelan.
Soya menghentikan langkahnya sejenak dan melihat ke arah Sekar. "Ya." Soya menjawab.
"Maaf, Bu. Jika Ibu tidak keberatan ada yang ingin saya sampaikan," beo Sekar.
"Bicara saja Sekar," jawab Soya sembari berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
Sekar sejenak menatap ke arah Soya tak lama Sekar menunduk dan mengembuskan napas berat. Sekar masih diam untuk beberapa saat dan menunduk seakan ragu untuk menceritakan akan maksudnya.
"Bu .... "Panggil Sekar akhirnya.
"Bu, saya minta maaf jika ... saya sudah tak berbicara jujur," jelas Sekar pelan.
"Maksud kamu apa, Sekar?" tanya Soya heran.
"Mm ... apa Ibu akan marah jika mendengar cerita saya," ungkap Sekar takut.
Soya langsung menatap Sekar, ada hal tang tak bisa dirinya mengerti akan sikap Sekar. Hingga akhirnya Soya terkejut saat Sekar sudah duduk bersimpuh di bawahnya.
"Ma-maafkan saya Bu, bukan maksud saya untuk menutupi semua yang terjadi," papar Sekar.
"Eh ... jangan begini. Ayo, bangun Sekar," titah Soya sembari mengangkat tubuh Sekar.
Sekar dengan takut duduk di sisi Soya dengan sesekali mengusap perutnya. Sekar sesaat termenung menatap ke arah halaman dan kemudian menunduk kembali. "Bu. Maaf ini tentang Pak Danendra," tutur Sekar pelan.
__ADS_1
Soya yang mendengar ucapan Sekar seketika menatap tak percaya dan melihat Sekar dengan gusar. Soya berkali-kali membuang napas kasarnya dan seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Sekar ... apa maksud kamu?" tanya Soya tak percaya.
"Ya, Bu. Saya tak mengada-ada," jawab Sekar yakin.