RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 50. Kemarahan Danendra


__ADS_3

Soya dan Nella hanya saling menatap. "Non sebaiknya Non pikirkan keinginan Tuan muda," bujuk Soya pelan sembari berdiri dan membersihkan meja makan dan merapikan dapur hingga semuanya beres, kemudian Soya memilih untuk masuk dalam kamarnya.


Sementara itu, Nella hanya diam membisu seakan ada beban tang berat untuk menghiyakan permintaan Danendra. 'Haruskah saya berbicara jujur dan apa Danendra akan memaafkan saya?' tanya hati Nella.


Waktu seakan berhakan begitu cepat, Nella dengan tubuh menengang masih duduk di tempatnya dengan pikiran yang terus berkecamuk dan bimbang. "Akh, sebaiknya saya menerima saja," guman Nella akhirnya.


Nella yang akan beranjak dari duduknya seketika mengurungkan niatnya saat melihat Danendra turun dari lantai atas. Danendra saat ini turun dengan membawa tas kecil.


"Bagaimana Nella, apa kamu sudah menyiapkan jawabannya?" tanya Danendra sembaru memindai area dapur.


"Soya ...!" teriak Danendra keras hingga terulang dua kali.


Soya yang sempat tertidur bergegas bangun dan keluar dari kamar, melihat tatapan marah dari Danendra Soya langsung mendekat.


"Duduk!" perintah Danendra.


Soya dengan patuh langsung mengikuti perintah Danendra. "Bagaimana, Nella?" tanya Danendra.


Nella yang merasa terpojok akhirnya tersenyum untuk menutupi ke gugupannya.


"Sa-sayang, saya bersedia menjadi istri kamu," jawab Nella terbata.


Danendra yang mendengar jawaban Nella langsung tertawa keras dan itu membuat Nella dan Soya langsung menatap heran.


"Kenapa, kamu merasa tak senang dengan tertawa saya?" tanya Danendra tak suka.


Nella langsung menatap Danendra heran dan merasa bingung dengan sikap Danendra.


"Terima kasih Nella, tetapi sayang waktu kamu sudah habis dan jujur saya menolak dan tak ingin mengambil kamu sebagai istri," jawab Danendra tiba-tiba dan itu membuat Nella langsung meradang.


"Danendra, apa maksud semua ini. Hah! Apa maksud kamu sebenarnya?" tanya Nella emosi.


Danendra kembali tertawa puas hingga beberapa detik kemudian. "Wah-wah hebat, ternyata ada yang tak terima dengan keputusan yang saya buat," ujar Danendra.


"Kamu! kamu mempermainkan saya dan saya tak terima ini," ujar Nella marah.


"Tapi, saya mencintai kamu sayang," ujar Nella berusaha meyakinkan Danendra.


"Cinta?"

__ADS_1


"Lalu apa bisa saya minta bukti jika kamu mencintai saya?" tanya Danendra.


"Sayang, kita sudah sepakat akan hal itu," ujar Nella terpojok.


Danendra seketika menatap nyalang ke arah Nella. "Apa bisa saya percaya?" tanya Danendra kesal.


Nella yang merasa terpojok kini hanya bisa berusaha mengulur saja kemudian berdiri dari duduknya. Nella dengan sengaja memberikan ciuman di bibir Danendra untuk menenangkan hati Danendra yabg sedang tersulut emosi.


Sementara itu, Soya langsung memejamkan mata. Hingga terdengar teriakan Nella yang membuat Soya kembali membuka matanya.


Saat ini Soya melihat Danendra yang tengah mendorong tubuh Nella hingga merapat ke dinding. "Siapa yang mengijinkan kamu untuk mencium Nella, dasar ***," umpat Danendra marah.


"Ayo, buktikan jika kamu sudah berlaku jujur," ujar Danendra marah sembari menyeret Nella menuju lantai atas.


Soya yang sejak tadi memperhatikan sikap arogan Danendra. "Tuan, hentikan saya mohon!" pinta Soya keras.


"Hentikan! Saya tak akan berhenti," ujar Danendra sembari menatap Soya lekat.


"Saya mohon Tuan, kasihan Non Nella, dia juga wanita seperti saya," ujar Soya kembali memohon.


Danendra yang mendengar Soya terus memohon akhirnya melepaskan Nella. "Kalau bukan Soya yang memintanya, saya pasti sudah menghukummu dan hukuman yang pantas untuk semua kelakuan kamu, mulai hari ini kita tak ada hubungan apa-apa kita selesai."


"Tapi. Sayang, selama ini saya susah berlaku jujur," seru Nella ngotot.


Namun, tak lama kemudian Danendra tersenyum sembari mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. "Ini yang kamu bilang jujur," ujar Danendra sembari melempar beberapa foto ke arah Nella.


Soya yang melihat foto yang berserekan di depannya hanya bisa menatap tak percaya.


"Astafirullah Non, Non ini apa?" tanya Soya tak paham.


Danendra yang baru paham akan posisi Soya langsung merampas foto yang di lihat Soya dan menutup mata Soya.


"Akh, Tuan! Kenapa Tuan menutup mata Soya," ujar Soya marah dan menepis tangan Danendra.


Nella kini hanya bisa menatap foto yang tak pernah bisa Nella bayangkan jika akhirnya Danendra mengetauhi semua kecurangannya.


"Bagaimana, apa kamu tak terima," ujar Danendra sembari tersenyum puas.


"Oh. Ya, beruntung ayah kamu mau mengganti kerugian yang kamu buat, terima kasih Nella akhirnya saya sadar siapa kanu sebenarnya dan penggelapan uang di kantor saya semua yang bersangkutan sudah membayar dan sekarang tinggal kamu Nella," ujar Danendra sembari menatap dan duduk.di sisi Nela.

__ADS_1


"Hem. Melihat ulah kamu yang seperti ini mungkin ada baiknya saya melempar tubuh kamu ke laki-laki hidung belang," ujar Danendra sembari berbisik di telinga Nella.


"Saya mohon jangan lakukan itu. Saya mengaku salah, saya mohon lepaskan saya dan kekasih saya," ujar Nella memelas.


Soya yang sedari tadi menjadi orang ke tiga di antara mereka langsung mendorong tubuh Danendra dan menatap tajam. "Tuan diam di situ dan Non Nella cepat berdiri dan segera bereskan foto Nona," ujar Soya kesal.


Danendra yang mendapat teriakan dari Soya seketika menatap tak suka. "Hash ..., Tuan malah melotot, Tuan tahu perbuatan Tuan sungguh tak sopan," ujar Soya ganti melotot.


Danendra lsngsung berdiri sementara Nella sibuk membereskan foto yang berserakan dan di bantu dengan Soya. "Lagipula ini foto kok pada enggak pakai .... "Soya langsung menghentikan ucapannya saat Nella menatap tak suka.


"Diam dan jangan ikut campur," ujar Nella tak terima.


Nella yang sudah tak punya muka langsung berdiri dan bersiap pergi. "Ee ..., tunggu jangan pergi dulu!" ujar Danendra berusaha menghentikan langkah Nella.


"Itu, alamat di mana kekasih kamu di rawat dan beruntung dia masih selamat dan ucapkan terima kasih pada Ayah kamu dan satu hal yang harus kamu tahu, Nella sata sydah menikah dan untuk ke depannya tolong jangan ganggu pernikahan saya," ujar Danendra merasa lega.


Nella langsung menatap Danendra tak percaya. "Danendra, saya tak sakit hati tetapi yang membuat saya sakit hati karena kamu sudah mempermalukan saya dan melukai kekasih saya," ujar Nella marah.


Nella hanya mendengus kesal sembari melangkah. "Nella, apa kamu tak ingin mengetauhi siapa istri saya?" tanya Danendra mencoba untuk mengusik amarah Nella lagi.


Nella langsung menatap Danendra, Nella sadar jika hatinya sekarang begitu sakit saat Danendra mencampakkannya saat Nella bersedia menjadi istrinya. Nella langsung menatap nyalang ke arah Danendra.


"Kenalkan nama istri saya dan ini bukti bahwa kami sudah menikah sah," ujar Danendra sembari menunjukkan dua buku nikah.


"Soya adalah istri saya," ujar Danendra bagai petir yang menyambar di malam hari.


"Ka-kamu, istri Danendra," ujar Nella tak percaya.


Nella langsung tersenyum sinis dan menatap Soya lekat. "Selamat Soya," ujar Nella mendekat tetapi bukan menyalam pada Soya melainkan.


Plaak


Plaak


Dua tamparan langsung melayang di wajah Soya, Nella dengan senyum puas langsung pergi bergegas menuju luar dan tak lama terdengar suara mobil melaju.


Sementara Danendra langsung memburu ke arah Soya.


"Jangan mendekat Tuan, Tuan membuat saya kecewa," ujar Soya sembari berlari masuk dalam kamar dan menguncinya rapat.

__ADS_1


Danendra yang memburu langkah Soya akhirnya terhenti di depan pintu kamar Soya.


"Soya, buka pintu Soya. Saya bisa menjelaskan semua ini!" teriak Danendra berulangkali.


__ADS_2