RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 7. Rasa tak percaya


__ADS_3

Soya segera berlari memburu menuju tubuh sang Ibu yang tergeletak lemas. Soya sekuat mungkin berusaha mengangkat tubuh sang Ibu. "Bu. Sadar Bu," panggil Soya berulang kali. Berkali-kali Soya mengoncang tubuh sang Ibu sembari mengoles minyak kayu putih di hidung sang Ibu. "Bu, jangan begini Bu. Soya takut Bu!" ujar Soya terus menerus. Cukup lama Soya berlaku demikian hingga tangan Bu Warti memegang tangan Soya lemah. "Ibu baik-baik saja Soya, hanya tubuh Ibu yang lemah," tutur Bu Warti lemah.


Soya seketika tersenyum saat mendengar ucapan sang Ibu. "Soya, tolong ambilkan obat Ibu di tas," ujar Bu Warti pelan. Soya yang mendengar permintaan sang ibu segera berdiri dan mengambil obat yang di maksud.


"Ibu obat apa ini?" tanya Soya sembari membaca resep yang tertulis di dalam wadah plastik.


Setelah membaca resep, Soya langsung meletakkan begitu saja obat yang di pegangnya, "Ibu, maafkan Soya. Soya tak pernah menyangka jika Ibu sakit seperti ini," ujar Soya sembari membantu sang ibu untuk duduk.


Setelah minum obat yang Soya berikan Bu Warti kini beringsut turun dari ranjang. "Soya ini hari pertama Bapak meninggal. Ibu sudah bilang ke para tetangga kalau kita tidak mengadakan kenduri jadi segera kita mengambil wudhu kita bacakan doa," ujar Bu Warti lirih.


Malam semakin larut saat kami mengakhiri membaca doa, sungguh Soya tak menyangka jika kemiskinan hidup yang di alami membuat Ibu dan Soya harus tetap bertahan dan berusaha sebaik mungkin.


"Soya, mulai besok kita harus lebih giat untuk bekerja dan untuk membayar hutang Bapak, Ibu akan berjualan setelah tujuh hari Bapak Soya," ujar Bu Warti lirih.


"Bu, apa tidak menunggu masa idah habis," ujar Soya pelan. "Soya, jika Ibu menunggu hingga selama itu, apa kita bisa membayar hutang Bapak yang jumlahnya tidak sedikit itu. Soya jika Ibu hanya mengandalkan kamu saja, itu tak akan mengurangi meskipun Ibu tahu penghasilan kita yang memang begitu tak mencukupi untuk hidup kita bahkan untuk membayar hutang Soya," ujar Ibu sembari menatap jauh ke depan dan tak lama yang terdengar hanya suara napas Ibu yang berat.


"Bu, kita istirahat saja," ujar Soya sembari membantu sang ibu berdiri. Di dalam kamar Soya hanya bisa berbaring menatap langit-langit kamar, ada sesak di dadanya saat mengingat semua ucapan sang ibu, rasa tak percaya jika bapak meninggalkan begitu banyak hutang yang kini menjadi beban ibu dan Soya. Soya semakin tenggelam dalam pemikirannya, "Argh ..., jika terus begini apa yang harus Soya lakukakan, apa Soya harus mencari pekerjaan lain, tetapi Soya tak tahu harus bekerja apa?"


Soya yang lelah dengan pemikirannya sendiri kini memilih menarik selimut dan tak lama Soya pun sudah terlelap dalam mimpi.


Pagi hari, pagii ini hari kedua setelah kepergian sang bapak, Soya sengaja tidak masuk sekolah dan memilih membantu ibu untuk membersihkan kamar dan beberapa hal lainnya, tak banyak yang Soya lakukan toh semua perkakas di rumah sudah menghilang sebagai pengganti uang pinjaman sang bapak. "Bu," panggil Soya saat melihat ibu duduk terdiam. "Ibu, jika ibu lelah istirahat saja, Soya akan membereskan semua," ujar Soya pelan.


"Soya!" panggil sang Ibu.


"Ya," jawab Soya cepat. "Soya, lihat catatan hutang bapak yang masih belum terbayar dan sudah tanggal berapa sekarang?" tanya Ibu.

__ADS_1


Soya segera mengambil buku dan menyerahkan pada sang ibu. "Soya sekarang sudah tanggal ..., "ya, ampun Soya coba ambil dompet Ibu," ujar Bu Warti cemas.


Setelah Soya memberikan dompet yang di msksud bu Warti segera menghitung uang yang di masukkan begitu saja.


Perlahan Soya dan ibu menghitung uang yang terkumpul, lembar abu-abu, ungu, coklat dan hijau mereka pisahkan. "Bu, uangya sudah terkumpul sebesar dua ratus ribu," ujar Soya pelan.


"Coba llihat Soya, nominal berapa yang tertulis di tanggal sekarang," ujar bu Warti.


"Bu, jika kita memberikan ini pada Pak Sobirin kekurangannya masih banyak Bu," ujar Soya pelan. "Huufff, biarkan saja uangnya di buku itu Soya, biar nanti siapa yang datang lebih dulu ibu akan memberi uang ini," ujar Ibu sembari menghitung siapa saja yang belum terbayar.


"Soya, tolong simpan saja buku ini," ujar ibu pelan sembari berdiri lalu membereskan tempat tidur.


"Soya, tolong buang sprei dan yang lainnya," ujar Ibu setelah memilah barang kotor sisa Bapak.


Soya sadar jika dalam diam ibu ada sakit hati yang ibu tutupi. Soya juga tak percaya jika ibu sekuat ini meskipun berkali-kali tersakiti oleh Bapak.


"Bu. Ibu di rumah saja! Soya akan keluar," ujar Soya pelan.


"Kamu akan ke mana Soya?" tanya Bu Warti heran.


Soya tak menjawab pertanyaan sang ibu, hanya tersenyum dan berlalu. Langkah Soya terhenti di depan pintu saat melihat Om Sobirin sudah berdiri di ruang tamu.


"Eneng," panggil Pak Sobirin genit.


"Pagi menjelang siang Om," jawab Soya sembari melirik jam.

__ADS_1


"Silahkan duduk, sebentar saya ambilkan uang pembayaran hutang Om," ujar Soya.


Soya bergegas masuk dalam kamar dan tak lama keluar lagi, "maaf, Om. Soya baru bisa membayar dua ratus ribu rupiah, tolong Pak Sobirin terima," ujar Soya sembari menyodorkan uang yang di maksud.


Om Sobirin menghitung uang pecahan yang di terimanya dan kemudian Om Sobirin memasukkan dalam sakunya, "Eneng Soya, Om akan mengikhlaskan sisa hutang Bapak kamu asal kamu mau menemani Om semalam saja," ujar Om Sobirin berusaha meraih tangan dan mencolek dagu Soya.


Soya yang mengetauhi tabiat Om Sobirin segera beringsut menjauh dengan marah.


"Om Sobirin tolong jaga ucapan Om, mending saya membayar hutang saya daripada saya harus menjual tubuh saya pada Om. Tolong Om Sobirin pergi dari sini, ingat Om jangan berpikiran macam-macam," tegas Soya marah.


"Agh, Eneng. Kenapa Eneng marah! Kalau Eneng enggak mau, mungkin Ibu Eneng," tutur Pak Sobirin tanpa malu.


Soya seketika meradang saat mendengar nama sang Ibu di sebut-sebut, tanpa bayak kata Soya langsung menampar Pak Sobirin.


"Plak! tamparan ini untuk mulut dan pikiran Om Sobirin yang kotor, Pergi!" usir Soya dengan marah.


Om Sobirin segera memegang pipinya yang terasa panas dan menatap Soya tajam. "Apa, masih kurang tamparan saya, ingat Om jika Om berani macam-macam dengan ibu saya, ingat nama saya Soya," ujar Soya marah.


"Pergi, Om sebelum saya kehilangan akal sehat saya," tutur Soya geram.


Om Sobirin segera melangkah pergi sembari memegang pipinya


"Dasar anak dan Bapak sama," seru Om Sobirin yang makin menyulut emosi Soya.


"Argh, Pergi!" teriak Soya marah.

__ADS_1


"Dadah Eneng cantik, Om Sobirin akan menunggu jika Eneng berubah pikiran," ujar Om Sobirin sembari mengerling genit.


Soya yang sejak tadi sudah emosi dan kini hanya bisa menatap kepergian laki-laki tengik yang melukai perasaannya. "Ya, Allah," tutur Soya dalam tangis meratapi kemiskinannya.


__ADS_2