
Soya begitu senang ketika Tuan muda yang begitu menyebalkan mengizinkan Soya untuk pulang ke rumah. Senyum Soya secara tak sadar terus tersungging, "saya akan menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin," ujar Soya lirih.
Pukul delapan pagi Soya sudah bersiap dan akan segera berangkat, setelah meninggalkan pesan di pintu kulkas. "Semoga kutu kupret membacanya," guman Soya sembari melangkah ke depan. Namun, Soya seketika menghentikan langkahnya saat mendengar langkah kaki memasuki rumah. Netra Soya seketika menatap tak suka dengan kedatangan Nella.
"Pagi Non!" sapa Soya akhirnya.
Nella tak menjawab sapaan Soya melainkan memilih duduk di sofa, "Hei. art, di mana Tuan kamu?" tanya Nella sinis.
"Ada, Nona. Tuan ada di kamar," jawab Soya berusaha sopan.
Mendengar jawaban Soya, Nella seketika tersenyum. "Hem ..., tolong buatkan saya jus!" perintah Nella seenaknya.
Soya seketika menatap Nella, "maaf Nona, pagi ini Tuan belum mengisi kulkasnya dan semua bahan habis," jawab Soya jujur.
"Hah! Kamu, buatkan Saya teh atau kopi," pinta Nella semaunya.
"Baik Nona, tetapi setelah ini saya akan pulang," ujar Soya memberitahu.
Nella langsung memandang Soya tak suka, "terserah, tetapi buatkan saya minum dulu dan letakkan di atas," jawab Nella seenaknya.
Soya yang sudah merasa kesal akhirnya hanya mendengus marah sembari menuju dapur. Hingga beberapa menit kemudian Soya sudah menghantar pesanan Nella ke lantai atas. Soya dengan bergegas menuruni anak tangga namun belum juga dua langkah Soya berjalan. Soya seketika menghentikan langkahnya saat Soya mendengar suara Nella yang sedang berusaha merayu Danendra.
"Hash! Ada-ada saja, masih pagi begini," ujar Soya sembari menutup telingannya dan berlalu pergi. "Dasar Tante-Tante dan Om-Om," ujar Soya sembari menutup pintu dengan keras.
Nella yang mendengar suara pintu di tutup dengan keras seakan mendapat kesempatan untuk melanjutkan aksinya. Perlahan Nella naik ke ranjang Danendra yang tengah terjaga dengan ulah Nella. "Pagi sayang," ujar Nella sembari memberikan ciuman hangat pada Danendra.
__ADS_1
"Pagi sayang," jawab Danendra sembari membalas ciuman Nella dengan lebih hangat dan menuntut hingga Danendra menghentikan ciumannya. "Wah, mimpi apa saya semalam hingga bidadari cantik ini mengunjungi saya," ujar Danendra sembari meraih tubuh Nella dan kemudian mengungkungnya di atas ranjang.
"Karena saya mencintai kamu," bisik Nella dengan suara serak.
"Benar, pasti kamu merindukan saya, sudah satu bulan kita tak bertemu," ujar Danendra sembari meraba lekuk tubuh Nella dan memberikan ciuman yang penuh hasrat, hingga mereka sama-sama bergulat dengan hasrat yang tak terkendalikan dan mereka kini hanya memakai penutup area sensitif mereka masing-masing.
Di tengah hasrat yang membuncah, Nella segera mengakhiri percintaan mereka. "Ingat Danendra, kita hanya melakukan hanya sebatas bercumbu dan tidak melakukan lebih dari itu," ujar Nella sembari menutup tubuhnya yang hanya memakai Cd dengan selimut. Nella masih dengan napas terengah memilih duduk bersandar di ranjang.
Danendra yang sudah tersulut birahinya seakan tak rela melepas Nella begitu saja.
"Apa sebagai bukti jika kamu mencintai saya," ujar Danendra sembari meraba tubuh Nella kembali.
"Buktinya, saya akan selalu setia," ujar Nella berbohong.
Seketika bayangan malam di mana Danendra melihat perselingkuhan Nella kembali tergambar jelas di ingatannya. "Sungguh! Nella tak berbohong," jawab Nella sembari membalas pangutan Danendra.
Danendra kini sudah lepas kendali dengan kasar Danendra, memamangut menyusuri setiap lekuk tubuh Nella dan meninggalkan jejak di mana Danendra suka. Nella seketika tersadar dengan napas terengah Nella mendorong tubuh Danendra. "Maaf, Danendra kita sampai di sini saja," tutur Nella sembari menatap Danendra lekat.
"Nella, apa kau tak kasihan dengan saya?" tanya Danendra dengan suara seraknya.
"Maaf, ingat perjanjian kita dan saya akan ke kamar mandi dulu," ujar Nella sembari berdiri.
Namun, Nella begitu terkejut saat mendapati tubuhnya berdiri di cermin. "Danend, kenapa kau memberi tanda hampir di sekujur tubuhku," ujar Nella tak percaya.
Danendra sesaat tersenyum dan berjalan mendekat, "Nella sayang, itu adalah tanda cinta dari saya, bukti bahwa kamu benar-benar milikku," jawab Danendra sembari tersenyum dan menambah satu kecupan di leher Nella. Nella seketika menatap Danendra, "bagaimana saya akan pulang Danen?" tanya Nella khawatir.
__ADS_1
"Tinggal saja di sini dan temani saya, ingat saya ingin bukti sebagai tanda cinta kamu," ujar Danendra sembari memberi kecupan dengan terakhir pada bibir Nella dan bermain sesaat di dua benda yang sudah berdiri menantang.
"Ingat Nella dan pikirkan itu baik-baik," ujar Danendra sembari masuk dalam kamar mandi.
Nella seketika terduduk lemas di sisi ranjang tanpa memakai baju, pikirannya kini sedang kalut akan permintaan Danendra, toh selama ini Nella sudah sering melakukannya dengan pacar yang lainnya, tetapi bagaimana jika Danendra tahu bahwa dirinya sudah, 'Argh ..., bagaimana ini?' tanya Nella dalam hati.
Danendra akhirnya bisa tersenyum senang saat bisa menekan Nella dengan keinginannya, tak lama Danendra keluar dari kamar mandi dan masih melihat Nella duduk termenung, "mandilah, saya akan turun ke bawah," ujar Danendra dengan wajah puas.
Danendra membiarkan Nella begitu saja, saat ini yang sedang dalam pikiran Danendra, bagaimana cara membuat Nella membayar semua kecurangannya dan menahan Nella di rumah ini. Danendra langsung menuju dapur dan minum untuk melegakan tenggorokannya, Danendra sedikit menyerngit saat tak melihat sosok Soya, hingga tatapan Danendra tertuju pada pesan yang menempel di pintu kulkas. Sesaat Danendra tersenyum, "untuk hari ini saya membebaskan kamu Soya," ujar Danendra pelan. Danendra memilih duduk di ruang makan sembari mengulir ponsel miliknya dan mengirim pesan singkat dan tak lama Danendra tersenyum.
Danendra yang duduk dengan senyum-senyum sendiri tak menyadari jika Nella sudah menatapnya sedari tadi. Danend, di mana art kamu?" tanya Nella tiba-tiba dan itu mengejutkan Danendra. "Jangan panggil dia art, dia punya nama sopanlah sedikit," ujar Danendra.
"Kemarilah sayang," ujar Danendra manja.
"Saya, lapar!" jawab Nella sembari duduk di sisi Danendra.
"Kita pesan makan dan minum," jawab Danedra lirih, tak urung Danendra kembali memainkan tangannya di balik baju Nella.
"Kamu seakan tak ada puasnya, sepertinya ada yang aneh," ujar Nella sembari mencegah tangan Danendra untuk menyentuh area sensitifnya.
"Nella, saya butuh bukti akan cinta kamu," ujar Danendra sembari menarik Nella lebih dekat dan mendudukkan Nella di meja makan.
Danendra benar-benar ingin membuat Nella takluk tanpa membuang kesempatan Danendra sudah memasukkan tangannya di dua benda yang sudah kembali menantang, kini area dapur telah terkontaminasi dengan suara ******* Nella dan Danendra yang begitu panas, namun Nella belum juga mau memberikan apa yang Danendra inginkan. Hingga beberapa saat mereka menghentikan cumbuan mereka saat mendengar bunyi bel yang di tekan berulang kali.
"Nella, naiklah ke atas," ujar Danendra bergegas berdiri, sementara Nella tengah membereskan atasannya yang sudah tak beraturan. Danendra hanya tersenyum saat melihat Nella naik ke atas.
__ADS_1