RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 26. Bagaimana


__ADS_3

Soya, masih dalam dilema, sudah dua hari Soya mengurung diri di kamar hanya menangis, Soya seakan tak percaya menghadapi kenyataan bahwa sang bapak begitu tega terhadap dirinya.


Melihat sang bibi masuk Soya langsung mengikis air matanya, "Bi," panggil Soya sembari memeluk wanita yang beberapa hari ini menemaninya. " Non Soya, berpikirlah jernih, memang semua terlihat begitu sulit, tetapi Non Soya juga harus menilai kebaikan Tuan besar dan Tuan muda," ujar sang bibi sembari mengikis air mata Soya dan menangkup wajah sembab Soya. "Non Soya jika Tuan besar dan Tuan muda jahat mereka pasti akan melaporkan Nona dengan kasus penipuan," tutur sang bibi.


"Sekarang Nona mandi, ingat Non. Tuan muda tak sejahat yang Nona pikirkan, biasannya Tuan muda akan langsung mengirim penghutang nakal ke Kantor Polisi," tutur sang bibi.


Soya yang mendengar ucapan sang bibi kini kembali menangis ketakutan. "Bi, Soya takut Bi. Bagaimana jika Tuan muda melaporkan Soya," ujar Soya dengan tergugu.


"Jika kamu masih menangis terus seperti itu, saya yang akan melaporkan ke Kantor Polisi," ujar Pak Guntur tiba-tiba.


Soya seketika menghentikan tangisnya meskipun kesulitan, "Pak-Pak, jangan laporkan saya ke Kantor Polisi," tutur Soya sembari berusaha turun dari ranjang dan langsung bersimpuh di kaki Pak Guntur.


"Jika kamu masih terus menangis, saat ini juga saya akan menelpon," ujar Pak Guntur sembari berkedip pada sang bibi.


"Ma-maaf, Pak. Saya sudah berusaha tidak menangis tetapi air mata nakal ini terus saja turun, lalu-lalu bagaimana saya menyuruhnya berhenti ," ujar Soya makin keras dengan tangisnya. Pak Guntur yang mendengar ucapan Soya berusaha menahan tawanya dan langsung meminta sang bibi mendekat.


Sang bibi dengan perlahan membimbing Soya untuk bangun, "Sudah jangan menangis lagi, Non mandi dan lekas minum vitamin, menurut Non, jika tak ingin di bawa ke Kantor Polisi," ujar sang bibi. Soya yang mendengar kata Kantor Polisi langsung berusaha menghentikan tangisnya meskipun masih terdengar tangis lirihnya. "Mandi Non," ujar sang bibi.


Soya dengan malu dan takut akhirnya masuk kamar mandi juga, Soya di dalam kamar mandi hanya duduk terdiam dengan berbagai pikiran yang terus datang dan pergi, "Non. Cepat!" panggil sang bibi sembari mengetuk pintu. Soya yang tersadar dari lamunannya seketika bergegas mandi dan tak lama Soya sudah keluar dari kamar mandi dan langsung mendapat tatapan aneh dari sang bibi.


"Nah, begitu mandi," ujar sang bibi.


"Non, lima belas menit lagi Non temui Tuan besar!" ujar sang bibi. Soya hanya mengangguk dan paham, "baik Bi," jawab Soya lemas di mana bayang-bayang Kantor Polisi yang terus berputar di ingatannya.

__ADS_1


Setelah mengganti baju, Soya bergegas keluar dari kamar dan membawa tas punggungnya. Berjalan mengendap-endap dan berencana untuk kabur.


Langkah Soya terhenti saat Soya mendengar suara batuk yang begitu dekat, "mau kemana Soya?" tanya Pak Muin setengah berbisik.


"Eh ..., Pak Muin. Soya ingin ketemu dengan Pak Guntur," jawab Soya terkejut dan malu.


Mendengar jawabsn Soya seketika Pak Muin menatap Soya tajam. "Kamu! Kamu ingin kabur? coba saja lihat di depan," ujar Pak Muin sembari membuka tirai jendela.


"Bagaimana?" tanya Pak Muin lirih.


"Agh. Enggak Pak," jawab Soya takut dan mundur beberapa langkah.


Pak Muin hanya menggeleng saat melihat ulah Soya, "Non. Non, sudah di tunggu Tuan besar," ujar sang bibi sembari mendekat dan langsung menarik tangan Soya. "Hash! Kenapa kamu tak menurut Soya," guman sang bibi lirih.


"Masuk Bi!" jawab Pak Guntur dari dalam.


"Maaf, Tuan jika saya terlambat," ujar sang bibi sembari masuk dan membawa serta Soya.


"Enggak, apa-apa Bi, tolong tinggalkan kami!" ujar Pak Guntur.


"Baik Tuan," jawab sang bibi sembari beringsut pergi.


Pak Guntur kini menatap Soya, "Bagaimana sudah lega menangis selama dua hari lantas apa yang kamu dapat?" tanpa Pak Guntur pelan. Mendengar pertanyaan yang aneh Soya langsung menggeleng. "Soya, sudah kamu pikirkan, bagaimana apa kamu menyetujui apa yang Bapak kamu tulis?" tanya Pak Guntur lagi.

__ADS_1


Soya makin menunduk dan untuk beberapa saat Soya masih terdiam. "Soya, saya tahu ini berat dan untuk kutu kupret itu pasti juga berat, tetapi semua saya yang akan mengaturnya saat ini yang terpenting adalah jawaban kamu," ujar Pak Guntur semangat.


"Pak. Jika saya menyetujui persyaratan dari kontrak dan saya harus menjadi jaminan dari hutang Bapak saya ikhlas tetapi dengan satu syarat. Biarkan saya mengenal dulu siapa yang akan menjadi suami saya dan ijinkan saya untuk bekerja," ujar Soya lirih.


"Em ..., hanya itu?"


"Ya, tetapi ada satu syarat lagi jika saya setuju berarti semua hutang Bapak lunas kan?" tanya Soya lagi. Pak Guntur seketika tertawa mendengar ucapan Soya melihat wajah Pak Guntur yang senang. "Soya, semua saya yang akan mengaturnya dan satu hal kamu tak boleh bekerja di luar dan jangan coba-coba untuk kabur," ujar Pak Guntur.


"Baik, semua sudah beres dan tanda tangani surat ini, mulai sekarang hutang kamu lunas dan kamu tinggal di sini saja, kerja bantu bibi. Soya kamu akan aman di sini dan kutu kupret itu tak berani menyentuh kamu," ujar Pak Guntur senang.


Soya yang sedari tadi terdiam kini seakan mengingat sesuatu, "Pak, boleh saya membaca lembar yang saya tanda tangani," ujar Soya takut. Pak Guntur seketika menatap Soya, "Kamu ceroboh Soya," ujar Pak Guntur sembari menyodorkan lembar pada Soya.


Soya segera membaca lembar yang di sodorkan oleh Pak Guntur dengan tenang dan teliti Soya membaca berkali-kali, "Pak apa maksud dari poin ke lima?" tanya Soya heran.


"Poin kelima adalah sebagai jaminan, jika kamu kabur berarti hutang itu belum lunas dan kamu akan mendapat bunga yang berlipat ganda," ujar Pak Guntur menakuti.


"Argh ..., kenapa saya tak membaca dulu dan karena kecerobohan dan ketololan saya, saya terjebak kembali," guman Soya lirih sembari cemberut.


Pak Guntur seketika tersenyum saat mendengar ocehan Soya, hingga Soya sadar jika Pak Guntur sedang memperhatikan, "Permisi Pak, saya akan ke kamar," ujar Soya sembari berdiri.


Tanpa menunggu jawaban Pak Guntur, Soya langsung berlalu begitu saja, "Bodoh-bodoh bagaimana mungkin saya langsung menyetujui semua ini menjadi istri pelunas hutang dan menjadi istri kutu kupret," ujar Soya sembari bergidik takut.


"Argh ..., Bapak! Kenapa Bapak begitu tega pada Soya dan menjadikan Soya sebagai jaminan," keluh Soya geram.

__ADS_1


__ADS_2