RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 52. Belajarlah


__ADS_3

Danendra segera masuk dalam mobil, tetapi untuk beberapa saat Danendra masih diam hingga Danendra berdecak kesal saat melihat Soya duduk di kursi belakang. "Soya, pindah ke depan," ujar Danendra lirih.


"Soya ...," pinta Danendra pelan.


"Ta-tapi Tuan."


"Baik, hukuman bertambah," ujar Danendra santai.


Soya dengan wajah cemberut akhirnya menuruti perintah Danendra, memilih duduk merapat di sisi pintu mobil. Danendra yang sudah melaju sesaat melirik ke arah Soya.


"Soya jangan terlalu ke ujung nanti kamu jatuh," ujar Danendra sembari menatap ke arah jalan raya.


Soya masih teguh pada pendiriannya tubuhnya tak beringsut sedikit pun.


"Cek! Duduklah sedikit menengah Soya," pinta Danendra.


"Jika kamu tak beringsut dari situ, sungguh saya akan menghentikan mobil ini di tengah jalan!" ujar Danendra kesal.


Soya yang mendengar ancaman dari Danendra akhirnya menurut juga dengan takut Soya duduk mendekat. "Nah, begitu," ujar Danendra sembari tersenyum.


Sepanjang perjalanan Soya hanya diam dan Danendra terus tersenyum. "Soya duduk lebih mendekat," ujar Danendra pelan.


Soya yang tak ingin mendapat ancaman akhirnya duduk lebih mendekat.


"Soya, pegang ini!" perintah Danendra.


"Apa, Tuan?" tanya Soya bingung.


"Itu yang bergerak-gerak di bawah!" jawab Danendra sembari fokus dengan kemudinya.


"Tuan, apa yang harus Soya pegang dan apa yang gerak-gerak?" tanya Soya polos.


"Akh. Soya, itu yang di bawah yang bergerak-gerak!" ujar Danendra ngotot.


Soya yang sedari tadi mencari benda yang di maksud akhirnya hanya bisa pasrah. "Akh, Soya bingung Tuan, apa yang bergerak?" tanya Soya bingung.


"Akh, kamu! Ini ayo, pegang!" perintah Danendra.


"Tu-Tuan. Soya enggak mau, Soya takut Tuan!" jawab Soya sembari menunduk.


"Harus mau dan harus belajar dari sekarang," ujar Danendra.


"Enggak Tuan," jawab Soya menolak.


"Kamu istri saya Soya dan mulai sekarang kamu harus belajar," ujar Danendra.


"Ta-tapi ...."


"Hash, kamu kelamaan Soya begini saja kamu tak mau," ujar Danendra.


Soya yang sedari tadi berusaha menolak akhirnya hanya bisa terdiam, tubuh Soya seketika gemetar keringat yang sedari tadi bersembunyi kini satu persatu muncul hingga membuat tubuh Soya menghangat.


Danendra yang sedari tadi merasa nyaman dan terus tersenyum saat Soya mau memegang dan tak menolak, tangan yang saling mengenggam dan Danendra cukup faham jika ini untuk pertama kalinya Soya memegang tangan seorang laki-laki.


Tangan Soya yang gemetar dan dingin membuat Danendra serasa menjadi lelaki istimewa mendapatkan sosok Soya yang begitu polos.


"Soya, mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk memegang tangan suami kamu," ujar Danendra.


"Akh. Tuan, lepaskan tangan Soya," ucap Soya mencoba untuk berontak.


Danendra tak menggubris ucapan Soya, Danendra semakin erat memegang tangan Soya. "Tuan, jangan begini," ujar Soya takut.


Danendra hanya menatap Soya sekilas. "Ini hukuman untuk kamu Soya dan kamu harus terus memegang tangan saya hingga tiba di rumah Ayah," ujar Danendra tak mau di bantah.


"Tapi Tuan."


"Baik akan saya lepas," ujar Danendra sembari melepas tangannya dari Soya dan melepas tangan yang satu lagi dari kemudi.


Mobil tiba-tiba melaju kehilangan arah tetapi Danendra masih membiarkan dan tak berusaha untuk memegang kemudi.


"Tuan ...!" teriak Soya takut saat mobil yang mereka naiki melaju lebih kencang.

__ADS_1


"Tinggal pilih, kita mati bersama atau kamu mau meraih dan mengenggam tangan saya dengan senang hati," ujar Danendra kembali mengancam.


"Baik Tuan, tolong jangan bertindak bodoh. Saya akan memeluk lengan Tuan," ujar Soya sembari beringsut duduk lebih mendekat dan memeluk lengan Danendra.


Soya yang terlihat menengang sepanjang jalan membuat Danendra tersenyum. "Sudah, jangan tegang seperti itu. Ingat tiba di rumah Ayah kamu harus memeluk lengan saya seperti ini," ujar Danendra semaunya.


Soya tak menjawab dan langsung merengangkan pelukannya. "Soya capek, Tuan seenaknya saja menyuruh-nyuruh Soya. Soya, 'kan malu Tuan, apa kata Bibi dan Tuan Guntur belum lagi Kak Zulhan," cicit Soya sembari menunduk.


Mendengar ucapan Soya Danendra langsung tertawa. "Apa hubungannya Ayah, Bibi, Zulhan maupun Pak Muin, mereka juga tahu," ujar Danendra sembari memeluk tubuh Soya.


Soya yang terkejut akhirnya mendorong tubuh Danendra pelan. "Jangan peluk-peluk!" tolak Soya sembari cemberut.


Danendra hanya tertawa menanggapi ucapan Soya, belajarlah menjadi istri yang baik dan sekarang tunjukkan pada Ayah bahwa Soya adalah menantu yang baik," ujar Danendra pelan.


"Soya, enggak mau! Soya kesal dengan Tuan. Soya-Soya, huaw .... huaw ...."Tangis Soya langsung luruh.


"Soya kesal Tuan, Tuan selalu mengancam, Tuan-Tuan, selalu membuat Soya khawatir dan belum lagi Non Nella yang selalu bersikap kasar, Soya kesal Tuan," ujar Soya di sela-sela tangisnya.


Danendra seketika sadar sesaat, bahwa Soya terlalu banyak mendapatkan tekanan akhir-akhir ini. Danendra memilih menghentikan laju mobilnya dan menepi sesaat, Danendra hanya menatap Soya dengan tangisnya. "Maaf, Soya," ucap Danendra tulus.


Perlahan Danendra mendekat, menangkup wajah yang kini tengah menangis. Mengikis air mata yang terus luruh. "Maaf, jika saya terlalu kasar dan egois, sudah jangan menangis malu nanti saya di ledekin sama Bibi," ujar Danendra lirih dan memeluk Soya.


Danendra tak percaya jika Soya tak menolak pelukannya ada perasaan hangat dan tenang saat ini. Perasaan yang lama hilang.


"Sudah, Soya sudah tidak kesal lagi tetapi ingat jangan membuat Soya takut dan jangan mengancam lagi," ujar Soya sembari mengusap air matanya.


Danendra hanya tersenyum mendengar ucapan Soya dan melepaskan pelukannya perlahan. "Baik, kita lanjutkan perjalanan dan belajar menjadi seorang istri," guman Danendra lirih sembari kembali melaju Soya tanpa di minta langsung meraih tangan Danendra dan memegang dengan suka rela.


Perjalanan yang terkesan berputar-putar hingga Soya sadar. "Tuan kenapa kita berputar-putar terus, tangan Soya juga pegal kalau harus pegangan terus," protes Soya.


"Kita tidak berputar-putar Soya, kita sudah sampai," ujar Danendra sembari menghentikan mobil tepat di depan rumah.


Danendra segera turun dari mobil dan Soya hanya mengekor langkah Danendra dari belakang, hingga tatapan Soya tertuju pada sang Bibi yang tengah menyiram bunga di halaman. "Bibi ...!" teriak Soya memanggil dan berlari mendahului Danendra.


"Ee ..., Non Soya," ujar sang Bibi sembari tersenyum.


"Tuan Muda silahkan masuk, Non ayo!" ajak sang bibi.


Hingga Soya melepaskan tangannya saat melihat Tuan Guntur turun dari tangga.


"Tuan!" panggil Soya hormat dan langsung meraih tangan Tuan Guntur.


Danendra yang sedari tadi tersenyum takluput dari penglihatan sang Ayah. "Senang kalian datang," ujar Tuan Guntur bahagia.


"Tuan saya mau menemui Bibi," ujar Soya sopan.


"Silahkan Soya," ujar Tuan Guntur.


Tuan Guntur sesaat menatap heran ke arah wajah Soya. "Ada apa dengan wajah Soya?" tanya Tuan Guntur curiga.


Danendra yang tak ingin mendapat tatapan curiga dari sang ayah akhirnya secara detail Danendra menceritakan apa yang terjadi hingga kejadian pagi ini. Tuan Guntur akhirnya tertawa saat mendengar cerita Danendra akan tangis Soya yang kesal.


Hingga beberapa saat kemudian.


"Jangan terlalu keras Danend, Soya masihlah sangat kecil dan usia kamu dan Soya juga terpaut begitu jauh, jadi bersabarlah ajari perlahan tentang apa itu cinta dan buat Soya mencintai kamu," tutur sang ayah pelan.


Percakapan dua laki-laki dewasa yang membuat mereka tak sadar jika di kamar sang Bibi kini Soya tengah mengadu semua kekesalan hatinya, hingga kejadian tadi pagi Soya ceritakan juga.


"Bi, Soya tak paham dengan semua ini, Siya seakan terombang ambing dan kemarin Soya tiba-tiba sudah menikah dengan Tuan Danendra, apa itu benar Bi?" tanya Soya bingung.


Sang Bibi langsung tersenyum. "Sudah, semua benar adanya dan pernikahan kalian sah dan dalam satu minggu kemarin Tuan muda sudah mengurusnya, karena Soya sendiri tak ada kerabat atau saudara jadi semua sudah di urus dengan Tuan besar dan Tuan muda, mulai sekarang Soya harus belajar bagaimana menjadi istri yang baik dan mencintai Tuan muda," ujar bibi menjelaskan.


Soya kini hanya bisa terdiam, semua seakan seperti mimpi. "Soya capek Bi, ujar Soya sembari merebahkan tubuh di ranjang sang bibi.


"Non, sebaiknya Nona tidur di kamar Tuan muda," ujar Bibi pelan.


"Enggak mau Bi. Soya takut, takut jika Tuan muda memperlakukan Soya seperti Non Nella," ujar Soya sembari menguap.


"Maksud Nona?" tanya sang bibi penasaran.


Soya yang sedang mengantuk akhirnya menceritakan semua kejadian yang di lihatnya, saat Danendra dan Nella bercumbu di hadapannya maupun di kamar mereka, tetapi makin lama suara Soya makin melemah dan kini yang terdengar suara napas Soya yang terdengar berembus teratur.

__ADS_1


Sang bibi menatap Soya lekat tak terasa air mata sang bibi turun begitu saja. "Kasihan kamu Soya," ujar sang bibi sembari mengusap lembut wajah Soya.


Suara Danendra pelan yang tiba-tiba terdengar membuat sang bibi terkejut.


Sang Bibi hanya menatap Tuan mudanya lekat tanpa banyak bicara sang bibi langsung menjewer Danendra.


"Anak nakal, apa yang sudah kamu lakukan dengan Nella dan Tuan tahu Soya begitu takut Tuan," ujar sang bibi lirih.


"Maaf, Bi!" ujar Danendra malu.


Sang bibi menatap lekat wajah Tuan muda, ada gurat penyesalan yang membuat sang bibi tak tega. "Tuan, sebaiknya Tuan dekati Non Soya perlahan dan buat Non Soya percaya dengan Tuan," ujar sang bibi menasehati.


"Cek! Gara-gara Tuan, keinginan Tuan besar untuk menimang cucu jadi gagal. Tuan muda juga sudah hampir tiga puluh tahun," ujar sang bibi tak semangat.


Danendra yang mendengar omelan sang bibi hanya bisa terdiam dan menggaruk kepalanya.


"Biarkan Non Soya tidur, jangan di ganggu," ujar sang bibi melarang.


"Tapi Bi, bolehkan duduk di sisinya?" tanya Danendra.


"Tuan ini kamar Bibi dan jangan sesekali Tuan memindahkan Non Soya," ujar sang bibi melarang keras.


"Tuan muda menginap saja, nanti dua kamar yang kosong akan bibi kunci," ujar sang bibi memberi solusi.


Danendra dengan berat hati akhirnya membiarkan Soya tidur di kamar sang bibi. Namun, bukan Danendra jika tak bisa membuat sang bibi sibuk sesiang ini.


Danendra dengan tenangnya meminta sang bibi untuk memasak semua masakan kesukaannya. Melihat sang bibi sibuk di dapur Danendra dengan perlahan naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sisi Soya, menatap wajah cantik Soya, alis Soya yang lebat, hidung mancung dan bibir seksi Soya. Danendra hanya bisa menahan onak di dalam hatinya.


"Tidurlah Soya, saya hanya ingin menatap kamu seperti ini," guman Danendra lirih dan terus menatap wajah Soya.


Soya yang tidur terlelap tak menyadari jika saat ini Soya tidur seranjang dengan Danendra, hingga hembusan napas yang harum yang menerpa hidungnya. "Perlahan Soya mengercapkan mata, Soya perlahan membuka mata hingga tatapan Soya tertuju pada wajah yang ada di depannya.


Danendra yang menyadari Soya terkejut, Danendra langsung membekap mulut Soya agar tak berteriak hingga beberapa saat kemudian. "Husstt ..., jangan berisik nanti saya di marahi Bibi," ujar Danendra pelan.


Soya hanya menurut seakan ada hipnotis di ucapan Danendra. "Tuan, Tuan kenapa tidur di sini?" tanya Soya pelan.


Danendra yang mendapat pertanyaan aneh dari istrinya seketika menatap Soya tajam.


"Lalu kenapa kamu tidur di sini, ini bukan kamar kamu," ujar Danendra sembari turun dari ranjang dan duduk di sisi ranjang.


Soya hanya menunduk takut tak berani menjawab hingga suara panggilan sang bibi mengejutkan mereka. "Non Soya ...."Panggil sang bibi terputus saat melihat Tuan muda yang duduk di sisi ranjang.


"Non. Tuan, Tuan besar memanggil," ujar sang bibi sembari menatap Tuan muda dengan penuh tanya.


Merasa di perhatikan Danendra langsung memeluk sang bibi. "Tenang Bi, Danendra tak melakukan apa-apa, Danend hanya rindu dengan istri Danend," bisik Danendra dan langsung mendapat jeweran dari sang bibi.


Tuan Guntur yang melihat ulah Danendra hanya bisa tersenyum senang, sementara Soya hanya bisa menunduk malu. "Nona, bersihkan tubuh dulu," ujar sang bibi.


Soya tak segera menjawab dan hanya menggeleng hingga beberapa saat kemudian.


"Bi, Soya enggak bawa ganti, Tuan muda juga enggak bilang jika pulang malam," ujar Soya berbisik.


Sang bibi langsung tersenyum dan menghampiri Danendra entah apa yang bibi bisikkan hingga membuat Danendra menatap Soya lekat. "Soya, ayo!" ajak Danendra tiba-tiba.


Soya makin menunduk saat Tuan Guntur ikut menatap. "Maaf, Tuan Guntur," ujar Soya kikuk.


Mendengar ucapan Soya, Tuan Guntur langsung menatap tak suka. "Soya, mulai sekarang jangan memanggil dengan sebutan Tuan, Ayah itu panggilan yang tepat," ujar Tuan Guntur mengingatkan.


"M-maaf, Tuan. Eh, Ayah," jawab Soya pelan tetapi tak juga beranjak dari tempatnya.


Danendra yang sejak tadi mengunggu hanya bisa menatap dengan geram. "Soya, cepat!" ujar Danendra tak ingin di bantah.


Soya akhirnya menghampiri Danendra juga.


Memasuki kamar besar Soya sedikit terkejut tatapan Soya segera terputus saat Danendra melempar kaos berwarna putih ke arah Soya.


"Pakailah, setelah mandi gunakan kaos ini.


Jangan keluar dari kamar jika saya belum memanggil," ujar Danendra sembari duduk di sofa kamar.


"Soya, mulai sekarang kamar ini juga milik kamu dan jangan pernah tidur di kamar Bibi, ingat itu!" ujar Danendra sembari mengulir ponsel miliknya.

__ADS_1


__ADS_2