
"Masuk Bi!" jawab Pak Guntur.
"Maaf, Tuan jika terlambat, Soya tidak berani masuk dan sejak tadi hanya berdiri saja di muka pintu," ujar sang bibi lirih.
Danendra yang sejak tadi geram dengan ulah Soya akhirnya tersenyum penuh kemenangan, "akhirnya kamu tahu harus bersikap Soya," guman Danendra lirih.
"Silahkan Tuan," ujar sang bibi sembari berlalu.
Pak Guntur hanya bisa tersenyum menatap anak semata wayangnya, Pak Guntur sadar jika Danendra tak pernah tersenyum sedikit pun dengan wanita manapun saat berbicara kecuali pada Nella. Tanpa banyak bicara Danendra langsung meneguk kopi miliknya dan berdiri. "Danendra pulang Ayah," pamit Danendra sembari berjalan keluar.
"Koya! Kemasi barang kamu dan kamu ikut saya!" teriak Danendra keras.
"Koya ...!" teriak Danendra lagi.
Soya yang sedari tadi merasa ketakutan akhirnya menurut juga karena tengah tertangkap basah. Membawa tas punggung miliknya dan berjalan ke ruang kerja, berpamitan sesaat pada Pak Guntur dan kemudian memeluk sang bibi erat. "Terima kasih Bi," ujar Soya lirih.
"Hati-hati Non, ingat pesan Bibi," ujar bibi lirih.
Soya dengan takut mengekor langkah Danendra, melihat Soya berjalan lambat, "cepat! Atau saya akan menarik kamu," ujar Danendra sengit.
"Hash! lamban," ujar Danendra akhirnya menarik tangan Soya erat hingga tiba di mobil.
Pak Guntur hanya tersenyum melihat ulah Danendra, "semoga kamu segera menyadari perasaan kamu Danendra," ujar Pak Guntur lirih.
"Bi, melihat Soya, saya seakan melihat sosok istri saya dan perbedaannya Hesti tenang kalem sedangkan Soya," ujar Pak Guntur lirih.
"Tuan, doakan Nyonya tenang di sana," jawab sang bibi sembari melangkah pergi.
Sementara itu di sepanjang perjalanan Soya hanya terdiam dan menunduk takut. Hingga Danendra dengan sengaja berhenti mendadak. "Ash, Tuan. Kepala saya jadi kejedot kan!" seru Soya sembari menggosok kepalanya.
"Mangkanya pakai sabuk pengaman, lagi pula kenapa kamu duduk di belakang, apa saya supir kamu! Ayo, turun dan pindah ke depan!"
__ADS_1
Soya kini hanya menurut dan keluar dari mobil dan langsung duduk di depan. Danendra kembali tersenyum penuh kemenangan. Mobil melaju beberapa saat dan berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar, rumah berlantai dua dengan taman kecil dan garasi. "Buka pintu pagar," ujar Danendra sembari melempar kunci pagar ke arah Soya.
Soya seketika melotot saat Danendra melempar kunci begitu saja, "kenapa juga harus di lempar," gerutu Soya tak terima.
"Cepat, Koya!" ujar Danendra sembari membunyikan klakson berulang kali.
Soya hanya bisa menghela napas, saat perlakuan Danendra begitu tak mengenakkan.
Mobil sudah berada di garasi saat Danendra keluar dari mobil, "lamban, lekas tutup dan kunci pagarnya!" teriak Danendra sembari membuka pintu rumah.
Soya seketika terdiam, bibir Soya seketika kelu saat Soya menyadari posisinya saat ini.
"Bapak, terima kasih. Bapak sukses mempermalukan anak Bapak sendiri," ujar Soya tercekat sembari melangkah masuk.
Soya berhenti sejenak menatap rumah yang akan di tinggalinya dengan status sebagai gadis pembayar hutang. "Masuk! jangan bengong di depan pintu," seru Danendra.
"Cepat, Koya. kamu lamban sekali," ujar Danendra tak sabar.
"Kamar kamu di belakang dekat dapur dan kamar saya di atas. Mulai dari sekarang tugas kamu memasak, mencuci dan membersihkan rumah ini. Oh. ya, kamu harus siap jika sewaktu-waktu saya memerlukan kamu dan ingat jangan sesekali menyentuh kamar saya, ingat itu!" tutur Danendra panjang lebar.
Soya langsung membersihkan ranjang yang terlihat sedikit berdebu, "beruntung kutu kupret itu masih memberikan kamar yang layak," ujar Soya lirih sembari terus membersihkan kamar yang akan di tinggalli.
Langkah Soya terhenti saat pandangannya tertuju pada pintu yang tertutup rapat. Perlahan Soya membuka pintu, "Argh! Tolong ... "teriak Soya keras sembari berlari keluar dari kamar.
Danendra yang sedari tadi duduk di ruang tengah seketika menatap tajam ke arah Soya, "ada apa?" tanya Danendra kesal. "Tu-Tuan, ada-ada kecoak dan argh ..." teriak Soya takut dan berlari ke bekakang mengambil sapu.
Danendra masih bingung menatap tingkah Soya, "ma-maaf, Tuan," ujar Soya sembari menghantam punggung Danendra dengan keras. "Soya ...!" teriak Danendra geram.
"Kamu! Berani-beraninya memukul saya!" seru Danendra marah.
"Maaf, Tuan tetapi di punggung Tuan ada kecoak yang terbang dan langsung hinggap di punggung Tuan," ujar Soya menjelaskan.
__ADS_1
"Kecoak?" tanya Danendra cemas.
"Betul Tuan dan sekarang jatuh di kaki Tuan," ujar Soya pelan.
Danendra langsung melihat ke arah yang di tunjuk Soya, "bersihkan cepat!"
"Baik, Tuan," jawab Soya takut.
Soya dengan gemetar berusaha, membersihkan kecoak yang masih setengah mati atau setengah sadar dan lekas membuang ke tempat sampah.
"Tuan, di kamar mandi kamar Soya ada banyak kecoak, tolong Soya di beri obat pembasmi kecoak," ujar Soya.
"Hash, kamu! Baru datang dan itu obatnya di sana, setelah itu kamu kemari, ada hukuman untuk kamu karena sudah memukul punggung saya," ujar Danendra tak terima.
"Baik Tuan! Ash ..., begitu saja mau menghukum," gerutu Soya pelan.
"Koya, saya mendengar dan hukuman kamu bisa dua kali lipat," ujar Danendra tak mau kalah.
Soya hanya mendengus kesal sembari masuk dalam kamar dan kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Soya sengaja memperlambat pekerjaanya karena Soya tahu jika pekerjaan Soya selesai pasti ada hukuman yang menanti Soya. Setelah semua beres Soya langsung membersihkan diri dan duduk di kamar mandi cukup lama. Merasa tak ada sirine memanggil dengan tenang Soya keluar dari kamar mandi. Namun langkah Soya terhenti saat melihat sosok yang berdiri di depannya dengan amarah.
"Hebat, bagus sekali Koya, hampir tiga puluh menit kamu di kamar mandi, oke mulai besok air di dalam kamar mandi akan saya matikan," ujar Danendra seenaknya.
"Jangan Tuan, maaf. Soya mengaku salah," ujar Soya pelan.
"Baik, tetapi ada hal yang harus kamu lakukan. Ayo!" tarik Danendra seenaknya.
"Tuan, jangan begini sakit Tuan," rengek Soya sembari berusaha melepaskan tangannya.
"Argh ..., jika kamu merengek dapat saya pastikan hukuman kamu makin bertambah," ujar Danendra sembari melepaskan tangan Soya.
"Lihat Tuan, tangan Soya merah," ujar Soya sembari mengusap tangannya.
__ADS_1
"Masa, bodoh. Sekarang ambilkan saya air putih," ujar Danendra.
Soya bergegas mengambil air putih dan memberikan pada Danendra, hingga beberapa saat, "buatkan saya teh hangat," ujar Danendra dan langsung di balas oleh Soya dengan tatapan yang sulit di artikan. "Aneh!" ujar Soya sembari menuju dapur.