RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 12. Habis tak tersisa


__ADS_3

Ucapan Soya seakan menyadarkan ingatan sang Ibu, Bu Warti segera menuju kamar dan membuka almari. Bu Warti segera mencari Map biru yang di sembunyikan di bawah tumpukan baju, "Soya ... " teriak Ibu memanggil. Soya bergegas berlari menuju kamar, "Ya Bu!" jawab Soya cepat.


"Soya, bantu Ibu mencari map berwarna biru yang ibu simpan di bawah tumpukan baju," ujar Ibu sembari terus membalik baju di almari. "Soya, jangan-jangan ... " ujar Ibu khawatir. "Bu, ada apa? Soya enggak menemukan Map yang Ibu maksud," ujar Soya pelan.


Seketika tubuh Ibu terduduk di lantai, "habis sudah, semuanya habis dan rumah ini," ujar Bu Warti lirih. Bu Warti hanya bisa menangis, tubuhnya semakin lemas dan terus menangis hingga Soya hanya bisa duduk dengan pasrah. "Bapak sungguh keterlaluan, seburuk inikah Soya dan Ibu, hingga Bapak tak memikirkan masa depan Soya dan kelangsungan hidup kami, Soya benci dan sangat membenci Bapak," tutur Soya lirih.


Kini Soya dan sang Ibu hanya bisa duduk terpekur menatap kosong sembari mengikis air matanya. "Bu, jika rumah ini di ambil alih oleh renternir, kita akan tinggal di mana Bu, Soya tak bisa membayangkan jika Kita harus mengontrak rumah, lalu penghasilan kita hanya sebesar itu," ujar Soya pelan.


Semua seakan menjadi gelap, pemikira Soya saat ini hanya tertuju pada hutang dan hutang dan belum lagi tunggakan uang SPP.


"Hah! Soya akan juakan sahja Bu, Soya akan bantu Ibu mengumpulkan uang," ujar Soya sembari berduri dan menuju kamar mandi dan tak lama Soya sudah keluar lagi dengan wajah yang sembab, "Bu Soya berangkat," ujar Soya berpamitan.


Bu Warti hanya mengangguk lemah. Namun, semua seperti di luar kendali Bu Warti, sesaat Bu Warti meringis saat merasakan mual dan sakit kepala yang bersamaan dengan terhuyung Bu Warti menuju kamar mandi, rasa mual bercampur pusing kini makin menjadi hingga akhirnya Bu Warti hanya bisa diam saat Bu warti jatuh dan terduduk di lantai kamar mandi.


Hingga kedatangan Soya menjelang sore hari, membuat Soya sedikit heran saat tirai jendela belum tersingkap, "Bu," panggil Soya sembari menuju kamar, langkah Soya terhenti saat mendengar jawaban lirih sang Ibu dari arah kamar mandi.


"Bu ...!"teriak Soya kencang.


"Bu, Ibu ... "ucapan Soya terhenti saat mengetauhi jika tubuh sang Ibu panas.


"Bu, maafkan Soya," ujar Soya sembari berusaha mengangkat tubuh sang Ibu. Setelah membaringkan sang Ibu di ranjang, Soya langsung keluar dan tak lama kembali dengan seorang tetangga yang bekerja di rumah sakit sebagai perawat. "Mbak, tolong lihat Ibu Mbak, saya takut jika terjadi apa-apa dengan Ibu," ujar Soya sembari mengekor langkah Mbak tetangga.

__ADS_1


"Soya, tenang. Mbak akan melihat kondisi Ibu Soya," ujar Mbak ini tenang.


Memasuki kamar Mbak perawat sedikit terkejut, tetapi Mbak perawat berusaha tersenyum, "sore Ibu, saya lihat kondisi Ibu," ujar Mbak perawat sembari memeriksa kondisi Ibu hingga beberapa saat.


"Soya, apa Ibu sering mengalami hal demikian?" tanya Mbak perawat sembari menarik Soya keluar dari kamar. "Soya, Ibu Warti mempunyai sakit lambung yang sangat parah. Tolong bawa Ibu ke Dokter agar bisa di tangani dengan baik," ujar Mbak perawat.


Soya yang mendengar ucapan Mbak perawat hanya bisa tertunduk lesu, "Mbak! Tolong, untuk membawa Ibu ke Dokter Soya tak memiliki banyak uang, tetapi sebentar Mbak!" ujar Soya masuk dalam kamar sang Ibu dan tak lama keluar lagi. "Mbak. Ibu biasa meminum obat ini secara rutin dan kadang Ibu berkali-kali meminumnya," tutur Soya memberitahu. Sejenak Mbak perawat melihat obat yang di berikan Soya dan membaca resep yang tertulis.


"Soya, ini sudah benar dan obat ini juga sudah sesuai," ujar Mbak perawat sembari memberikan obatnya lagi pada Soya.


"Soya, tolong jaga emosi Ibu, jaga emosi Ibu Soya stabil dan satu hal, saat ini Ibu Siya sedang tertekan, terus di minum obatnya hanya itu saja Soya, jaga emosi ibu dan beri ketenangan pada Ibu," ujar Mbak perawat sembari menatap Soya.


"Mbak, terima kasih," ujar Soya.


Selepas kepergian Mbak perawat, Soya segera ke kamar sang Ibu. "Bu, Ibu makan ya? Setelah itu Ibu minum obat," tutur Soya pelan.


Ibu hanya menggeleng menolak suapan Soya, Ibu hanya berbaring diam dan terus menatap langit-langit kamar. "Ibu capek Soya, Ibu ingin istirahat, Soya keluar saja dari kamar Ibu," ujar Ibu lirih sembari mengubah posisi tubuhnya beringsut sedikit miring memunggungi Soya.


"Bu ... "panggil Soya pelan.


"Soya, istirahat saja," tutur Ibu pelan.

__ADS_1


Soya akhirnya pergi juga dari kamar sang Ibu, Soya sadar jika semua rasa lelah semakin Ibu rasakan karena ulah Bapak. Melewati dapur Soya madih melihat map coklat tercecer begitu saja di atas meja, Soya kembali mengumpulkan lembar yang tercecer dan menyatukan kembali, tetapi netra Soya kini melihat tulisan tangan Bapak di balik surat perjanjian yang terlewat Soya perhatikan.


Soya membaca tulisan tangan almarhum sang Bapak dengan seksama, "tidak-tidak, ini semua bohong," tutur Soya tak percaya.


"Lalu kemana sertifikat rumah, jika di sini tertulis tidak memakai jaminan rumah, tetapi barang yang lebih berharga dan apa itu?" tutur Soya sendiri.


"Bapak! Bapak, argh ..., kenapa semuanya jadi seperti ini," guman Soya marah.


Soya dengan cepat membereskan surat yang tercecer di meja dan menyimpannya di kamar, Soya kembali keluar saat mendengar suara sang Ibu yang beberapa kali terbatuk.


"Bu, Ibu makan ya?" tanya Soya lirih.


"Soya, ini sudah jam berapa? Kenapa sepi dan semuanya terdengar ..., Bu Warti seketika menghentikan ucapannya saat menyadari Soya sudah tidur di sisi ranjang sembari memeluk.


"Bu, Ibu sehat-sehat ya, sekarang Ibu tak perlu berjualan, Ibu di rumah saja dan satu hal Soya hanya ingin Ibu merasa tenang," ujar Soya lirih. Bu Warti kini hanya bisa menatap Soya tanpa banyak kata, menatap netra yang susah basah dengan tangisnya.


"Soya!" panggil Bu Warti sembari memeluk Soya.


"Kita istirahat saja Bu, Soya ingin Ibu lekas sehat," ujar Soya sembari memeluk erat dan memejamkan mata. Soya hanya terpejam meskipun kini Soya tengah berpikir keras bagaimana cara mencari kerja dengan gaji yang lumayan, karena gaji dari membersihkan rumah sudah Soya buat untuk membayar hutang Bapak yang tersebar di beberapa orang dan hasil menjual kue Soya gunakan untuk biaya hidup sehari-hari, Soya mulai hari ini tak berani menunjukkan kesedihannya di depan sang Ibu, sesuai saran Mbak perawat. Soya hanya busa berpura-pura baik saja dan semuanya akan Soya lalui dengan tenang.


Namun, ketenangan macam apa yang akan Soya hadapi, hanya Soya sendiri yang tahu. Hingga akhirnya Soya terlelap dalam pelukan sang Ibu.

__ADS_1


__ADS_2