RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 43. Apa yang salah


__ADS_3

Soya memilih untuk diam di tempat, Soya sadar jika saat ini dirinya tengah berhadapan dengan Nella yang aneh.


"Saya akan segera memasak, sebaiknya Anda duduk atau mungkin Anda ingin membantu," ujar Soya sengaja.


Nella yang merasa kesal dengan ucapan Soya akhirnya hanya bisa mendengus kesal dan berlalu pergi. Hingga pekerjaan Soya selesai


dengan langkah tergopoh menghampiri Nella yang sedang duduk di sofa. "Nona masakan sudah siap!" panggil Nella lirih.


Nella yang sejak tadi mengulir ponselnya dengan kesal akhirnya menatap ke arah Soya,


Nella langsung berdiri dan mendorong tubuh Soya hingga terhuyung. "Minggir, kamu menghalangi langkah saya!" pekik Nella kesal.


Soya hanya diam dan menatap langkah Nella, hingga beberapa saat kemudian, "Soya ...!" teriak Nella keras.


"Masakan apa ini!" pekik Nella keras dan tak lama sudah menyiram kuah sayur dan mengenai tangannya.


Soya yang begitu kesal langsung melihat ke arah tangannya, "Nona ini panas," ujar Soya tak terima sembari mendekat dan meraih tangan Nella dan memasukkan ke dalam kuah sayur yang tersisa, "Nona tahu kan rasanya seperti apa?"


Nella seketika berteriak kesakitan dan melihat jarinya yang memerah, "Kamu!" ujar Nella kesal.


"Ya, saya bisa melakukan lebih dari ini jika Nona berani menyakiti saya lagi dan jangan salahkan saya," ujar Soya berusaha membela dirinya.

__ADS_1


Nella yang mendapat perlawanan dari Soya akhirnya memilih pergi dan naik ke lantai atas sembari mengibas-ngibaskan tangannya.


Sementara itu, Soya hanya bisa menatap dan menggeleng saat melihat jerih payahnya terbuang begitu saja. Soya dengan kesal membersihkan sayur yang terbuang sia-sia.


Soya hanya bisa meringis saat tangannya mulai merah dan melepuh. "Kenapa hari ini begitu berat dan apa salah Soya pada Mbak kunti," ujar Soya kecewa.


"Jangan menangis Soya, ingat kamu harus kuat," guman Soya lirih untuk menguatkan hatinya.


Rasa lelah hati dan tenaga seakan membuat Soya semakin terpuruk berusaha bersikap sabar dan tenang seakan menguras semua tenaga Soya. "Buka pintu, saya mau keluar!" perintah Nella tiba-tiba dan itu membuat Soya terkejut.


Nella yang sesekali meniup tangannya kini hanya bisa menatap Soya kesal, "Ingat Soya, jangan panggil saya Nella, tunggu saja balasan dari saya," ujar Nella sembari berlalu.


Soya kini hanya ingin menikmati kesendiriannya, hingga dhuhur berkumandang Soya baru beranjak masuk dengan langkah gontai Soya menuju kamarnya, sebaikanya saya tidur saja," guman Soya sembari menutup pintu kamarnya.


Duduk di sisi ranjang netra Soya terpaku pada tas yang teronggok begitu saja di atas meja, entah kenapa Soya baru menyadari pagi ini. Soya dengan bergegas meraih tas dan memeriksa isinya, "astaga, lalu di mana surat satunya lagi!" ujar Soya panik dan membolak balik tasnya.


Hari ini Soya benar-benar merasa kesal hingga tak ada angin tak ada hujan Soya menagis hingga hatinya merasa lega.


"Bu, Soya kangen Soya ingin di peluk Ibu," ujar Soya di sela-sela tangisnya.


Soya masih terlihat sesekali mengikis air matanya, "jika surat itu hilang lalu bagaimana nasib Soya ke depannya," tutur Soya lirih.

__ADS_1


Hingga tanpa terasa Soya sudah terlelap karena capai menangis.


Hingga malam tiba, Soya baru terbangun. Soya sadar dalam kegelapan semua lampu masih belum menyala, "astafirullah," guman Soya sembari bangun dan bergegas turun dari ranjang, Soya seketika menekan tombol lampu dan mencari sesuatu di tumpukan lembar yang sudah di kerjakannya tetapi kembali Soya tersenyum getir saat tak mendapati surat yang Soya maksud.


Putus asa yang Soya rasakan kembali membuat Soya memilih untuk melanjutkan mimpinya meskipun netranya tak memihak sama sekali. Cukup lama Soya berlaku demikian hanya terbaring di ranjang dengan menatap langit-langit kamar, bukan netranya saja yang tak mau terpejam tetapi pikirannya kini juga sudah melangang buana entah ke antah brata. Soya memilih bergelung dengan selimut hingga dini hari, Soya baru beringsut turun dari ranjang, "semangat Soya, ingat masih banyak yang hidup lebih susah dari kamu," guman Soya menyemangati dirinya sendiri.


"Ayo, semangat-semangat ini demi membayar hutang Soya," guman Soya memutus semua angannya sendiri.


Pagi ini suasana hati Soya telah membaik, Soya menatap dirinya dengan malu di depan cermin, "kenapa harus menangis segala, lihat Soya mata kamu sembab," guman Soya dan tak lama memilih untuk ke luar dari kamar.


Melakukan pekerjaan yang biasa Soya lakukan hingga semuanya selesai, Soya kini hanya menganggap semua kejadian kemarin adalah resiko dan Soya akan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. "Saya akan mengulur waktu hingga Tuan menikah dengan Non Nella," guman Soya sembari mengambil beberapa lembar kertas yang tersisa di mejanya.


Menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas yang di berikan hingga ashar menjelang, Soya merenggangkan tubuhnya sesaat dan memilih keluar dari kamar berjalan menuju dapur dan mengambil beberapa makanan yang di simpannya kemarin. "Kira-kira Kak Zulhan dan Tuan sedang apa?" tanya Soya sendiri.


Menikmati sore hari dengan duduk termenung di dapur hingga pandangan Soya tertuju pada teras belakang yang tak pernah di kunjunginya. Pintu yang lama tertutup tirai perlahan Soya membukanya, "oh, jadi ini teras yang di maksud Non Nella," ujar Soya sembari tersenyum. Tak lama Soya kembali menutup tirainya.


Rumah yang sepi membuat Soya merasa bosan. Soya hanya hilir mudik dan tak lama naik menuju lantai dua. "Hash, baru kemarin saya bersihkan kenapa jadi kotor begini," guman Soya sembari membersihkan meja dan yang lainnya. Soya yang telah menyelesaikan pekerjaanya memilih berjalan menuju balkon, senyum Soya terlihat manis di sudut bibirnya netra Soya lekat menatap pada langit yang mulai menuju senja.


"Ternyata dari atas sini pemandangannya lebih bagus langsung menghadap ke arah barat, "wah. Indah sekali!" seru Soya tanpa sadar saat melihat langit mulai memerah dan perlahan menuju peraduan malamnya. Terpana dengan kecantikan langit menuju pergantian menjelang malam membuat Soya berdecak kagum, "indah, kenapa saya baru menyadari semua ini," guman Soya.


Hingga langit benar-benar gelap Soya masih duduk dengan tenang di balkon hingga terdengar deru mobil yang berhenti secara tiba-tiba. Suara yang terdengar jelas dari balkon membuat Soya seketika berdiri, Soya dengan heran menatap mobil yang baru berhenti, "siapa lagi ini?" tanya Soya menutup pintu balkon dan bergegas turun ke bawah karena suara bel yang sejak tadi terus berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2