RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 9. Apa yang harus Soya lakukan


__ADS_3

Soya memasuki rumah dengan tersenyum kecut, "maaf. Pak, bukan maksud Soya untuk berbohong, tetapi Soya juga paham jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk menagih hutang, karena saat ini baik Soya dan Ibu tak memiliki begitu banyak uang," guman Soya lirih sembari menatap Pak Ruslan yang berjalan makin menjauh dari balik tirai jendela. "Siapa Soya?" tanya sang ibu tiba-tiba.


"Ibu, membuat Soya terkejut saja," ujar Soya.


"Soya, siapa tamu tadi?" tanya ibu lagi.


"Pak Ruslan Bu, mencari Bapak dan mau menagih hutang," ujar Soya lemas.


"Lalu, di mana Pak Ruslan?" tanya Ibu lagi.


"Pak Ruslan sudah pergi, ke rumah Bapak, lagi pula Pak Ruslan mencari Bapak," ujar Soya tanpa merasa bersalah.


"Soya. Apa yang kamu lakukan, kenapa menyuruh Pak Ruslan ke makam Bapak," ujar Bu Warti geram.


"Argh, pasti ini akan menjadi masalah," gerutu Bu Warti sembari menatap Soya tajam.


Soya hanya bisa menunduk, "maaf, Bu. Soya salah," ujar Soya untuk beberapa saat.


"Bu, tadi Soya jualan habis dan ini uang hasil jualan, tetapi boleh Soya minta sepuluh ribu untuk pegangan Soya," ujar Soya sembari menyerahkan uang pada sang Ibu.


"Argh, kamu Soya. Kamu mau menyuap Ibu dengan hasil jualan kamu," ujar Bu Warti sembari menerima uang dari Soya.


"Ingat Soya, jangan berbuat itu lagi," ujar Bu Warti mengingatkan. "Maaf, Bu," ujar Soya menimpali.

__ADS_1


"Bu, Soya hanya geram saja, Sepeninggal Bapak masih saja ada yang datang untuk menagih hutang, memang seberapa banyak Bapak menghutang, daftar pembayaran hutang di buku kita saja semuanya belum lunas, masa akan ada penambahan daftar baru lagi," ujar Soya sembari duduk termenung.


Bu Warti seketika meringis saat mendengar ucapan Soya, "Soya, Ibu harap Soya bisa sabar dan tahu harus bersikap seperti apa," ujar Bu Warti pelan. "Soya, lekas mandi dan makan setelah itu Soya segera istirahat dan terima kasih untuk uang yang Soya berikan," ujar Bu Warti sembari berdiri dan kemudian masuk dalam kamar.


Soya hanya bisa mendengus kesal terhadap kesabaran sang ibu dalam menghadapi situasi saat ini.


Suasana malam ini begitu sepi, Soya masih belum terlelap saat mendengar suara ibu yang merintih pelan menahan sakit. Soya dengan langkah tergesa menuju kamar sang ibu. "Bu, Ibu sakit lagi? Kita ke Dokter ya, Bu!" pinta Soya pelan. Bu Warti hanya menggeleng sebagai tanda penolakan, "buatkan Ibu air hangat saja Soya," tutur Bu Warti pelan.


Langkah Soya kini serasa berat, bukan karena permintaan sang Ibu, tetapi sakit yang Ibu tiba-tiba derita, "akh. Apa yang harus Soya lakukan, hanya uang hasil penjualan sore tadi yang kami punya," tutur Soya lirih sembari menunduk. Soya kemudian berdiri dan mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.


Setelah melihat sang ibu menghabiskan air hangat dan meminum obat, Soya memilih tidur dengan sang ibu, hingga pagi menjelang Soya terbangun, "Bu!" panggil Soya dengan sedikit berteriak.


Soya sedikit menuju ke dapur, "Ibu, apa yang Ibu lakukan?" tanya Soya, saat melihat sang Ibu sudah memasak di dapur.


Soya sekilas melihat ke arah jam, benar kurang satu jam waktu berangkat ke sekolah.


Soya bergegas menuju kamar mandi dan setelahnya bersiap dengan tergesa Soya berjalan menuju ke sekolah. Soya masih seperti biasa menyapa teman dan Pak Satpam. Memasuki kelas di jam pertama menjadi awal yang begitu tidak menyenangkan, "Soya, setelah jam pertama datanglah ke kantor Waka," ujar Wali kelas.


"Ya, Bu," jawab Soya pelan.


Soya hanya bisa menunduk dan pikiran Soya saat ini hanya tertuju pada panggilan Waka, kosentrasi Soya seketika terpecah. Soya seketika berdiri saat jam pertama usai.


Cukup lama Soya berada di ruang Waka, ada beberapa peringatan yang Soya ingat tunggakan SPP yang kurang begitu banyak.

__ADS_1


Soya hanya bisa tersenyum getir saat keluar dari ruang Waka. "Argh. Apa yang harus Soya lakukan, jika Soya tak bisa melunasi tunggakan SPP ... "guman Soya terputus begitu saja saat Soya berdiri di depan kelas. Soya tak melanjutkan langkahnya memasuki kelas tetapi Soya langsung menuju ruang piket dan meminta surat ijin untuk pulang.


Setelah keluar dari gerbang sekolah Soya tak langsung menuju rumah, Soya memilih menuju tempat Bu Muji. Bu Muji sedikit terkejut saat melihat Soya datang dengan menggunakan seragam, "kamu tidak sekolah Soya, kamu membolos?" tanya Bu Muji penasaran. Soya hanya mengangguk saja menjawab pertanyaan Bu Muji.


"Kamu sedang ada masalah?" tanya Bu Muji ulang. "Hem!" jawab Soya asal. "Hash! Kau jika begitu pulang saja," usir Bu Muji.


"Bu," panggil Soya sembari menatap sendu ke arah Bu Muji. "Bu. Soya bingung, Soya tak tahu harus berbuat apa saat ini. Apa sebaiknya Soya berhenti sekolah dan fokus untuk bekerja," tutur Soya pelan.


"Soya. Ada apa?" tanya Bu Muji ulang.


"Soya bingung Bu, sekarang sejak Bapak meninggal Ibu sering sakit, hutang Bapak yang masih begitu banyak dan pagi ini Soya juga dapat panggilan dari Waka Soya, Soya menunggak uang SPP begitu banyak," ujar Soya pelan. "Soya bingung Bu," tutur Soya ulang. Bu Muji yang mendengar cerita Soya seketika menatap Soya lekat. "Sini, Ibu peluk," ujar Bu Muji


Benar dalam pelukan Bu Muji Soya, kini menangis, "Soya bingung Bu, Soya-Soya," ujar Soya terbata.


"Soya menangislah, paling tidak beban hati Soya berkurang, Ibu siap mendengar keluhan Soya dan mungkin hanya ini bantuan yang bisa Ibu berikan," ujar Bu Muji lirih sembsri mengusap punggung Soya untuk memberi rasa nyaman. Soya masih menangis dalam pelukan Bu Muji hingga beberapa saat kemudian, "Soya istirahatlah nanti jika sysah waktunya Soya pulang sekolah Ibu akan bangunkan Soya," ujar Bu Muji sembari mengikis air mata Soya.


"Terima kasih Bu dan tolong Ibu jangan pernah cerita ke Ibu," bisik Soya lirih.


"Soya, istirahat saja di dalam, Ibu janji tak akan cerita dengan siapa pun Ibu janji," ujar Bu Muji memastikan.


Sepeninggal Soya, Bu Muji hanya bisa menatap Soya sendu, "kasihan, usia masih muda tetapi harus menanggung beban yang begitu berat," ujar Bu Muji sembari membuang napas berat.


Hingga siang hari Soya terbangun saat melihat Bu Muji sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang dengan sesekali menyebut nama Soya. Soya yang merasa penasaran akhirnya memilih untuk keluar, tetapi Bu Muji langsung terdiam dan laki-laki itu sudah pergi lebih dulu.

__ADS_1


"Siapa Bu?" tanya Soya penasaran.


__ADS_2