
Perjalanan yang cukup jauh, Soya sesekali tersenyum saat melihat ulah Diandra gadis mungil yang begitu aktif, bibirnya tak pernah berhenti menayakan ini dan itu hingga Diandra terlelap dalam pangkuan sang bibi. Soya hanya bisa menatap kosong memandang ke sisi jendela tetapi tangannya terus memegang tangan Diandra.
"Non, Non yakin dengan tujuan Non Soya?"
"Ya, Bi. Benar kata kak Hazal saya terlalu egois. Tak selayaknya Diandra mengalami semua ini," tutur Soya sembari menatap Diandra.
Soya dan bibi sama-sama terdiam hingga mobil mereka memasuki rumah yang lama tinggalkan. Sejenak Soya menatap ke arah rumah, senyumnya terkembang seakan mengingat kenangan lama yang kembali teringat.
"Non ...."Panggil bibi lirih membuyarkan lamunan Soya.
"Iya, Bi. Soya turun dulu." Soya sembari menggendong tubuh Diandra.
Keluar dari mobil Soya sedikit terkejut saat mendengar teriakan seorang wanita yabg tengah mengandung. Berjalan dengan perut besarnya dan berusaha menyongsong kedatangan Soya.
"Bu- Bu, Soya ... kenapa enggak bilang-bilang jika mau datang," ujarnya sembari meraih tangan Soya dan bibi bergantian.
"Mas ... Bu Soya datang dengan Bibi cepat bantu!" seru Sekar memanggil suaminya.
"Sekar ... sudah, biarkan saja," ujar Soya sembari berjalan masuk rumah.
Memasuki rumah Soya segera menidurkan Diandra dan kembali keluar. Sang bibi sudah sibuk mengatur tas yang dibawanya. Sekali lagi Soya tersenyum melihat perkemvangan toko miliknya.
"Bu, silahkan." Sekar meletakkan nampan di meja.
"Terima kasih Sekar, bagaimana kabar kamu dan yang lainnya?"
"Baik, Bu. Oh, Ya. Kenalkan ini suami saya," ujar Sekar saat melihat suaminya masuk ke ruang tamu.
Soya seketika menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Kamu ...." Soya terkejut.
Laki-laki ini hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya untuk beberapa saat kemudian duduk dengan tersenyum malu. "Hash ... kenapa ketemu kamu di sini juga," jawab laki-laki ini.
"Bi, sini cepat kemari Bi, lihat siapa suami Sekar," panggil Soya heboh.
Bibi dengan tergopoh langsung ke luar dari kamar dan Bibi langsung menatap ke arah laki-laki yang duduk didepannya dengan malu.
__ADS_1
"Hash ... anak bandel, kemari peluk Bibi," pinta bibi tak sadar sembari menitikkan air matanya.
"Bagaimana kabar kamu Nak Zulhan, Bibi tak menyangka jika kamu berjodoh dengan Sekar," ujar sang bibi sembari mengusap punggung Zulhan.
Sang bibi melepas pelukannya dan menangkup wajah Zulhan yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Mengusap wajah yang terlihat berubah dan kurus.
"Apa yang terjadi Nak Zulhan, bagaimana kabar yang lainnya?" tanya sang bibi sedih.
Zulhan tak segera menjawab pertanyaan sang bibi tetapi netranya melirik ke arah Soya dan tak lama menunduk. Soya yang melihat reaksi Zulhan seketika menatap Sekar seakan mencari tahu akan sikap diamnya Zulhan.
"Kak Zulhan, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Soya gusar.
"Apa yang terjadi, bagaimana dengan Ayah?" tanya Soya memburu.
Zulhan hanya bisa menghela napas kasar dan menggeleng seakan tak sanggup untuk menceritakan hal yang diketauhinya. Zulhan sesaat menatap ke arah Sekar sang istri. Zulhan seketika berganti menatap ke arah Soya dan bibi bergantian.
"Soya ...."Panggil Zulhan sembari mengembuskan napas berat.
Zulhan cukup lama terdiam. "Mas, ceritakan saja, biar Bu Soya tahu apa yang terjadi," celetuk Sekar akhirnya.
"Sekar ...."Zulhan memanggil untuk mengingatkan.
Sekar hanya menunduk mengikuti sikap sang suami untuk waktu yang cukup lama, hingga tangis Diandra terdengar dari kamar.
"Kak Zulhan, tolong ceritakan saja. Andaikan ini bukan demi Diandra saya tak akan datang kemari," jelas Soya akhirnya.
Zulhan masih dengan diamnya dan tak lama Soya kembali ke luar dari kamar sembari menuntun Diandra.
"Ibu, siapa Om ini. Apa dia Tuan besar?" tanya Diandra.
"Ibu, Diandra ingin Ayah Hazal dan Ibu cantik."
"Diandra, ingat apa pesan Ibu," tegas Soya berbisik dan Diandra langsung mengangguk.
"Diandra, kenalkan Om, ini adalah suaminya Tante Sekar dan Om ini bukan Tuan besar sayang," tutur Soya pelan.
__ADS_1
"Sekar ajak Diandra bermain di halaman," ucap Zulhan tiba-tiba.
Sekar yang paham akan maksud sang suami dengan pelan meminta Diandra ikut dengannya menuju halaman. Setelah melihat Diandra sudah duduk di halaman Zulhan menyadarkan tubuhnya berusaha duduk dengan tenang. Cukup lama Zulhan menatap ke arah halaman seakan menyakinkan dengan apa yang dilihatnya. Menatap Diandra lekat tanpa berkedip sedikitpun.
"Soya, Diandra .... apa dia?" tanya Zulhan terhenti.
"Kak, Soya tak akan menjawab semua pertanyaan Kakak jika Kakak tak cerita," tegas Soya.
"Kamu, masih saja keras kepala Soya."
Soya akhirnya tersenyum benar kata Kak Hazal, jika kami perlu suasana baru dan orang yang pertama temui adalah Sekar dan Zulhan sesaat Soya melirik ke arah Zulhan dengan senyum aneh dan itu membuat Zulhan geram.
"Bi, Soya, ada hal yang terjadi setelah kepergian kalian," tutur Zulhan sembari mengembuskan napas panjang dan berat.
Zulhan flashback on
Soya kejadian ini terjadi bersamaan dengan kepergian kamu untuk yang kesekiankalinya.
Tuan besar meminta pada saya untuk mengejar dan menyusul kalian, tetapi perjalanan saya terhenti saat mendengar berita bahwa Danendra mengalami kecelakaan bersama Cintya. Mobil mereka terjun ke dalam jurang setelah pertengkaran mereka. Cintya dinyatakan meninggal setelah satu bulan mendapat perawatan di rumah sakit, sedangkan Danendra mengalami luka yang serius, seluruh tubuhnya terluka oleh pecahan kaca dan kakinya harus di operasi untuk pemasangan pen karena kakinya terluka parah.
Danendra harus ke luar masuk rumah sakit hanya untuk menyembuhkan satu kakinya.
Setelah semua mulai stabil Tuan besar kembali meminta saya untuk memantau kamu dan anehnya harus di sini. Tuan besar akan datang satu bulan sekali, sementara Danendra memilih pergi jauh dari kota ini untuk memulihkan kesehatannya.
Zulhan flashback off
"Zulhan ...." Soya memanggil untuk memastikan.
"Benar Soya, Danendra saat ini benar-benar sakit," jawab Zulhan.
"Ibu ...."Teriak Diandra keras dan menghentikan percakapan mereka.
Soya seketika mengalihkan pandangannya netranya langsung tertuju pada Diandra.
"Diandra ada apa?" tanya Soya heran.
__ADS_1
"Tante, Bu. Tante ...."Cicit Diandra bingung.
Zulhan menatap Diandra sesaat kemudian langkahnya memburu untuk sesaat tetapi tak lama kemudian Zulhan tersenyum sembari menatap Soya dan Diandra bergantian.