
Soya sesaat terdiam menatap berkas yang telah dibacanya ternyata semua pradugannya selama ini terbukti dan menjadi kenyataan dengan menghela napas berat Soya menatap sang bibi menatap wajah tua yang begitu sabar dan baik pada dirinya.
"Non, apa yang terjadi?"
"Bi, semuanya sudah berakhir melalui Cintya, Mas Andra mengirim surat cerai," tukas Soya.
"Non ... apa Non Soya, baik- baik saja?"
"Saya sudah siap Bi, sebelum semua ini terjadi." Soya menjawab sembari mengusap perutnya.
Sang bibi menatap lekat wanita yang tengah berbadan dua dihadapanya netranya menatap lekat seakan menelisik mencari kebenaran dari ucapan Soya. Merasa diperhatikan Soya tersenyum dan faham akan tatapan sang Bibi.
"Bi ... saya baik-baik saja, saya tahu jika Bibi mengkhawatirkan keadaan saya apalagi dengan kehamilan seperti ini." Soya menatap sang bibi.
"Non, mengapa semua ini harus terjadi semoga di kelahiran nanti akan dipermudah meskipun tak didampingi oleh Tuan muda," sahut bibi.
"Sudahlah Bi, semua sudah berakhir saya menerima dengan ikhlas dan satu hal yang paling penting adalah anak saya," ucap Soya sembari tersenyum.
Soya memilih berdiri dan merapikan berkas perceraiannya memasuki kamar dengan tenang walau saat ini Soya merasa kecewa.
Duduk di pinggir ranjang dengan perut besarnya, hanya tatapan netranya saja yang terlihat sendu. Sejenak Soya beringsut dan memilih berbaring tubuh dan jiwanya kini terasa lelah. Lelah dengan semua keadaan yang sudah di jalaninya.
"Hanya demi kamu Ibu bertahan dan saat ini semua sudah jelas akan status kita. Maaf Nak jika masih dalam kandungan kamu sudah kehilangan figur Bapak kamu," guman Soya sembari merebahkan tubuhnya yang lelah.
Malam ini tak seperti malam-malam yang lainnya, tubuh gerah Soya membuatnya terbangun mengusap wajah yang penuh dengan keringat. Soya hanya bisa meringis menahan perutnya yang merasa tak nyaman, rasa sakit yang tiba-tiba muncul. Masih berbaring di ranjang sesaat Soya termenung menatap langit-langit kamar, ada hal yang tak pernah bisa Soya katakan tak ada penyesalan dalam keputusan yang di pilihnya semua juga sudah menjadi jalan hidupnya. Namun, malam ini dirinya merasa begitu sendiri menatap perut buncitnya dan terus mengusap untuk menenangkan pergerakan dalam perutnya.
"Ibu akan selalu ada untuk kamu Nak, sabar dan tenang hingga persalinan tiba, Ibu akan memberikan kasih sayang untuk kamu meskipun nantinya ada kasih sayang yang tak pernah kamu peroleh dari Bapak kamu, maafkan Ibu Nak," guman Soya lirih sembari mengusap perutnya.
Soya malam ini benar-benar rapuh, air mata yang coba di tahannya akhirnya lolos juga luruh dengan berbagai pikiran yang sedang dihadapinya. Air mata kesedihan dan perasaan lega saat semua statusnya kini menjadi jelas. "Maafkan Ibu Nak, Ibu .... "Hanya tangis Soya yang terdengar memenuhi kamar.
Pagi menjelang Soya masih bertahan di dalam kamar, matanya yang sembab membuatnya enggan untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
Soya hanya ingin berbaring dan hanya ingin menghabiskan waktu hanya seperti itu. Hingga ketukan di pintu membuat Soya terkejut dan enggan untuk turun dari ranjang.
"Non .... "Panggil Bibi.
"Non ... Non ....." Panggil bibi sembari mengetuk pintu.
"Non ... Non Soya baik-baik saja?" tanya bibi gusar.
Kini tanpa memanggil dan mengetuk pintu sang bibi langsung membuka pintu dan mendorongnya dengan kasar. Begitu pintu terbuka sang bibi sangat terkejut saat melihat Soya berbaring dan menatap ke arah langit-langit. Sang bibi hanya bisa mengembuskan napas berat saat menyadari kondisi Soya.
"Non ...."Panggil bibi lembut.
"Non, jangan bersikap seperti ini kasihan anak yang ada di perut Nona," tutur sang bibi.
"Ayo, Non. Sarapan sudah siap," ajak sang bibi.
Sang bibi begitu terkejut saat melihat reaksi Soya perlahan sang bibi mendekat meraih tubuh yang rapuh dan memeluknya erat.
"Menangislah Non, jika itu membuat Non merasa lega, tumpahkan semua kekesalan di hati Nona, jangan sampai semua beban di hati Nona akan mempengaruhi anak yang ada di dalam kandungan Nona," papar sang bibi lembut.
Saat ini Soya benar-benar menumpahkan semua tangisnya, menangis dengan suara tertahan seakan ingin melepaskan semua beban yang selama ini di pendamnya. Hingga isakan Soya terhenti saat Soya merasakan perutnya kembali sakit. Soya meringis menahan sakit yang tak pernah dirasakan.
"Huufff, Bi ... perut Soya sakit Bi," desis Soya sembari memegang perutnya.
"Bi ...."Panggil Soya sembari merintih sakit.
"Non ... jangan buat Bibi bingung, ada apa?"
tanya bibi gusar.
"Sekar!" teriak sang bibi memanggil.
__ADS_1
"Sekar!" pekik sang bibi ulang.
Sekar yang ada di luar seketika masuk dan menuju asal suara dengan tergopoh. Sekar sedikit bingung saat melihat majikannya meringis menahan sakit dan berkali-kali mengusap perutnya.
"Panggil taksi atau cari pinjaman mobil dan siapapun itu untuk mengantar Non Soya!" titah sang bibi bingung.
"Baik Bi," jawab Sekar tegas.
"Non, ini masih tujuh bulan lewat dua minggu, masih belum waktunya untuk melahirkan," ujar bibi bingung.
Sementara itu, Sekar yang berada di luar bingung entah kemana dia mencari mobil dan orang yang mau menolong. Sekar yang bingung akhirnya melihat laki-laki yang bersama majikannya kemarin. Sekar segera menghampiri dan memburu langkah lelaki ini.
"Tuan, to-tolong. Majikan saya, di-dia ....," Sekar seketika menghentikan ucapannya saat melihat laki-laki ini sudah berlari menuju rumah sang majikan.
Namun, tak lama Sekar melihat laki-laki ini kembali ke luar dengan tergopoh menghampiri mobil yang terparkir tak jauh dari dirinya berdiri. Sekar masih melihat dengan heran saat lelaki ini dengan gerak cepat membantu sang majikan dan tak lama mobil melaju. Sekar yang masih terpana dengan apa yang dilihatnya akhirnya hsnya bisa menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ash, buang pikiran kotor kamu Sekar," gumannya lirih.
Sementara itu di dalam mobil Soya masih terus meringis menahan perutnya yang sakit dan mobil terus melaju dengan sedikit cepat.
Sang bibi yang sedari tadi berusaha menenangkan Soya sedikit terkejut saat mobil tak berhenti di Dokter yang biasannya Soya datang. "Mas, mau di bawa kemana lagi pula ini bukan Dokter langganan kita," ujar sang bibi heran.
Namun, Hazal tak menjawab pertanyaan sang bibi dan terus melanjutkan laju mobilnya hingga beberapa menit kemudian Hazal memasuki rumah sakit yang tak pernah Soya dan sang bibi kunjungi. Hazal tanpa berbicara apa-apa langsung membopong tubuh Soya yang masih meringis menahan sakit.
"Bi. Ayo, ikuti langkah saya!" seru Hazal sembari berjalan lebih dulu.
Sang bibi yang masih merasa bingung memgikuti saja langkah Hazal hingga langkah sang bibi terhenti saat ada yang menariknya dengan paksa. Sang bibi segera menghentikan langkahnya dan menatap ke arah belakang. Tubuh sang bibi seketika mundur beberapa langkah saat mengetauhi siapa yang menghentikan langkahnya. Menatap tak percaya sosok yang berdiri di depannya, tatapan sang bibi sesaat berubah menjadi amarah.
Plaak
"Tamparan ini pantas untuk kamu!" tegas sang bibi marah dan kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Namun, sang bibi kembali menoleh penuh dengan amarah. "Jangan mengikuti kami!" seru sang bibi geram.