
Soya tak menyadari jika Danendra akan berlaku lembut padanya, lamaran dadakan yang di nyatakan Danendra secara tiba-tiba semakin membuat dirinya yakin dan memantapkan hati jika perasaan yang diam-diam di rasakan ternyata tak salah.
"Hati-hati Soya, saya akan pulang! Bagaimana jika kamu ikut pulang?" tanya Danendra sembari memeluk erat sang istri.
"Soya, kita pulang sama-sama!" titah Danendra akhirnya.
"Tuan. Jika saya pulang bagaimana dengan Toko, Anak-anak, kasihan mereka," ujar Soya lirih.
Mendapat jawaban dari sang istri Danendra tersenyum, menatap manik yang menatapnya lekat. "Serahkan saja semuanya pada orang yang kamu percaya dan kamu anggap bisa memegang tanggung jawab ini," tutur Danendra pelan.
"Tapi, Tuan!" ujar Soya keberatan.
"Hm ..., jangan pernah menolak Soya!" pinta Danendra.
Soya masih terdiam. "Saya akan menunggu Tuan, karena masih ada hal yang harus saya selesaikan. Setelah semua beres saya janji akan mengikuti kemanapun Tuan pergi," tawar Soya lagi.
"Hm ..., baiklah. Hati-hati!" ujar Danendra akhirnya.
Kepulangan Danendra menyisakan perasaaan tersendiri, ada perasaan yang tertinggal pagi ini. Perasaan khawatir dan tak rela melepas begitu saja kepergian sang suami.
Menatap nanar hingga mobil melaju makin menjauh, tetapi di balik tatapan Soya ada seseorang yang menatapnya penuh dendam, seakan ada rasa sakit hati yang begitu mendarah daging. "Akhirnya," hanya ini yang keluar dari bibir seseorang yang sedari tadi melihat dari jauh.
Soya seketika terkejut saat ada yang menarik tangan dan kemudian menarik tubuhnya dengan kasar.
"Tolong ....!"
Teriak Soya keras dan itu membuat para karyawan berhambur keluar dan berusaha mengejar, tetapi langkah mereka terpatahkan saat laki-laki ini menodongkan pisau pada perut Soya perlahan mereka mundur mencari waktu yang tepat untuk bertidak. "Jika kalian maju, maka tamat riwayat wanita ini," sergah laki-laki ini kasar sembari menyeret tubuh Soya makin menjauh. Hingga tak lama laki-laki ini sudah mendorong tubuh Soya masuk dalam mobil dengan kasar dan tawa keras.
Namun, belum juga laki-laki ini melajukan mobilnya dari arah lain datang mobil dengan kecepatan tinggi dan menghadang mobil yang akan melaju. "Shiit!" umpat laki-laki ini kesal dan kembali menarik Soya keluar dari mobil, jalanan yang sedikit ramai menjadi macet karena kejadian ini. Soya hanya bisa meringis takut saat pisau berubah menempel di leher.
"Rengga, lepaskan wanita itu!" Pekik Danendra keras dan melangkah maju.
__ADS_1
Rengga yang menyadari siapa yang tengah berdiri di depannya semakin menekan pisau yang di pegangnya.
Suasana semakin tegang saat beberapa pegawai Danendra datang. Danendra yang menyadari bahwa situasi saat ini tak nyaman untuk Soya akhirnya Danendra menyuruh mereka untuk diam dan berjaga-jaga.
Danendra makin melangkah maju dan Rengga semakin menyeret Soya dan makin menekan pisau yang di pegangnya.
Rengga tertawa saat melihat Soya ketakutan sementara Danendra tengah mengatur siasat untuk melumpuhkan Rengga.
"Kenapa kamu ingin mencelakai wanita itu?" tanya Danendra berusaha untuk tenang.
Rengga yang kini tengah di puncak emosi hanya tertawa keras dan makin menarik tubuh Soya. Soya yang sedari tadi merasa ketakutan akhirnya berusaha untuk melawan rasa takutnya. perlahan Soya berusaha memberanikan diri mencari celah untuk keluar dari ancaman Rengga.
"Cih!Ternyata kamu sudah melupakan apa yang terjadi?" tanya Rengga tak terima.
"Lalu, apa mau kamu sekarang?" tanya Danendra lagi.
"Saya ingin wanita ini juga merasakan sakit," ujar Rengga sembari menatap Soya dan sedikit melonggarkan pisau yang di pegangnya.
"Bagaimana cantik, kamu juga pasti masih gadis, lihat tubuh kamu gemetar," ujar Rengga sembari berusaha mencium Soya.
Sementara itu, Soya yang melihat Rengga menoleh langsung menghantam kepala Rengga dengan kepalanya dan itu membuat Rengga reflek melempar pisau yang di pegangnya.
"Kamu!" geram Rengga marah dan menarik rambut Soya hingga kepalanya tertarik ke atas. Soya sesaat meringis menahan sakit tetapi tak urung juga bibirnya berucap.
"Bunuh saja saya, jika itu bisa membuat hati kamu lega dan bisa membalas dendam atas perbuatan yang tak pernah saya lakukan," ujar Soya tercekat dan suara gemetar.
Rengga yang emosi langsung melepaskan tangannya dan serta merta menampar Soya keras. "Terima kasih, tamparan ini akan terus mengingatkan saya akan keculasan Anda, ternyata Anda dan Nella sama. Sama-sama pencuri!" Pekik Soya keras.
"Kamu ...!" teriak Rengga keras.
Danendra yang melihat situasi sedikit berubah tanpa mengulur waktu.
__ADS_1
Bugh
Bugh
Pukulan bertubi-tubi akhirnya kembali mendarat di tubuh Rengga.
"Sekarang lawan kamu adalah saya!" tantang Danendra.
Rengga yang pernah merasakan hukuman dari Danendra hanya tersenyum dan meraih sesuatu di sakunya. Tanpa banyak bicara Rengga langsung maju merangsek memeluk tubuh Danendra dan tak lama terdengar suara Danendra mengadu kesakitan dan tubuh Danendra sudah terjatuh bersimbah darah.
Melihat Danendra jatuh dan bersimbah darah
Rengga yang merasa puas sudah melakukan hajatnya kini hanya bisa menatap sembari tertawa keras dan tak melawan saat beberapa pegawai Danendra menangkapnya.
"Mampus! Matilah kamu!" hardik Rengga keras dan terus berteriak mengumpat kasar.
Soya yang melihat Danendra bersimbah darah langsung memburu tubuh yang terlentang tak berdaya. Tangis Soya sudah luruh begitu saja dan pasrah saat beberapa warga dan karyawannya membantu untuk berdiri dan mengangkat tubuh Danendra dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan Soya memegang perut Danendra dengan tangannya, darah yang sudah merembes keluar dan membasahi tangan Soya. "Tuan, bertahanlah Tuan. Sebentar lagi kita sampai, Tuan-Tuan jangan buat saya khawatir," seru Soya terus berulang-ulang.
Hingga mobil berhenti di rumah sakit dan tak lama datang beberapa perawat yang membantu dan menangani Danendra.
"Sebaiknya Anda menunggu di depan, karena kami akan merawat luka suami Anda dan semoga semuanya baik-baik saja," ujar salah satu perawat.
Soya hanya menurut saja hingga kedatangan beberapa pegawai Danendra dan Zulhan. "Kak Zulhan!" panggil Soya dan langsung menangis menumpahkan segala resah di hatinya.
Cukup lama Soya menangis, hingga tepukan lembut membuatnya terkejut. "Sudah. Jangan menangis, doakan saja Danendra lekas membaik," ujar Zulhan pelan.
"Soya, saya sudah memberi kabar Tuan besar dan kita berdoa saja, semoga operasi kecil Tuan muda segera selesai," ujar Zulhan pelan.
Soya hanya mengangguk pasrah, hingga dua jam kemudian pintu ruang operasi sudah terbuka, satu Dokter sudah keluar dan tak lama beberapa perawat sudah mendorong tubuh Danendra dengan perlahan.
__ADS_1
Wajah memucat dan mata terpejam membuat Soya semakin khawatir, mengekor langkah kaki sang perawat. "Kak Zulhan apa Danendra baik-baik saja?" tanya Soya pelan.
"Kita berdoa saja, semoga Danendra segera siuman dan baik- baik saja," ujar Zulhan dan terus mengekor langkah sang perawat.