RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 47. Nella Menggila


__ADS_3

Soya masih duduk di sofa untuk beberapa saat, menuruni anak tangga dengan perasaan lega, meskipun semua nantinya bisa menjadi


penyesalan entah itu Danendra ataupun Soya.


"Ikhlas Soya menjalani ini, semua demi kebaikan orang tua Soya," guman Soya melangkah menuju kamar dan duduk dengan tenang menatap lembar yang belum beres.


Soya mengerjakan dengan tenang dan berulangkali memeriksa hingga semua hitungan dan angka sudah tepat dan sesuai.


"Huuff ..., tinggal lima lembar," ujar Soya sembari meniup-niup anak rambutnya yang turun hingga mata.


Soya menghentikan kegiatan sejenak saat mendengar suara berisik di pagar.


"Hash! Pasti Mbak kunti," ujar Soya sembari berdiri dan keluar.


"Benar," guman Soya saat mengintip melalui tirai jendela.


Soya dengan malas membuka pintu pagar dan tak lama menguncinya kembali.


"Lelet amat!" ujar Nella sambil keluar dari mobil.


Soya hanya diam dan mengekor langkah Nella. "Hai. Kamu!" teriak Nella keras.


"Hish, Non Nella. Nama saya Soya dan tolong bicaranya jangan pake teriak!" ujar Soya kesal.


"Buatkan saya minum dan masak sekalian," ujar Nella sambil duduk dan mengambil rokok dan kemudian menyulutnya.


Soya yang melihat tingkah Nella hanya bisa mengelus dada. "Non, sebaiknya Nona merokok di teras dan balkon. Lagi pula aromanya menyebar ke seluruh ruangan Nona," ujar Soya memberitahu.


Nella seakan tak terima dengan ucapan Soya, Nella langsung berdiri dan menarik tangan Soya. "Oke, saya matikan tetapi tangan kamu yang harus jadi asbaknya," ujar Nella dan langsung menyulutkan rokoknya yang menyala ke tangan Soya hingga padam.


"Nona, ini sakit," ujar Soya tak terima.

__ADS_1


"Hah, sakit? kamu pembantu berani mengatur saya," ujar Nella berusaha menarik rambut Soya.


Soya yang tak terima perlakuan Nella langsung menangkis tangan Nella dan mendorong tubuh Nella hingga jatuh di sofa.


"Nona sudah saya bilang jangan menyakiti saya, karena saya akan membalas perlakuan Nona," ujar Soya sembari meniup tangannya yang memerah.


"Oh, ya. Jika Nona ingin makan dan minum silahkan! Nona buat sendiri dan di meja makan masih ada masakan tadi pagi," ujar Soya sembari masuk dalam kamar mencari obat gosok dan sejenisnya.


"Dasar kuntilanak," guman Soya sembari mengoles minyak di tangannya.


Suasana rumah seketika sepi, Nella masih duduk di sofa tengah dan terus mengulir ponselnya, hingga kembali Nella berteriak memanggil Soya.


"Argh ...! Selalu seperti itu," ujar Soya dan menghampiri Nella.


"Kapan Danendra pulang?" tanya Nella kesal.


"Ah, Nona. Mana saya tahu yang mau jadi istri Tuan muda 'kan Nona, jadi Nona yang lebih tahu ke mana Tuan muda pergi dan kapan datangnya," tutur Soya dan langsung membuat wajah Nella memerah.


Sementara itu Soya memilih masuk kamar dan melanjutkan pekerjaannya. Soya yang sedang fokus dengan hitungannya tak menyadari jika Nella secara diam-diam masuk dalam kamar Soya dan memperhatikan Soya.


Nella masih berdiri untuk beberapa saat dan Nella begitu terkejut saat mendengar guman Soya tanpa sengaja. Nella masih memperhatikan hingga menuju lembar kedua Nella baru paham saat Nella menyebut nama kantor Danendra.


Nella yang begitu penasaran kini mendekat dan mengambil satu lembar berkas yang di kerjakan Soya. Nella seketika terbelalak heran. "Kamu! Kamu dapat dari mana?" tanya Nella curiga.


"Nona!" ujar Soya sembari berdiri dan mengambil lembar kertas yang sempat di baca oleh Nella.


"Kamu! Dari mana kamu dapat kertas ini?" tanya Nella sembari berkacak pinggang dan menatap Soya tajam.


"Oh. Lembar ini, 'kan, laporan tahunan perusahaan Tuan muda, banyak kecurangan dan benar-benar banyak kesalahan," ujar Soya sembari merapikan lembar yang sempat tercecer.


Soya tak menyadari jika Nella langsung meraih tumpukan yang Soya atur hingga jatuh berserakan. "Nona, apa maksud Nona! Nona sungguh membingunkan," ujar Soya sembari jongkok memungut kembali lembar yang tercecer.

__ADS_1


Nella dengan amarahnya langsung menarik rambut Soya. Soya yang merasa kesakitan langsung berdiri berusaha mengikuti tangan Nella. "Nona, apa salah saya, saya hanya melakukan tugas," ujar Soya sembari meringis kesakitan dan berusaha melepaskan tangan Nella.


"Saya jadi heran, kenapa Nona selalu marah dengan saya, jika Nona ada masalah dengan Tuan muda jangan limpahkan pada saya," ujar Soya sembari menatap Nella tajam.


Nella yang merasa takut jika kecurangannya selama ini terbongkar akhirnya memilih untuk diam dan duduk dengan tatapan nyalang. Berkali-kali Nella mengulir ponselnya hingga dengan kesal Nella melempar ponsel tersebut ke arah Soya hingga mengenai kepala Soya.


Soya yang sejak tadi berusaha sabar menghadapi sikap Nella yang menggila akhirnya Soya berjalan mendekat ke arah Nella. "Terima ini dan rasakan bagaimana sakitnya di timpuk ponsel," ujar Soya sembari melempar ponsel ke arah kepala Nella.


"Bagaimana sakit, 'kan? Ingat ini terakhir kalinya Nona menyakiti saya!" ujar Soya tegas dan pergi begitu saja hingga langkah Soya terhenti di ruang makan. "Harus ada pelajaran untuk cewek arogan seperti kamu Non Nella," guman Soya lirih sembari mengompres jidatnya yang benjol.


Sementara itu, Nella yang juga merasakan sakit yang sama hanya diam menatap ke arah Soya, entah apa yang sedang di pikirkan saat ini tetapi dari sorot matanya jelas terlihat jika Nella begitu marah dan takut.


Soya masih terus mengawasi Nella dari kejauhan karena Soya sadar jika saat ini Nella begitu masih tersulut emosinya. Cukup lama Nella dan Soya berdiam diri hingga Nella pergi begitu saja tanpa berpamitan dan yang terdengar hanya teriakan Nella keras untuk membuka pagar.


Kepergian Nella merupakan hal ternyaman dan terindah yang Soya rasakan, meskipun berkali-kali meringis sembari memegang jidatnya yang sakit Soya tersenyum sesaat.


"Semoga Tuan muda betah jika mendapat istri seperti Non Nella," guman Soya sembari mengadu lirih saat jidatnya kembali terantuk meja.


Satu persatu Soya kembali mengumpulkan dan menata kembali lembar yang berserak.


Soya masih dengan posisi jongkok menatap lembar yang di pegangnya. Soya seakan baru menyadari sikap aneh Nella.


"Ada apa dengan Non Nella, apa Non Nella?" tanya Soya sembari menggeleng tak paham.


Melihat sikap Nella tak urung hati Soya seketika merasa iba, sesaat ada pergolakan batin tentang keputusan yang akan di buatnya nanti.


"Kasihan!" akhirnya ucapan ini yang ke luar dari bibir Nella.


"Hash! Kenapa si kutu kupret itu juga perginya terlalu lama, Soya sudah bosan menghadapi tingkah Nella yang makin hari makin menyusahkan," guman Soya dan memilih berbaring di ranjang.


Sehari ini bertemu dengan berbagai macam karakter membuat Soya benar-benar lelah dan bosan. Memilih tidur untuk menghilangkan penat yang di rasakan Soya sehari ini.

__ADS_1


__ADS_2