RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 75. Masa lalu cinta Danendra.


__ADS_3

Hari berganti minggu dan berganti bulan pernikahan Danendra dan Soya kini sudah berjalan di bulan keempat. Danendra tak menyangka jika masa lalu percintaannya akan berimbas saat ini. Cinta yang lama sudah terbuang dan kini hadir untuk yang kesekian kalinya, cinta pertama yang pernah membuat Danendra putus asa hingga Danendra bertemu dengan Nella.


"Cintya." Kata ini yang Danendra ucapkan untuk pertama kali, tatapan Danendra tak putus saat wanita ini dengan anggun memasuki rumah. Sesaat Danendra tersesat akan tatapannya hingga panggilan sang bibi membuat Danendra sadar dan ingat jalan untuk pulang. "Ya, Bi!" jawab Danendra cepat.


"Jaga pandangan ingat Tuan sudah menikah dan satu hal, Cintya adalah masa lalu dan Non Soya adalah masa depan Tuan," tutur sang bibi sembari membawa nampan ke ruang tamu.


Namun, belum juga sang bibi beranjak menuju ruang tamu. "Hai sayang!" sapa Cintya sembari memeluk Danendra dan mencium pipi Danendra bergantian.


Danendra tak mampu bergeming, ada sisa-sisa kenangan yang tiba-tiba menusuk hatinya. "Maaf, Cintya jaga sikap kamu," seru Danendra sembari melerai pelukan Cintya.


Merasa mendapat penolakan dari Danendra Cintya seketika menatap tak suka. "Sayang .... kenapa kamu menolak pelukan saya?" tanya Cintya manja.


Danendra semakin menjauh dan memilih untuk menjaga jarak bersamaan datangnya Soya. "Ada tamu Bi?" tanya Soya sembari duduk dan menatap Danendra, merasa Soya menatap dengan tatapan aneh pada sang suami, seketika Danendra langsung mengalihkan pandangannya.


Soya dengan senyum manis menyapa sang tamu. "Kenalkan saya Soya, istri Mas Andra." Soya sembari mengulurkan tangan.


Tatapan tajam dan tak suka terlihat jelas dari wajah Cintya. "Oh, ini istri kamu sayang?" tanya Cintya sembari menatap Soya dari atas ke bawah berulang kali.


Mendengar ucapan Cintya, Soya sesaat menyengit heran dan menatap ke arah sang suami penuh tanya tetapi Soya seakan paham akan kegundahan hati sang suami. Setelah duduk beberapa saat Soya memilih berdiri dan masuk kamar, Soya seakan tak percaya dengan semua yang di dengarnya. 'Sayang?'


hati Soya sesaat berdesir nyeri. "Apa saya tak salah dengar?" tanya Soya pada dirinya sendiri.


"Huuff .... jangan salah sangka Soya," seru Soya sembari memegang dadanya.


Satu jam, dua jam hingga hampir tiga jam sang suami baru masuk kamar. Danendra sesaat menghela napas dan membuangnya kasar. "Soya, jangan salah paham dia adalah Cintya teman lama saya." Danendra sembari duduk di sisi ranjang.


"Mm .... teman lama atau teman yang seperti Nella atau Clara," jawab Soya pelan sembari menatap sang suami.

__ADS_1


"Soya sih tak apa, asal Mas bisa menjaga sikap Mas, ingat Mas kita baru saja membina rumah tangga," ujar Soya curiga.


Tanpa banyak bicara Danendra memeluk sang istri erat seakan Danendra. "Maaf, Soya!" hanya ini yang terucap dari bibir Danendra.


Suasana kamar seketika berubah, baik Danendra dan Soya merasa ada sesuatu yang membuat mereka terdiam. Danendra masih menatap Soya yang sibuk dengan kegiatannya, meskipun Danendra sadar saat ini hatinya tengah terbius oleh kedatangan Cintya cinta pertama yang berusaha untuk di lupakan walaupun Danendra sadar ada perasaan yang masih sedikit tersisa di hatinya. Berulangkali Danendra mengutuk dirinya sendiri kenapa dirinya tak begitu tegas dengan perasaannya.


"Mas, jangan melamun." Soya sembari menatap sang suami dengan heran.


Soya memilih ke luar dari kamar dari pada melihat sang suami yang tengah duduk melamun. Berkali-kali Soya mengembuskan napas kasar, bagaimanapun juga perasaaannya begitu khawatir dengan kedatangan Cintya. " Hai, kamu!" panggilan ini seketika membuat Soya terkejut dan mencari sumber suara.


Soya tak menyangka jika Cintya masih berada di rumah ini.


"Ya!"


"Tolong buatkan saya jus," pinta Cintya seenaknya.


Seketika Soya netra Soya membulat tajam tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kamu!" pekik Cintya tak terima.


Namun, di tengah perdebatan mereka Danendra ke luar dari kamar. Cintya yang melihat siapa yang keluar dari kamar langsung berjalan mendekat dan dengan manja Cintya bergelayut di tangan Danendra.


"Sayang, lihat istri kamu tak mau membantu saya untuk membuat jus," rengek Cintya sembari memeluk lengan Danendra erat.


Danendra yang merasa kikuk dengan perbuatan Cintya dan belum lagi tatapan Soya yang tajam dengan diamnya.


"Cintya, jaga sikap kamu. Saya sudah menikah dan tolong setelah urusan kamu selesai cepat pulang." Danendra sembari melerai tangan Cintya dan berusaha menjauh.

__ADS_1


"Jika kamu ingin jus buat sendiri dan jangan mengganggu istri saya," tukas Danendra kesal.


"Danend! Kenapa kamu berubah, saya datang kemari juga demi kamu dan saya tamu di sini Danend!" kekeh Cintya tak terima saat Danendra mengacuhkannya.


Namun, bibir Cintya tersenyum sinis dan menatap Soya tak suka. "Seharusnya saya yang jadi istri kamu Danend, bukan wanita ini dan kamu juga sudah berjanji akan menemani saya selama saya tinggal di sini," ucap Cintya sembari tersenyum dan masuk dalam kamar.


Soya yang mendengar ucapan Cintya seketika melotot tak percaya, menatap lekat wajah sang suami dan menariknya masuk dalam kamar. "Mas! Kenapa Mas, tidak membicarakan dulu dengan saya dan Ayah. Mas tidak sadar dengan keputusan Mas Andra? Argh .... sudahlah jika itu sudah menjadi keputusan Mas Andra tetapi satu hal ingat Mas sudah menikah!" Sergah Soya marah.


Lagi-lagi Danendra terdiam dan hanya bisa menunduk. "Mas! Mas masih menyukai Cintya?" tanya Soya tiba-tiba.


"Soya, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu!"


"Perasaan Soya sebagai istri dan terlepas dari masa lalu Mas, Soya juga belum paham akan ini. Andaikan Mas tak keberatan biarkan Cintya tinggal di hotel atau rumah Mas yang kosong," ujar Soya tak suka.


"Soya, jika itu Mas lakukan, Cintya akan menjadi dan .... "Danendra tak melanjutkan ucapannya saat terdengar pintu kamar di ketuk secara berulang kali.


"Biar Soya yang buka!"


Ada perasaan kesal tiba-tiba menyusup di hati Soya membuka pintu dengan kasar, saat tahu siapa yang berdiri di depan pintu.


"Suami saya sedang istirahat dan kamu! Kamu sangat menganggu!" tegur Soya kesal dan menutup pintu dengan kasar.


Sesaat Soya berdiri di depan pintu untuk mengatur napasnya menahan hatinya untuk tenang, kembali terdengar pintu di ketuk dengan keras dan itu membuat Soya makun geram dengan kasar Soya membuka pintu.


"Kamu!" pekik Soya marah.


Soya terdiam saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu. "Tuan muda! Cintya!" panggil bibi tak sabar.

__ADS_1


"Tuan, cepat." Kini bibi memanggil dengan cemas.


Melihat kecemasan di wajah sang bibi Soya perlahan menepi, ada perasaan yang membuatnya kecewa untuk sesaat saat suaminya dengan tergesa keluar dari kamar dan berhambur menuju kamar Cintya. Soya hanya bisa menatap laki-laki yang baru empat bulan menjadi suaminya hingga Soya kembali tertegun saat Danendra membopong tubuh Cintya yang jelas terlihat tangannya tengah berdarah. Namun, di balik semua kejadian ini Soya bisa melihat jika Cintya tersenyum puas saat ini.


__ADS_2