
Tuang Guntur hanya mendengus kesal saat melihat ulah Nella yang makin menjadi, diamnya Tuan Guntur selama ini ternyata membuat Nella makin menjadi, "Pak Min ...!" panggil Tuan Guntur beberapa saat kemudian.
"Ya, saya Tuan!"
"Tolong panggil salah satu anak buah Danendra dan suruh mengantar Nella pulang!" ujar Tuan Guntur kesal dan serta merta mengalihkan pandangannya menuju Soya.
Pak Min hanya mengangguk dan menuruti perintah Tuan Guntur. "Hufftt ..., ini yang paling tidak saya suka dari Nella," ujar Tuan Guntur tiba-tiba.
Soya yang sedari tadi melihat ulah Nella hanya bisa duduk terdiam, "Soya kemari!" panggil Tuan Guntur dari arah ruang makan.
"Ayo kita makan, setelah itu temani saya duduk di balkon. "Bibi dan Pak Min istirahat saja setelah semuanya selesai," ujar Tuan Guntur dan tak lama kemudian sudah menyendok nasi lebih dulu.
Soya yang merasa enggan hanya duduk dengan diam, "Soya makan saja dan setelah itu temui saya di balkon atas," ujar Tuan Guntur sembari meletakkan sendok dan menyisakan makannya.
"Baik Tuan," jawab Soya pelan.
"Non, cepat makan dan jangan membuat Tuan besar menunggu terlalu lama!" ujar sang bibi tiba-tiba mengejutkan Soya.
"Tapi Bi!" ujar Soya takut.
Soya hanya minum dan kemudian dengan cepat mengusap bibirnya. "Bi, Soya ke atas dulu," ujar Soya sembari melangkah.
"Non, tunggu! Bawa ini karens Tyan bisa berlama-lama jika mengobrol dan satu lagi Nona menurut saja," ujar sang bibi mengingatkan.
Soya langsung menatap sang bibi, ada hal aneh yang Soya rasakan seakan sang bibi mengetauhi sesuatu. "Lha. Kok diam, cepat Non!" ujar sang bibi mengingatkan.
Menaiki lantai atas Soya berulang kali berdecak resah, berbagai pemikiran kini sudah muncul, hingga langkah Soya berhenti sesaat dan seakan ragu memasuki balkon.
Cukup lama Soya berdiri sembari membawa nampan. "Masuk Soya, apa kamu tak capek berdiri dan membawa nampan seperti itu," ujar Tuan Guntur tiba-tiba.
Soya tak menjawab tetapi memilih masuk dan melanjutkan langkahnya, meletakkan nampan dan kemudian duduk di samping Tuan Guntur.
"Apa yang membuat kamu ragu?" tanya Tuan Guntur membingungkan.
"Maksud Tuan?" tanya Soya pelan.
"Tentang keinginan anak saya," ujar Tuan besar.
Soya hanya menggeleng tanda tak percaya jika Tuan Guntur akan mengatajan hal ini lagi.
__ADS_1
Soya memilih menatap langit yang terpampang indah malam ini.
"Indah bukan?" tanya Tuan Guntur.
"Ya, Tuan!" jawab Soya.
"Apa pendapat kamu tentang langit yang kamu lihat," ujar Tuan Guntur mengalihkan pembicaraan.
Soya sesaat tersenyum mendengar pertanyaan Tuan Guntur. "Indah dengan adanya bintang dan rembulan dapat membuat langit malam yang gelap lebih terang," jawab Soya lirih dan tak berhenti tersenyum.
"Kenapa kamu berkata demikian?"
"Itu hanya pendapat saya saja Tuan!" jawab Soya.
"Hem. Sebenarnya kita tahu bagaimana langit itu jika bintang dan rembulan tak muncul."
"Gelap Tuan!" jawab Soya langsung.
"Benar! Kamu benar Soya," ujar Tuan Guntur pelan.
Tuan Guntur hanya menghembuskan napas berat sebelum meraih cangkir miliknya, menyesapnya sesaat. "Soya bagaimana menurut kamu tentang anak saya Danendra, seperti malam yang gelap atau malam yang penuh bintang dan ada sinar dari rembulan," ujar Tuan Guntur memancing sembari menekan ponselnya.
Soya kini kembali menggeleng tak percaya. "Tuan, saya tidak tahu tentang itu. Namun, satu hal yang saya tahu tentang Tuan muda seperti langit malam yang redup, Tuan muda selalu marah, pemaksa dan selalu bersikap semaunya," ujar Soya jujur.
"Soya, kenapa kamu selalu mengulur kemauan Danendra, apa yang menjadi masalahnya, meskipun saya tahu bahwa Danendra bersungguh-sungguh mengatakan itu," tutur Tuan Guntur bersungguh-sungguh.
"Tuan-Tuan jangan berbicara seperti itu, ada Non Nella yang secara nyata adalah calon istri Tuan muda dan lagi pula saya juga tak menyukai Tuan muda," ujar Soya jujur.
Mendengar jawaban Soya, Tuan Guntur langsung terdiam, benar yang di ucapkan Soya, tetapi semua harus berjalan sesuai dengan rencana yang sudah Tuan Guntur atur sedari dulu untuk dan rencana ini masih setengah jalan. Tuan Guntur kembali memutar otaknya untuk membujuk Soya agar mau menerima permintaan Danendra.
"Soya, maaf jika saya harus mengatakan dengan jujur apa yang terjadi," ucap Tuan Guntur tiba-tiba.
Soya yang hanya membisu kini memilih untuk mendengarkan saja setiap ucapan Tuan Guntur, hingga Tuan Guntur mengeluarkan amplop dari sakunya. "Saya yakin kamu sudah membaca ini. Surat yang di buat oleh Bapak kamu dan di setujui oleh Danendra," ujar Tuan Guntur.
Soya yang mengenali amplop yang di letakkan begitu saja di meja langsung mengambilnya. "Tuan-Tuan dapat ini dari mana?" tanya Soya lirih.
"Itu surat yang saya pegang dan yang kamu bawa adalah salinan yang kedua. Saya yakin kamu sudah membacanya," ujar Tuan Guntur.
"Soya boleh saya menceritakan tentang kesepakatan saya dengan surat itu?" tanya Tuan Guntur akhirnya.
__ADS_1
Soya yang tak percaya dengan apa yang di dengarnya hanya menatap gelisah, hatinya yang tiba-tiba berdesir kencang saat mendengar setiap ucapan Tuan Guntur dan seakan menjadi petaka untuk dirinya nanti.
Cukup lama Tuan Guntur terdiam hanya hembusan napasnya yang terdengar berat dari setiap tarikan napas.
Tuan Guntur sesaat tersenyum, bibirnya tersungging hingga senyuman itu hilang dan berganti dengan tatapan matanya yang menatap jauh ke depan.
Tuan Guntur flash back on
Cerita ini terjadi tiga tahun yang lalu.
Saya masih ingat siang itu, saat seorang laki-laki datang ke rumah dengan baju yang rapi. Laki-laki yang datang bersama seorang gadis yang bisa di bilang pantas menjadi anaknya. Perkenalan singkat kami akhirnya menjurus ke masalah uang. Membawa sertifikat rumah sebagai jaminan. Pinjaman yang begitu besar tetapi tak sepadan dengan harga rumah saat itu. Tuan Guntur kembali menghela napasnya.
Hingga satu bulan kemudian Bapak kamu kembali meminjam uang dengan nominal yang sedikit kecil. Namun, hingga jatuh tempo Bapak kamu belum mengangsur sedikit pun, hingga pegawai kami menangkap Bapak kamu dan membawa kepada saya.
Soya, saya begitu terkejut saat Bapak kamu mengatakan bahwa kamu yang jadi jaminannya dan merelakan kamu sebagai penulas hutang. Saya juga tak mengerti Soya jika Bapak kamu akan berbuat senekat itu.
Hingga akhirnya Danendra yang memutuskan untuk menangani kasus Bapak kamu, berulangkali Danendra menghukum Bapak kamu tetapi Kadir masih pada pendiriannya.
Kadir masih tetap menjadikan kamu sebagai jaminan pelunas hutang.
Hingga akhirnya secara diam-diam Danendra selalu mengawasi kamu dari jauh hingga kesabaran Danendra habis saat mendengar Kadir meninggal.
Tuan Danendra flash back off
Mendengar cerita Tuan Guntur Soya seajan kembali tertampar untuk kesekian kalinya, Bapaknya sendiri begitu tega merendahkannya dan melihat sebagai anak yang hanya pantas di jual sebagai pelunas hutang. Soya berusaha menahan sesak di dada, berulangkali Soya berusaha untuk mengatur napas.
"Tuan, lalu apa gunanya surat ini jika tak memberi satu penyelesaian dan ujung-ujunganya saya juga harus menanggung beban ini," tutur Soya tercekat.
Tuan Guntur hanya tersenyum dan melihat Soya sesaat. "Maaf, karena ini adalah bentuk tanggung jawab yang harus kamu pikul. Semua sudah tertulis dan sah jika kamu memahami semuanya, pikirkan baik-baik keinginan anak saya," ujar Tuan Guntur tegas pada akhirnya.
"Lalu! Maksud Anda saya harus menikah dengan Tuan muda?" tanya Soya akhirnya.
Tuan Guntur serasa berbunga di hatinya saat mendengar ucapan Soya. "Baca debgan benar surat itu dan pikirkan baik-baik, beketja pada Danendra hingga hutang kamu lunas itu juga bukan solusi yang tepat," ujar Tuan Guntur.
Tuan Guntur akhirnya membiarkan Soya bermain dengan pemikirannya sendiri dengan waktu yang cukup lama. "Argh ...! Kenapa harus seperti ini, tidak-tidak saya tak akan sanggup jika setiap hari harus melihat Non Nella marah dan saya juga enggak mau di bilang pelakor Tuan," jawab Soya akhirnya.
Tuan Guntur merasa taktiknya mendapat kemajuan dan itu terdengar dari jawaban Soya. "Soya, apa hubungannya dengan Nella?" tanya Tuan Guntur membingungkan.
"Tuan, saya semakin tak mengerti dan tak paham dengan ucapan Tuan."
__ADS_1
"Pikirkan ucapan saya dan saya ingin tahu jawaban Soya esok pagi sebelum saya pulang dan jika kamu masih menolak saya akan memberi bukti satu lagi dan sebenarnya itu melanggar janji saya pada Danendra, dan satu hal lagi Nella tak ada sangkut pautnya dari masalah ini," ujar Tuan Guntur sembari berdiri.
"Ingat Soya pikirkan ini baik-baik," ujar Tuan Guntur sembari masuk dan senyumnya selalu tersungging.