
Pagi ini Soya kembali di buat geram oleh tingkah Nella, "Soya ...!" teriak Nella dari kanar atas.
Soya segera mematikan kompor dan meninggalkan dapur menuju lantai atas. "Hash! Mbak kunti masih pagi sudah berteriak-teriak," gerutu Soya dengan langkah sedikit berlari.
"Ya. Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Soya sembari mengatur napasnya.
"Seterika baju ini, lalu bersihkan kamar dan itu bawa, cuci juga!" perintah Nella seenaknya. "Nona, akan saya kerjakan setelah memasak, apa baju ini keburu di pakai?" tanya Soya sopan.
"Banyak tanya, kerjakan sekarang ! Saya enggak mau tahu jam tujuh sudah harus siap!" ujar Nella layaknya ratu rumah yang sesungguhnya.
"Baik, Nona," jawab Soya malas.
Menuruni anak tangga sedikit tergesa membuat Soya sedikit kehilangan keseimbangan tetapi semua aman terkendali hingga terdengar suara yang tak asing di telinga Soya.
Kraaak
"Astaga! Hah ..., kenapa tersangkut," ujar Soya bingung.
Soya, seketika sadar saat melihat baju yang di pegangnya, "mampus!" ujar Soya seketika sembari melihat sobekan yang cukup lebar.
Hah! Kenapa baju ini sobek," seru Soya dengan suara tercekat, "lalu uang dari mana untuk mengganti baju semahal ini?" tanya Soya pada dirinya sendiri.
Soya masih berdiri menatap baju yang di pegangnya. "Kamu! Kenapa masih berdiri di situ," ujar Nella marah dan berteriak.
"Eh, hiya Nona maaf," jawab Soya sembari melipat baju yang di pegangnya.
Soya masih memikirkan cara untuk memperbaiki baju yang di pegangnya dan meletakkan dalam kamar. "Masih pukul enam pagi," guman Soya sembari menutup pintu kamar.
Soya yang masih dalam kebingungan akhirnya memilih mempercepat cara memasaknya, hingga pukul setengah tujuh semuanya sudah siap. Soya memilih untuk masuk dalam kamarnya, membolak balik baju yang di pegangnya. Soya mencari benda yang sering terselip di tasnya, senyum Soya seketika terurai lega saat menemukan benda yang di carinya. "semoga ini berhasil," guman Soya sembari menjahit baju milik Nella.
"Ash! Kenapa benangnya tak sama warnanya," guman Soya dan tak urung terus menjahit.
Tepat pukul tujuh pagi Nella kembali berteriak dan memanggil Soya. Soya yang sudah berusaha menjahit di baju Nella yang sobek, akhirnya hanya bisa pasrah saat menyerahkan baju yang di minta. Hingga sepuluh menit kemudian Nella turun dari lantai atas dan menuju dapur. 'Semoga mbak kunti tak menyadari jika bajunya sobek,' guman hati Soya sembari terus membersihkan kompor.
Namun, gerakan Soya terhenti saat melihat hasil dari jahitan tangannya. Soya dengan perasaan was-was memperhatikan Nella, "Soya bilang pada Tuan kamu, saya pulang," ujar Nella setelah menghabiskan satu gelas teh hangat.
__ADS_1
Soya sedikit merasa lega saat Nella berpamitan sesaat Soya bisa bernapas lega dan terus memperhatikan Nella, "Bisa mati , jika Non Nella tahu," ujar Soya lirih sembari menahan rasa takutnya.
Hingga langkah Nella terhenti di ruang tamu saat Danendra memanggil. "Sayang ..., Nella pulang, ingat jaga mata awas! Jika selingkuh," ujar Nella sembari melirik ke arah Soya yang berada di dapur.
"Hati-hati Nella. Oh, ya dalam satu minggu ini saya ada tugas ke luar kota, Nella tolong kembalikan kunci yang kamu pegang, juga ada beberapa barang yang kamu ambil dari kamar," ujar Danendra pelan tetapi bisa memojokkan Nella. "Barang apa?" tanya Nella berkelit.
"Sudah lupakan," jawab Danendra sembari menatap Nella tak percaya.
"Kunci Nella," ujar Danendra ulang.
Nella seakan tak percaya saat mendengar ucapan Danendra dan tatapannya langsung tertuju pada Soya dengan wajah marah Nella langsung mengambil kunci yang di maksud.
"Ini sayang, lalu bagaimana saya masuk jika saya datang," ujar Nella lirih.
"Kenapa bingung, 'kan ada Soya di rumah, kunci ini akan kembali jika kamu memberi jawaban pada saya," ujar Danendra pelan.
Tatapan Nella seketika meredup dan parsah saja, "Nella pulang dan saya akan memberi jawabannya paling tidak satu bulan," jawab Nella sambil tersenyum kecut.
Danendra dengan tenangnya mengantar Nella hingga teras, "hati-hati," ujar Danendra sembari melepas ciuman mereka.
"Tunggu satu bulan adalah waktu yang lama Nella dan apapun bisa terjadi, tunggu Nella," ujar Danendra lirih.
"Soya ...!"
"Soya ...!" teriak Danendra keras.
"Tuan, saya dengar!"
"Kamu berkemas dan bawa bahan yang ada di kulkas selama satu minggu, ingat jangan kembali jika belum satu minggu. Ini kunci baru rumah ini," ujar Danendra sembari memberikan kunci pada Soya.
"Tuan, berarti selama satu minggu saya bisa tinggal di rumah saya?" tanya Soya senang.
Danendra langsung menatap Soya, " jangan senang dulu, meskipun kamu tinggal di rumah ada tugas untuk kamu, bawa buku yang kamu kerjakan semalam dan sekalian pikirkan permintaan saya satu minggu waktu yang cukup," ujar Danendra sembari melangkah dan tersenyum.
"Tuan. Soya sudah bilang harus tahu dulu masalahnya!" teriak Soya kesal.
__ADS_1
Danendra yang sudah berada di lantai atas seketika turun kembali. "Kamu, kemari!" panggil Danendra dan itu membuat Soya sadar akan ucapannya.
"Oke. Saya berubah pikiran, sekarang bersihkan rumah sampai bersih dan tak perlu pulang, bunga hutang tak berkurang dan bertambah sepuluh persen," jawab Danendra seenaknya.
"Maaf Tuan!" jawab Soya terkejut.
"Ingat, selama satu minggu saya akan ke luar kota dan jangan berusaha untuk menyelinap pergi, kamu pasti tahu akibatnya," ujar Danendra mengancam.
"Tuan ...!"
Soya seketika menghentikan ucapannya saat melihat laki-laki dewasa di depannya menatapnya tanpa berkedip. "Pikirkan tawaran dari saya dan segera beri keputusan," jawab Danendra sembari naik ke atas.
"Huuff ...! Jika begini, apa yang harus Soya lakukan?" gerutu Soya dan masih berdiri di tempatnya hingga beberapa saat kemudian Soya sudah kembali ke dapur dan duduk dengan malas di meja makan.
"Argh ..., tahu begitu Soya tak akan banyak tanya, tetapi apa salah jika saya bertanya," gerutu Soya sembari menunduk kecewa.
"Tentu salah, saya tidak menginjinkan kamu untuk bertanya dan duduk dengan baik," ujar Danendra mengejutkan Soya.
Soya yang terkejut langsung berdiri, "maaf Tuan, sa-saya hanya ingin tahu saja," jawab Soya lagi.
"Buatkan saya kopi dan setelah itu duduk temani saya makan," ujar Danendra.
Soya hanya mengangguk, 'benar kata Kak Zulhan, saya harus menurut,' tutur hati Soya.
Setelah menyerahkan kopi yang di minta Soya kini duduk dengan diam, pagi ini terlalu banyak keributan yang membuatnya bingung dan pusing. Setelah beberapa saat, "Ingat jaga rumah, saya akan ke luar kota selama satu minggu," ujar Danendra lirih dan berubah.
Soya hanya mengangguk dan patuh, Soya hanya mengekor langkah Danendra hingga mobilnya melaju pergi dan mengunci pagar.
"Hah! Kenapa tadi saya banyak bertanya!" ujar Soya kesal pada dirinya sendiri.
"Argh ..., kenapa kamu tak bisa menjaga bicara kamu Soya!" rutuk Soya berulang kali sembari membersihkan rumah.
Hingga siang hari pekerjaan Soya baru selesai, "akhirnya semuanya beres," ujar Soya sembari menyeka keringat dan menghempaskan tubuh di Sofa lantai atas dan tak lama kemudian Soya tertidur.
Sementara itu, di balik perasaan lega yang Soya rasakan ada seseorang yang terus mengawasi Soya sembari tersenyum puas dan senang meskipun berada jauh dari Soya.
__ADS_1