
"Kak Zulhan, tolong periksa hitungannya," ujar Soya sembari menyerahkan lembar pertama.
"Tunggu Kak, ini Kak Zulhan yang mengerjakannya?" tanya Soya tanpa memperdulikan tatapan Danendra.
"Bukan, ada bagian admint yang mengerjakan," tukas Zulhan sembari menatap lembar yang di pegangnya.
Mendengar jawaban dari Zulhan, Soya langsung kembali memeriksa lembar kedua, "Hash! Mengerjakan pembukuan sederhana begini kenapa banyak yang salah," ujar Soya lirih dan kembali fokus pada lembar di depannya.
"Kak, sepertinya ... "Ucapan Soya terhenti dan berjalan mendekat ke arah Zulhan dan membisikkan sesuatu.
"Sungguh!" jawab Soya memastikan.
"Begini Kakak copy ulang dan akan saya kerjakan, nanti Kakak cek ulang," ujar Soya pelan.
"Kamu bisa?" tanya Danendra ragu.
"Tuan meragukan saya, meskipun saya enggak lulus SMA tetapi ini pelajaran yang begitu mudah," ujar Soya semangat.
"Bagaimana Kak. Kakak setuju, anggap saja Soya sedang mengasah otak lagi," ujar Soya semangat sembari turun dari lantai atas.
Danendra masih menatap langkah Soya hingga hilang dari pandangannya. "Bagaimana?" tanya Zulhan sembari tersenyum.
"Bagaimana apa?" tanya Danendra bingung.
"Ya, ini! Lalu apa?" tanya Zulhan pelan.
Danendra dan Zulhan kini terdiam dan tak lama saling menatap seakan memahami sesuatu, "selidiki ini Zulhan dan besok tolong bawa pembukuan satu tahun terakhir. Biar Soya memeriksanya dan untuk sementara bekukan pengeluaran uang kantor, nanti akan saya konfirmasikan dengan Ayah, awasi saja wanita itu," ujar Danendra sembari mendengus kesal dan meminum tehnya hingga tandas.
__ADS_1
"Jaga rumah, ini waktu saya untuk bertemu dengan Nella," ujar Danendra dengan wajah bahagia.
"Danen, bukankah wanita itu?" tanya Zulhan terputus.
"Zulhan. Kamu selidiki saja, ingat secara diam-diam," ujar Danendra sembari menuruni tangga.
"Koya, buka pagar," ujar Danendra sembari keluar.
Soya yang kesal dengan panggilan nama untuknya dengan cemberut sembari melakukan tugas yang di berikan oleh Danendra. Soya hanya bisa menatap mobil yang melaju dengan kencang meninggalkan rumah.
"Kenapa? Mobilnya juga sudah pergi?" tanya Zulhan mengejutkan Soya.
"Kak, Zulhan mau pergi juga?" tanya Soya untuk menutupi malu.
"Hem, ada sesuatu yang harus Kakak urus dan di atas banyak tugas yang harus kamu bereskan dan ingat setelah itu turun, kerjakan di kamar Soya. Oh, ya. Setelah ini kunci pintu rapat-rapat," tutur Zulhan sembari melakukan motornya.
Soya segera mengambil cangkir dan membersihkan sisa-sisa teh yang tumpah.
Senyum Soya seketika terkembang saat mendapati note yang menempel di map plastik. "Oh, jadi ini tugas itu?" tanya Soya lirih sembari mengambil map dan membawanya turun. "Sebaiknya saya kerjakan di meja dapur saja," guman Soya lirih sembari meletakkan map yang di bawahnya.
Soya bergegas mencuci cangkir dan menyimpannya. Soya dengan tatapan senang segera membuka map, membaca dan meneliti setiap angka yang tertera. Hingga malam Soya dengan semangat masih berkutat dengan lembar-lembar angka yang membosankan.
Sementara itu, di sebuak kafe yang cukup terkenal dan ramai duduk seorang laki-laki dengan penuh amarah. Laki-laki yang sedang menatap sepasang kekasih yang tengah bergelut bertukar saliva, saling memangut dan menyesap penuh hasrat dengan tanpa malunya di depan para pengunjung dengan sinar lampu berwarna warni membuat suasana dalam Kafe meremang di tambah hentakan suara musik yang membuat telinga penging.
Danendra, laki-laki yang tanpa sengaja melihat siluet sang kekasih tengah berjalan mesra di halaman Kafe, merasa penasaran akan siluet yang begitu di kenalinya akhirnya Danendra memutuskan untuk mengikuti hingga masuk dalam kafe. "Shiit ... "Umpat Danendra saat laki-laki yang menjadi pasangan sang kekasih mulai mencumbu dan mulai meraba semua tubuh Nella.
Danendra hanya bisa menahan amarahnya, 'jadi ini yang menyebabkan Nella hanya bertemu dengan saya satu bulan sekali?' tanya Danendra pada hatinya sendiri.
__ADS_1
Danendra yang memilih duduk sedikit menjauh masih terus mengawasi semua kegiatan Nella dan kekasih selingkuhannya.
"Shiit," umpat Danendra sembari menghabiskan tegukan terakhirnya, kepala Danendra kini mulai pusing dan pandangannya mulai memudar. Danendra hanya bisa tertawa keras dan terus mengumpat.
Danendra sungguh tak menyangka wanita yang begitu di hargai akan menusuk Danendra dari belakang. Danendra melangkah dengan gontai menuju area parkir, memasuki mobil dengan pikiran yang berkecamuk anatara kecewa, sakit hati dan ada hal terbodoh yang Danendra tak lakukan. Di hati Danendra tak ada keinginan sedikitpun untuk melabrak atau memukuli mereka berdua.
Berkali-kali Danendra meracau menyesali kebodohannya dan terlalu percaya dengan sang pujaan hati, "Nella, kamu begitu munafik," tutur Danendra lirih dan terjatuh di kemudi mobil.
Danendra flsahback on
Di antara sadarnya Danendra mengingat percakapan dengan sang bibi, beberapa jam ke belakang. Malam ini, saat Danendra melajukan mobilnya dengan perasaan berbunga menuju rumah Nella. Danendra dengan senyum senang keluar dari mobil, berjalan dengan langkah ringan memasuki halaman rumah. Danendra sudah menekan bel berulang kali tetapi sang pujaan hati tak kunjung keluar dari dalam rumah. "Loh, Nak Danendra, bukannya tadi Nella sudah pamit keluar dengan Tuan?" tanya sang bibi.
Danendra hanya diam menatap wajah sang bibi tak percaya, "maaf. Bi, Kalau begitu saya permisi," tutur Danendra sopan.
Sang Bibi yang merasa kelepasan bicara langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Danendra masih melihat dengan jelas kecemasan di wajah sang bibi. "Oke. Nella kita bermain sekarang dan jika benar semuanya terbukti tunggu akibat yang kamu perbuat," ujar Danendra sembari melajukan mobilnya.
Danendra flashback off
Danendra masih dengan posisi awal, kepala yang pusing dan terus memikirkan ulah Nella yang diam-diam sudah selingkuh di belakangnya, Danendra kini hanya tersenyum entah apa yang sedang di pikirkan saat ini. Marah, benci atau perasaan yang lainnya dan hanya Danendra yang mengetauhinya.
Perlahan Danendra melajukan mobilnya, Danendra hanya bisa merancau dan mengumpat kesal tak jarang tangannya memukul sting kemudi untuk melampiaskan marah yang di pendamnya. Berhenti tepat di pintu pagar rumahnya Danendra tak henti-hentinya membunyikan klakson untuk memanggil Soya. "Hash! siapa malam-malam begini membunyikan klakson dengan keras?" tanya Soya pada dirinya sendiri sembari membereskan lembar yang di kerjakan.
"Hah! pukul dua belas malam!"seru Soya sembari berjalan menuju ruang tamu dan mengintip melalui tirai, "bukankah itu Tuan Danendra?" tanya Soya sembari membuka pintu dan bergegas lari menuju pagar, membuka pagar hingga mobil masuk di halaman rumah.
Soya sedikit terkejut saat Danendra keluar dengan bau yang menyengat. "Ash, Tuan!" ujar Soya sembari menutup hidung dan sedikit menjauh.
Menyadari ada hal yang tak beres dari sikap Danendra, Soya hanya melihat dari jauh, hingga.
__ADS_1