
Malam ini Soya tidur dengan tenang, perasaan aneh yang kembali muncul setelah sekian lama coba untuk di redam. "Huuff ..., kenapa dengan dada ini. Apa saya benar-benar menyukai Tuan muda," guman Soya pelan sembari terus memegang dadanya yang berdebar.
Hingga pagi menjelang Soya memilih untuk bangun dan melakukan kegiatan seperti biasanya, melihat Danendra yang masih tertidur pulas Soya menatap sejenak tubuh yang masih berbalut selimut dan kemudian meninggalkan Danendra. Kesibukan pagi hari yang menjadi tugas rutin membuat Soya melupakan semua perasaannya semalam.
Suasana pagi yang ramai membuat merupakan kesenangan tersendiri, melayani beberapa pelanggan yang mengambil kue membuat bibir merah bak chery selalu tersenyum manis saat melayani pelanggan.
Berbaur dengan beberapa karyawan toko Soya tak menyadari jika sejak tadi ada yang terus menatap dan mengawasi setiap geraknya. "Bu! Suami Ibu sejak tadi memperhatikan," bisik salah satu karyawan toko.
Mendengar bisikan yang bisa membuat dadanya berdesir Soya seketika menghentikan pekerjaannya dan tersenyum menatap laki-laki yang duduk dan terus melihatnya dari jauh. "Saya ke dalam dulu dan layani pelanggan dengan sopan," ujar Soya sembari berjalan menghampiri Danendra.
"Tuan, sudah bangun?" tanya Soya sembari menuju dapur.
"Tuan, masih minum kopi?" tanya Soya lagi.
Danendra yang sedari tadi terus menatap tanpa berkedip memilih untuk menghampiri dan tak ingin menjawab pertanyaan sang istri.
"Hem ..., biarkan saya memeluk kamu Soya, jangan melarang," pinta Danendra pelan sembari mengeratkan pelukannya.
Hingga beberapa menit kemudian. "Tuan, Tuan mandi dulu dan saya akan membuat kopi," ujar Soya sembari mendorong tubuh Danendra pelan.
Tanpa di minta dua kali Danendra langsung melepas pelukannya dan menuju kamar mandi. Namun, tidak untuk Soya. Tubuhnya seketika terasa lemas dan jantungnya terus memburu kencang, berulangkali Soya mengatur napas dan berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Mana kopi saya?" tanya Danendra tiba-tiba dan itu mengejutkan Soya.
"Sebentar Tuan!" jawab Soya sembari menuang air dan mematikan kompor.
Meletakkan kopi yang di bawanya dan menuju ke depan, tak lama Soya sudah kembali dengan beberapa kue yang di ambilnya.
"Tuan, sembari menunggu saya selesai masak, Tuan makan ini dulu dan setelah itu sarapan Tuan baru pulang," ujar Soya sembari menuju dapur.
__ADS_1
Danendra yang mendengar ucapan Soya seketika menatap tajam ke arah Soya. "Koya! Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Danendra tak suka.
Soya yang mendengar panggilan tak biasa seketika menghentikan langkahnya. Menatap ke arah Danendra tak suka. "Tuan, apa ada yang salah dengan ucapan saya?" tanya Soya heran.
Danendra yang kesal dengan ucapan Soya kini memilih mendekat. "Coba ulangi kata-kata kamu," ujar Danendra tak terima.
"Tuan, saya hanya bilang Tuan makan kuenya dulu, setelah itu sarapan dan ...." Belum juga Soya melanjutkan ucapannya Danendra langsung menutup bibir Soya.
"Jadi kamu mengusir suami kamu sendiri?" tanya Danendra sembari menatap tajam ke arah sang istri.
Soya seketika menunduk dan melepas tangan Danendra. "Maaf. Tuan, bukan maksud saya mengusir Tuan," tutur Soya takut.
"Lalu, kenapa kamu mengusir saya?"
Soya kini mengangkat wajahnya dan menatap lekat pada wajah Danendra. "Tuan, Tuan memang suami saya, secara hukum saya masih sah menjadi istri Tuan tetapi dalam agama ada tugas dan kewajiban Tuan yang sudah gugur, jadi ...." Soya memutus ucapannya begitu saja dan menutup bibirnya rapat.
"Hash! Kenapa saya? Tuan, 'kan yang berbuat!" seru Soya tak terima.
Danendra kini tertawa menanggapi ucapan Soya. "Baik, seminggu lagi kita perbaharui pernikahan kita agar sah secara agama dan hukum, bagaimana, kamu setuju?" tanya Danendra akhirnya.
Soya yang merasa malu akhirnya memilih tak menjawab dan melanjutkan langkahnya menuju dapur. "Koya. Bagaimana kamu setuju?" tanya Danendra sembari memburu langkah Soya.
"Argh ..., Tuan. Kenapa Tuan mengejar saya dengan pertanyaan itu!"
"Hem ..., ternyata kamu masih Soya yang dulu dan tak salah jika saya mempertahankan perasaan saya," bisik Danendra lirih di telinga Soya dan itu membuat tubuh Soya meremang.
"Tuan, tolong jaga sikap Tuan, karena anak-anak setiap saat bisa masuk ke dapur," tutur Soya sembari beringsut menjauh.
Danendra hanya tersenyum dan merengkuh tubuh Soya agar makin mendekat. "Saya begitu merindukan kamu Soya," Bisik Danendra lirih makin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Diam dan jangan bergerak Soya, biarkan saya memeluk kamu seperti ini."
Soya akhirnya membiarkan saja Danendra memeluknya erat seakan ada ribuan kerinduan yang ingin dia ungkapkan. Cukup lama Danendra memeluk Soya kemudian melepas pelukannya begitu saja dan pergi ke ruang tengah. Nampak Danendra duduk termenung untuk sesaat dan tak lama meraih kopi dan menyesapnya perlahan.
Soya yang sedari tadi melihat dengan heran akhirnya melanjutkan juga memasaknya.
"Huufff ..., kenapa tubuh ini masih gemetar dan kenapa dengan dada ini?" guman Soya sembari sesekali memegang dadanya.
Sehari ini Danendra lebih suka mengekor langkah Soya, kemana pun sang istri pergi, dia juga ada di sisi bahkan berdiri di belakang Soya. "Ash! Tuan, jika Tuan terus bertingkah seperti ini. Bagaimana saya bisa kerja, lihat anak-anak jadi kikuk dan serba salah," tegur Soya akhirnya.
Danendra seketika melihat di mana dia berdiri dengan senyum malu akhirnya Danendra menyeret sang istri dan menariknya masuk dalam rumah. "Temani saya dan duduk di samping saya dengan tenang, jika kamu menolak dalam hitungan menit saya akan menutup toko kue ini," seru Danendra mengancam.
Mendengar ancaman dari sang suami, Soya hanya bisa mendengus kesal, tak berani membantah atau mencela ucapan Danendra karena Soya sadar jika saat ini ada beberapa karyawan yang menggantungkan hidupnya pada Toko kue ini.
"Temani saya Soya, karena besok pagi saya akan pulang untuk mengurus semuanya," ujar Danendra pelan sembari meraih tangan Soya dan menatapnya lekat.
"Terima kasih sudah mau menunggu suami kamu ini. Maaf, jika selama ini saya sudah menyakiti hati kamu," tutur Danendra tiba-tiba.
Soya seakan kehabisan kata-kata. Ada sesuatu yang membuat dadanya terus berdesir saat mendengar setiap ucapan Danendra, seakan setiap ucapan yang di lontarkan menjadi kidung cinta yang indah dan merayu lembut di setiap ucapannya. 'Mungkin saat ini saya betul-betul gila dan ada apa dengan perasaan ini. Apa saya benar-benar mencintai lelaki dewasa ini?' tanya hati Soya.
Soya tak menyangka jika dia bisa duduk dengan nyaman, hanya saling memegang tangan dan sesekali tersenyum saat mendengar Danendra bercerita. Dua insan yang kini sama-sama menyadari bahwa mereka tengah merindukan satu dan yang lainnya. "Soya, jangan pernah pergi lagi dari hidup saya. Saya akan berusaha untuk lebih baik dan itu semua juga demi kamu," tutur Danendra yang membuat Soya seakan terbang ke awan.
"Soya, I love you. Mau kak kamu menikah dengan saya kembali," ucap Danendra tiba-tiba sembari mengecup lembut bibir sang istri.
"Saat ini saya melamar kamu dengan cinta. Mau kah kamu menikah kembali dengan saya?" tanya Danendra ulang.
Soya yang masih terkejut tak bisa berkata apa-apa. Soya hanya memeluk sang suami erat. Pada akhirnya Soya sadar jika penantiannya selama ini tak sia-sia.
"Maaf, jika kamu harus menunggu saya selama ini Soya," tutur Danendra lirih.
__ADS_1