RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 8. Kamu harus kuat Soya


__ADS_3

Bu Warti yang mendengar keributan di ruang tamu hanya bisa menghela napas berat, tak menyangka jika Soya akan mendapat hinaan dari Pak Sibirin yang masih menjadi tetangganya. "Maafkan Ibu Soya, bukan Ibu tak ingin membela Soya, tetapi keadaan yang menyebabkan Ibu menahan diri Ibu untuk tidak keluar," ujar Bu Warti sembari meringis menahan sakit di perutnya.


Bu Warti segera tersenyum saat melihat Soya masuk sembari meletakkan buku pada tempatnya. "Soya, maafkan Ibu," ujar Bu Warti pelan. Soya yang mendengar ucapan sang Ibu langsung memeluk erat.


"Bu, Ibu di rumah saja, Soya akan keluar," ujar Soya sembari melepas pelukan sang Ibu.


"Hati-hati, Soya," ujar sang Ibu sembari menatap lekat wajah Soya.


"Tenang Bu, Ibu lupa jika anak Ibu ini kuat dan segarang singa," ujar Soya lagi.


Bu Warti langsung tersenyum saat mendengar ucapan anak gadisnya. "Bu, pintu Soya kunci dari luar. Ibu istirahat saja," ujar Soya lagi.


Siang yang terik Soya sengaja keluar dari rumah, saat ini yang ada di pikiran Soya, "bagaimana bisa mendapatkan uang dengan cara halal dan pikiran Soya saat ini adalah dari mana Soya bisa mendapatkan dan paling tidak dalam sehari Soya harus bisa mengumpulkan uang," ujar hati Soya.


Langkah Soya tiba di tempat Bu Muji, tempat Soya mengambil kue basah untuk di jajakan.


"Kamu enggak sekolah Soya? Ibu dengar Bapak kamu juga baru meninggal, maaf jika Ibu tak bisa hadir di pemakaman Bapak kamu Ibu turut berbelasungkawa Soya," ujar Bu Muji sembari memeluk Soya. "Sebaiknya kamu libur dulu Soya, tak baik di lihat orang karena Soya juga sedang dalam kesusahan," ujar Bu Muji lirih. "Agh. Ibu, jika Soya libur lantas siapa yang akan memberi uang Soya dan siapa yang akan membayar hutang Bapak," ujar Soya sembari mengambil kue dan menghitungnya. "Bu, apa ada pekerjaan yang halal yang gajinya lumayan?" tanya Soya sembari menatap Ibu Muji.


"Soya-Soya, kamu sekolah saja belum lulus mau kerja, lantas ijazah apa yang nanti kamu pakai?" tanya Bu Muji heran.


Sejenak Soya tersenyum, "Bu, maksud Soya itu kerja paruh waktu, kalau bisa selepas Soya pulang sekolah," ujar Soya sembari mengambil satu bungkus kue dan memakannya, sementara Bu Muji memperhatikan itu.


"Maksud Kamu?"

__ADS_1


"Ya, nyuci atau menggosok begitu Bu," jawab Soya. "Oh. itu, nanti jika ada yang mencari pasti akan Ibu beritahu dan ingat kamu sudah memakan satu kue yang akan kamu jajakan," ujar Bu Muji perhitungan.


"Hash, hanya satu kue saja Bu!" ujar Soya sembari berlalu pergi membawa kue yang akan di jajakan.


Hingga sore hari Soya nasih menjajakan kue yang di bawanya hingga tiba di perempatan Soya langsung menawarkan kue yang di bawa, "tinggal sepuluh bungkus," guman Soya.


"Kue-kue ..., kue Pak. Buk. Mari silahkan beli," seru Soya menawarkan. Hingga tepukan di bahu Soya membuat Soya langsung menoleh.


"Eh. Kak Zulhan, ayo beli kue Soya, sudah borong semuanya tinggal sepuluh biji," ujar Soya berusaha menawarkan.


Zulhan hanya tersenyum saat melihat Soya dengan riang menawarkan kue tanpa malu.


Zulhan langsung duduk di sisi Soya, "coba lihat ada kue apa saja, jika rasanya enak Kakak akan memborong semuanya," ujar Zulhan pelan. Soya dengan semangat langsung membuka tutup kue, "lihat dan beli semuanya Kak Zulhan pasti suka, anggap saja Kakak membelikan untuk Ibu Kakak," ujar Soya lagi. "Hm ..., boleh Kak Zulhan mengicip satu kue," ujar Zulhan menggoda.


Zulhan seketika tertawa saat mendengar ucapan Soya sembari menyerahkan satu lembar uang berwarna biru, "Soya, hati-hati dan kamu harus kuat," ujar Zulhan sembari berdiri dan berlalu pergi.


Soya seketika mengejar Zulhan, "Kak Zulhan uang Kakak berlebih dan masih ada kembaliannya," ujar Soya sembari berlari mendekat. "Soya, uang kembaliannya buat Soya saja," ujar Zulhan sembari melajukan motornya.


Soya yang mendengar ucapan Zulhan seketika tersenyum senang, "terima kasih Kak Zulhan," guman Soya lirih sembari melangkah pulang. Sepanjang perjalanan pulang srnyum Soya terus terkembang dan langkah Soya terasa ringan. "Alhamdulillah, hari ini Soya dapat keuntungan yang banyak," ujar Soya sembari tersenyum.


Memasuki halaman rumah senyum Soya langsung hilang begitu saja. Sesaat Soya berhenti menatap siapa yang sedang berdiri di depan pintu dan sesekali berteriak memanggil nama Bapak. "Selamat sore, Bapak siapa?" tanya Soya sopan.


Laki-laki ini langsung menoleh dan menatap Soya geram. "Mana Bapak kamu?" tanya laki-laki ini marah. Soya yang merasa tercubit dengan bentakan laki-laki ini seketika tersenyum sinis, "maaf, Bapak mengenal saya? Bapak mencari siapa?" tanya Soya sembari menahan emosi.

__ADS_1


Laki-laki yang mendengar ucapan Soya langsung melotot, "benar ini rumah Kadir?" tanya laki-laki ini lagi. "Oh. Pak Kadir, rumahnya enggak di sini Pak, rumah Pak Kadir sudah pindah," ujar Soya asal.


"Pindah," ujar laki-laki ini marah.


Laki-laki ini kemudian berjalan mondar-mandir sembari menggerutu tak jelas. "Maaf, Bapak siapa?" tanya Soya.


"Saya Ruslan, kedatangan saya kemari ingin menagih hutang pada Pak Kadir," ujar Pak Ruslan pelan. "Kalau boleh tahu berapa hutang Pak Kadir?" tanya Soya menyelidik.


"Argh! Kamu anak kecil, katakan memang Kadir pindah kemana?" tanya Pak Ruslan ulang.


"Bapak yakin mau menemui Pak Kadir?" tanya Soya


"Ya, sebenarnya hutang Kadir tak begitu banyak, tetapi saya hanya meminta tanggung jawab Kadir saja, paling tidak ada itikad baik dari Kadir untuk bilang jika belum bisa membayar, begitu saja," ujar Pak Ruslan pada akhirnya.


"Hm, terima kasih," ucap Soya tanpa sadar.


"Kenapa kamu mengucapkan terima kasih," ujar Pak Ruslan heran.


Soya yang tersadar akan ucapannya hanya tersenyum, "jika Pak Ruslan merasa penasaran dengan rumah Pak Kadir, Bapak datang saja ke jalan ini. Rumah Pak Kadir agak masuk ke dalam deret ke tiga baris ke dua dari jalan," ujar Soya pelan.


Pak Ruslan yang mendengar ucapan Soya langsung menatap tak percaya, "memang ada alamat ini?" tanya Pak Ruslan tak percaya.


"Ada Bapak, Bapak cari saja dan jika Bapak sudah menemukan rumah Pak Kadir, Bapak bisa datang kerumah ini," ujar Soya pelan.

__ADS_1


Pak Ruslan segera berlalu dari rumah Soya, "Pak tolong di ingat, baru kemarin Pak Kadir pindah," ujar Soya sembari membuka pintu rumah.


__ADS_2