RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 102. Tekad Danendra


__ADS_3

Danendra tak menyangka jika begitu banyak rahasia tentang Soya yang tak pernah dia ketauhi, merebahkan diri di ranjang menatap nanar langit-langit kamar. cerita dari pak Muin sungguh membuatnya begitu merasa penasaran akan Diandra gadis yang sudah membuatnya menghangat. "Aku harus bisa," gumamnya sembari bangkit dari ranjang.


Danendra memilih masuk kamar mandi dan tak lama kembali keluar, mematut diri sejenak berdiri termenung menatap wajahnya, pantulan wajah yang begitu mirip dengan Diandra. Sesaat Danendra sadar akan wajahnya dan wajah Diandra, dirinya bergegas untuk merapikan baju dam tak lama ke luar dari kamar.


"Pak, Muin. Danendra pergi dulu," pamit Danendra dan melajukan mobilnya pelan.


Berhenti di depan rumah yang tadi pagi ditinggalkanya, sesaat bibirnya tersenyum saat melihat Soya dan Diandra sedang bermain di halaman. Menatap dua wanita yang saat ini ingin di kunjunginya, perlahan Danendra ke luar dari mobil, berdiri sejenak untuk menangkan hatinya. Hingga teriakan terdengar memanggil namanya.


"Om Danendra!" teriak Diandra keras saat mengetauhi keberadaannya.


"Ayo, masuk. kita main bersama," ajak Diandra lagi.


"Ya, tunggu," jawab Danendra.


Sementara itu, Soya yang melihat kedatangan Danendra seketika menghentikan gerakannya, menatap tak suka ke arah Danendra. "Diandra, Ibu capek. Ibu ingin istirahat," ujar Soya dan meninggalkan Diandra sendiri.

__ADS_1


Danendra yang mendengar ucapan Soya hanya bisa menghela napasnya, tetapi netranya terus mengekor langkah Soya hingga tubuhnya hilang di dalam rumah. Danendra tak tahu harus seperti apa meluluhkan hati Soya yang terlihat marah dengan kedatangannya. Danendra menghampiri Diandra yang sedang menantinya untuk bermain.


"Om!" panggil Diandra pelan.


"Ya," jawab Diandra.


Diandra hanya menatap Danendra untuk sesaat, mengurungkan semua ucapannya dan memilih untuk diam dan mendengarkan.


Danendra langsung meraih tubuh Diandra dan mengajaknya duduk. "Diandra, apa Diandra keberatan jika Om akan sering main kemari?"


"Baik, tetapi sekarang Om, ijin pada Nona kecil ini dulu, bagaimana boleh, 'kan?" tanya Danendra sembari mengangkat alisnya naik turun.


"Baik. Asal Om, jangan buat Ibu marah. Diandra takut," jawab Diandra akhirnya.


Danendra tersenyum saat rencana awalnya sudah mendapat respons yang baik dari gadis kecil ini. 'Sekarang tinggal mengatur siasat yang kedua,' batin Danendra.

__ADS_1


Duduk berdua dan kadang bermain di halaman bersama Diandra membuat Danendra merasa yakin jika Diandra sudah semakin dekat dengan dirinya. Danendra tak menyangka jika keberadaan dirinya ada yang memperhatikan semua yang di lakukan dengan Diandra, sepasang mata yang melihat dengan berbagai perasaan yang di artikan. Wajah yang terlihat gelisah dengan apa yang dilihatnya, gerak tubuhnya terlihat gusar dan cemas berkali-kali napas beratnya berembus dengan kasar.


Hingga tepukan lembut mendarat di bahunya.


"Apa yang Nona, rasakan dan lihat itu sangatlah wajar. Mereka Bapak dan anak biarkan mereka dekat bagaimana juga Tuan Danendra juga berhak untuk tahu siapa Diandra Non, meskipun entah sampai kapan Tuan muda akan menyadari hal itu," ucap bibi mengejutkan Soya.


Hanya terdengar napas Soya dan wajah yang kecewa akan apa yang dilihatnya. "Bi, andaikan kita tak kembali ke rumah ini, mungkin .... "Ucapan Soya terputus dan memutus tatapannya dan duduk dengan gusar di depan sang bibi.


"Mungkin, apa? Non membiarkan Nona kecil terus di ledek oleh temannya dan sering melihat Nona kecil menangis dan Non Soya masih ingin bersikap egois? Pikirkan lagi apa yang terbaik Non, ingat di saat seperti ini Tuan Guntur bisa melakukan apa saja termasuk untuk Nona kecil dan harapan Bibi, pikirkan Diandra," tutur bibi panjang lebar.


"Tapi Bi, Soya .... "Ucapan Soya terputus saat mendengar teriakan dari luar, Danendra berteriak keras memanggil Soya dan bibi bergantian.


Soya yang mendengar teriakan tak lazim di telinganya bergegas ke luar dari rumah, netranya seketika membola lebar saat melihat apa yang terjadi. "Diandra ... Diandra!" teriak Soya keras dan memburu mendekat.


"Kamu! Apa yang kamu lakukan!" pekik Soya marah.

__ADS_1


__ADS_2