RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 94. Maaf Diandra


__ADS_3

Perjalanan pulang yang sedikit melegakan untuk bibi dan Pak Muin saat melihat Diandra tertidur. "Lihat Bi, betapa cerdasnya Diandra, Soya sukses mendidik Diandra meskipun tanpa seorang Ayah dan Diandra di kelilingi oleh orang-orang yang baik," ujar Pak Muin.


Sang bibi hanya tersenyum karena dirinya tak ingin menceritakan seperti apa kondisi Soya yang sesungguhnya. "Begitulah Muin," jawab sang bibi.


Mobil berhenti tepat di depan rumah, Soya yang sudah menunggu sedari tadi langsung tersenyum saat melihat bibi keluar dari mobil.


"Bagaimana Bi, apa Diandra rewel?" tanya Soya penasaran.


"Non, kita masuk dulu," ajak bibi.


"Terima kasih Pak Muin. Apa sebaiknya Bapak mampir dulu untuk minum kopi," tawar Soya.


Pak Muin tak menjawab, tetapi hanya membunyikan klakson dan tak lama melajukan mobilnya. Soya segera masuk ke dalam bersamaan sang bibi keluar dari kamar Diandra.


"Terima kasih Bi," ujar Soya sembari memeluk sang bibi


"Non, jangan terkejut nanti, jika Diandra terbangun dan menanyakan sesuatu," jelas sang bibi.

__ADS_1


"Bi, ada apa? Memang apa yang terjadi?" tanya Soya heran.


"Aduh Non! Diandra menanyakan foto Ayahnya," bisik bibi sembari melirik ke arah kamar Diandra.


"Sungguh!" seru Soya terkejut.


Sang bibi langsung menarik Soya mengajaknya duduk dan menceritakan apa yang terjadi tadi. Soya yang mendengar cerita sang bibi langsung menutup mulutnya tak percaya. Sang bibi yang melihat reaksi Soya segera mendekat dan menatap Soya lekat sembari tersenyum.


"Non, jika waktu dan Allah mengijinkan apa Nona mau kembali dengan Tuan muda?" tanya bibi lirih.


Mendengar ucapan bibi, Soya seketika menatap sang bibi tak percaya. "Bi ... kenapa, Bibi bertanya seperti itu." Soya menatap Bibi tak percaya.


"Bi, Soya tak pernah berpikiran ke sana, Soya sadar Mas Andra terlalu sering membuat Soya kecewa. Soya hanya tak ingin saja semua kejadian yang dulu terulang dan terulang lagi," jawab Soya lirih.


"Non, pikirkan ini semua demi Diandra," pinta sang bibi sembari bangkit dari duduknya.


Soya hanya diam mendengar semua ucapan sang bibi, Soya tak pernah berpikir jika sang bibi akan kembali mendorong dirinya untuk bersama sang mantan suami. Cukup lama Soya berlaku demikian duduk termenung menatap nanar ke arah kamar Diandra. Soya merasakan jika saat ini kebahagiaan Diandra lebih penting, tetapi untuk kembali pada Danendra. Soya hanya bisa membuang napas beratnya banyak hal yang harus berpikir dua kali bahkan berkali-kali lipat untuk mengambil keputusan ini.

__ADS_1


"Huuufff ...." Hanya ini yang keluar dari bibirnya. Soya segera berdiri dan menuju kamarnya. Ada rasa sedih yang Soya rasakan dan itu hanya bisa Soya pendam dalam hatinya.


"Maafkan Ibu Nak, jika hidup kamu tak sesempurna teman-teman kamu yang lainnya."


Malam ini Soya benar-benar tak bisa terpejam netranya terus menatap langit-langit kamar dan hanya napasnya saja yang terdengar berhembus berat. "Bapak, Ibu, kenapa semua harus seperti ini. Apa yang harus Soya lakukan? Soya bingung Bu," ucapnya lirih.


"Jangan menangis Soya," gumamnya saat air matanya sudah meleleh di pipi.


"Apa yang harus saya lakukan? Banyak hal yang belum terselesaikan. Argh ... kenapa harus seperti ini?" tanya Soya tak percaya.


Soya yang merasa dilema dengan semua yang terjadi akhirnya hanya bisa mengikis air matanya yang terus turun.


"Huuuff ... bagaimana jika saya mengiyakan semua demi Diandra?"


Dini hari Soya baru bisa merasa lega semua perasaan yang semalam mengganjal di hatinya seakan sirna saat suara adzan subuh berkumandang, Soya memilih keluar dari kamar setelah meletakkan mukena yang di pakainya.


"Non, maaf jika perkataan Bibi membuat Non, bersedih bukan maksud Bibi ...." Ucapan bibi terputus saat Diandra berteriak keras memanggil sang ibu berulang kali.

__ADS_1


Soya bergegas masuk dalam kamar Diandra dan dirinya begitu terkejut saat melihat tubuh Diandra.


"Bi, kenapa tubuh Diandra berkeringat dan badannya panas?" tanya Soya bingung.


__ADS_2