RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 106. Akhir sebuah keputusan


__ADS_3

Soya memilih keluar dari mobil untuk meredakan debaran dadanya, bagaimana pun juga Soya masih merasakan getaran dalam hatinya saat berdekatan dengan mantan suaminya. Soya menghirup udara dalam-dalam hingga dadanya kembali merasa longgar dan sesaat melirik ke arah Danendra.


"Antar aku pulang Mas," pinta Soya pelan.


Soya kembali masuk dalam mobil dengan diamnya, perasaan kesal dalam hatinya sedikit melunak. "Mas, tolong antar saya pulang," pinta Soya untuk kedua kalinya.


Mendengar ucapan Soya, Danendra hanya tersenyum dan melajukan mobilnya tetapi netranya terus melirik ke arah sang mantan istri.


Merasa terus di perhatikan Soya hanya menatap sekilas dan memilih melihat ke arah jalan raya. "Soya, apa kamu masih belum bisa memaafkan saya?" tanya Danendra berusaha mengajak Soya berbicara. Soya hanya mengembuskan napas kesal dan tak merubah tatapannya ke arah jalan.


"Aku memang kesal Mas, tetapi sudah lama aku memaafkan Mas," jawab Soya sembari menatap ke arah jalan.


Mereka berdua sama-sama terdiam mereka berdua seakan sibuk dengan tatapan dan pikiran mereka masing-masing. "Huuff ... andaikan waktu bisa di ulang aku masih ingin kamu disisiku Soya," ucap Danendra akhirnya.

__ADS_1


Soya seketika menatap Danendra aneh. "Semua cerita kita sudah usai Mas. Mas dan aku sudah tak ada hubungan apa-apa. Hubungan kita berakhir saat surat cerai Mas datang ke tangan saya. Tolong jangan pernah menganggu hidup saya lagi," jawab Soya pelan.


Seketika Danendra menghentikan mobilnya kembali menatap tak percaya pada Soya.


"Apa kamu tak ingin memberi saya kesempatan?" tanya Danendra.


Soya hanya tersenyum kemudian menggeleng. "Aku tak tahu Mas untuk saat ini mungkin sebaiknya kita jangan membicarakan itu dulu, menikah saja Mas dengan wanita lain," jawab Soya akhirnya.


"Entalah, Soya tak tahu. Saat ini Soya tak ingin membicarakan tentang pernikahan dan sejenisnya," jawab Soya lagi.


"Soya, jadi kamu mengakui jika Diandra adalah anakku?" tanya Danendra pelan.


"Aku tak ingin menjawab, cari sendiri jawabannya dengan uang dan kekuasaan kamu," jawab Soya dan membuat Danendra makin kesal.

__ADS_1


Danendra hanya bisa menahan semua kekesalan hatinya. Dirinya paham bagaimana sifat keras kepalanya Soya. "Baik, jika aku berhasil membuktikan siapa Diandra, apapun keputusan yang aku buat kamu tak boleh menolak!" tegas Danendra ulang dan berusaha memastikan.


"Jangan pernah memaksa Danendra, kita pulang. Sekarang!" seru Soya marah.


Mereka sama-sama diam dalam perjalanan selanjutnya. Tak ada hal lagi yang perlu untuk di bahas saat ini Soya dan Danendra sudah pada keputusannya sendiri-sendiri hingga akan ada keputusan baru yang mereka buat nantinya.


Dua minggu kemudian, kabar yang di tunggu benar-benar membuat Danendra terkejut. Danendra tak menyangka jika Diandra adalah anaknya. Tangis Danendra seketika luruh, dirinya tak menyangka sudah menyia- nyiakan Soya dan anaknya. Danendra begitu menyesali semua yang selama ini terjadi.


"Bagaimanapun caranya Soya dan Diandra harus kembali di sisiku dan aku pastikan itu akan terjadi," putus Danendra sembari mengikis air matanya dan menyimpan lembar yang di pegangnya.


"Soya, maaf. jika aku terus melukai dirimu untuk yang kesekian kalinya dan berulang kali," gumam Danendra sembari masuk dalam mobil.


Saat ini Danendra tak menyangka jika hidupnya akan sesempurna ini, hadirnya gadis kecil yang selalu membuatnya tersenyum. "Maaf, Diandra jika Ayahmu ini terlambat menyadari semuanya."

__ADS_1


__ADS_2