
"Ibu, Ibu ada di sini?" tanya Soya gembira.
"Bi, ini Bu Muji!" terang Soya sembari memeluk Bu Muji erat dan tak lama melepas pelukannya.
"Bu Muji kenalkan ini Bibi saya, keluarga saya satu-satunya," akunya.
Sang bibi langsung menatap Soya hingga Soya meraih tangan sang bibi. "Bi, kenalkan ini Bu Muji, Ibu yang dulu sering membantu Soya," jelas Soya.
"Senang berkenalan dengan Anda," seru sang bibi sembari mengulurkan tangan dan tak lama melepas jabatan tangan mereka.
Setelah basa basi yang mereka lakukan kini Bu Muji menatap Soya heran dan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Soya, kamu akan kemana? Kota ini begitu jauh dari rumah kamu, lalu ...." Ucapan Bu Muji terhenti saat Soya memintanya untuk diam.
"Bu, saya sedang mencari seseorang di Kota ini, benar 'kan Bi?" tanya Soya pada sang bibi.
"Eh, hiya. Be-benar!" jawab sang bibi bingung.
"Wah, kalau begitu kalian mampir dulu ke rumah Ibu, Ayo! Kita naik angkot berwarna hijau dan menginaplah Soya," ujar Bu Muji senang.
Soya kembali menoleh ke arah sang bibi seakan meminta persetujuan. "Baik Bu!" jawab Soya akhirnya.
Menaiki angkot berwarna hijau, Soya tak menyangka jika jalanan yang di lewati benar-benar masih suasana pedesaan. "Bu, apa semua penduduk sini bertani?" tanya Soya pelan.
"Benar Soya, Ibu tadi juga dari Terminal dan di dekat Terminal ada pasar," jelas Bu Muji dan tak lama kemudian.
"Stop Pak!" teriak Bu Muji.
Turun dari angkot Soya kangsung meraih tangan sang bibi, menggenggam erat hingga sang bibi merasa kesakitan. "Non, jangan keras-keras," ujar sang bibi lirih.
"Maaf, Bi," jawab Soya lirih dan mengekor langkah Bu Muji.
__ADS_1
"Nah, kita sudah sampai. Ayo masuk," ajak Bu Muji sembari membuka pagar.
Soya dan sang bibi sesaat terdiam menatap rumah besar dengan bangunan sederhana, halaman yang luas dan satu hal yang Soya suka dari rumah Bu Muji, ada berbagai jenis buah yang di tanam di sini. "Loh, kok melamun. Ayo Bi, Soya, masuk!" pinta Bu Muji.
Soya dengan tersenyum melangkah masuk beriringan dengan sang bibi. Senyum Soya seketika terkembang, beban hati yang di bawanya serasa menghilang begitu saja.
"Bi, saya suka tempat ini dan saya ingin tinggal di sini. Apa Bibi setuju?" tanya Soya berbisik sembari duduk di kursi ruang tamu.
"Boleh, tapi Non Soya akan kerja apa di sini?" tanya bibi bingung.
"Bi, semua bisa di atur yang pasti kita cari tempat untuk tinggal dulu," bisik Soya ulang.
Bu Muji yang keluar dari dalam sesaat tersenyum saat melihat Soya dan bibi sedang berbisik. "Eh, kok bisik-bisik," seru Bu Muji sembari meletakkan nampan yang dibawanya. "Silahkan Soya, Bibi," ujar Bu Muji mempersilahkan.
Menikmati kudapan sederhana dan saling menanyakan kabar membuat percakapan mereka pada pertanyaan Bu Muji yang memojokkan Soya. Soya masih belum bisa berkata jujur dan menceritakan semuanya pada Bu Muji. "Soya, menginaplah, lihat wajah kamu memucat dan istirahat saja," tutur Bu Muji akhirnya.
Soya hanya bisa mengangguk dan menghiyakan saja permintaan Bu Muji.
"Boleh, Ibu tak keberatan di rumah Ibu hanya sendiri, suami Ibu sudah meninggal satu tahun lalu," cerita Bu Muji sendu.
"Bi, kita sekamar saja," pinta Soya.
"Soya, apa kamu jadi menikah dengan anak Tuan Guntur?" tanya Bu Muji tiba-tiba.
"Apa ada masalah?Apa perlu Ibu menghubungi Tuan Guntur?" tanya Bu Muji akhirnya.
Soya tak menyangka jika Bu Muji masih mengingat semua kejadian itu. Soya hanya menunduk untuk beberapa saat, kemudian menatap ke arah Bu Muji. Ada perasaan bersalah di hati Soya saat sadar jika dirinya telah berbohong. "Bu, jika saya menceritakan semuanya, apa Ibu bisa membantu Soya dan Bibi saya?" tanya Soya akhirnya.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Jika saya menceritakan semuanya, apa Ibu bisa menyimpan rahasia ini. Soya harap Bibi tidak menceritakan keadaan saya pada Tuan Guntur sebagai mertua saya." Soya menatap lekat Bu Muji seakan ingin mencari kejujuran di netra yang mulai menua.
Bu Muji seketika menghela napas panjang dan berat. "Baik, saya akan bantu asal Soya dan Bibi berkata jujur," tutur Bu Muji lirih.
Soya dengan rinci menceritajan semua kejadian yang di alaminya dan akhirnya memilih menjauh dan pergi dari semua yang membuatnya sakit. Bu Muji seketika memeluk Soya seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Bi. Soya, tinggal saja di sini dan saya akan menjaga rahasia ini. Menurut Ibu, sudah sepantasnya laki-laki itu mendapat hukuman," beo Bu Muji sembari menatap nanar ke arah halaman.
"Ya, sudah Bibi dan Soya istirahat saja," ujar Bu Muji sembari tersenyum dan melangkah masuk tak lama kembali sembari membawa kunci rumah.
"Sebaiknya Soya dan Bibi tinggal di rumah Ibu yang berada di kampung sebelah, karena saya khawatir akan ada yang mencari kalian kemari," tegas Bu Muji.
"Maksud Ibu?" tanya Soya pelan karena daat ini tubuhnya tiba-tiba meriang dan kepalanya berdenyut sakit.
"Hampir satu tahun yang lalu, ada orang yang mencari kamu!" cakap Bu Muji.
Soya seketika meraih tangan sang bibi dan memegangnya erat. "Bu, sebaiknya saya pergi saja dari kampung ini," tutur Soya pelan.
"Soya, kalian tinggal di sini saja, tempati rumah Ibu di kampung sebelah," pinta Bu Muji.
Soya sesaat terdiam, badanya tiba-tiba meriang tetapi berusaha untuk di tahannya.
"Soya, ayo kita berangkat dan kita naik angkot saja." Bu Muji sembari keluar dan menutup pintu.
Sang bibi yang sedari tadi melihat Soya sedikit terkejut saat tubuh Soya tiba-tiba berkeringat. "Non, Non Soya baik-baik saja?" tanya sang bibi khawatir.
"Soya baik Bi," jawab Soya sembari menyandarkan kepalanya di bahu sang bibi.
Perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka tiba juga di kampung yang di maksud. Turun dari angkot Soya masih berusaha menahan tubuhnya yang serasa semakin membuatnya tak nyaman. Melangkah perlahan hingga mereka tiba di rumah yang di maksud, rumah sedikit kecil dan terdapat taman kecil dengan pagar yang kokoh. "Masuk Soya, Bibi. Kalian akan aman di sini dan saya busa pastikan itu," tegas Bu Muji memastikan.
"Masuk dan lihat dalamnya," tutur Bu Muji setelah membuka pintu rumah.
__ADS_1
Namun, berbeda dengan Soya, sedari tadi berusaha menahan tubuhnya kini hanya diam tak berdaya, keringat dingin semakin banyak dan saat langkahnya memasuki rumah. Tubuh Soya seketika oleng dan bersamaan tubuhnya jatuh dan tak sadarkan diri.