
Soya seketika menatap Pak Guntur tak percaya, "maksud Bapak?" tanya Soya lirih.
"Pak Muin, ambil tas Soya, agar Soya membaca ulang berkas perjanjian miliknya dan akan saya tunjukkan poin mana yang terlewat," ujar Pak Guntur lirih.
Pak Muin yang sigap segera keluar dan tak lama sudah kembali lagi menemui Tuannya.
"Tuan, ini berkas yang anda maksud?" tanya Pak Muin sembari menyodorkan berkas itu pada Tuannya.
"Terima kasih Pak Muin, tolong panggil bibi juga agar menjadi saksi juga," ujar Tuan Guntur pada Pak Muin.
"Soya, baca dengan teliti dan cermati," ujar Tuan Guntur sembari menyerahkan berkas yang di pegangnya.
Soya dengan teliti membaca dan mengulang setiap point yang tertulis. Soya membaca hingga poin terakhir, hingga akhirnya Soya hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam.
"Bagaimana?" tanya Pak Guntur tiba-tiba.
Soya hanya menggeleng tanda tak paham.
"Sekarang cari berkas dengan lembar rangkap dan lihat di baliknya," ujar Pak Guntur memberitahu.
Perlahan Soya mengamati dan mencari lembar rangkap yang di maksud. Soya sesaat tertegun membaca tulisan di kertas tipis yang di bubuhi tanda tangan sang Bapak dan cap jempol Bapak. Perlahan Soya membaca dengan teliti, ada rasa sakit hati tiba-tiba muncul dan begitu menyesakkan dada, Soya tak bisa berkata-kata hanya menatap lembar di depannya, tak urung air mata yang sedari tadi di tahan turun juga, Soya akhirnya hanya bisa tergugu penuh penyesalan dengan waktu yang cukup lama.
Pak Guntur berkali-kali menghela napas, menatap gadis yang menangis di hadapannya, gadis yang terlara atas ulah sang bapak.
"Bi, tolong antar Soya ke kamar dan biarkan Soya istirahat," ujar Pak Guntur tiba-tiba.
__ADS_1
Sang bibi hanya mengangguk menghiyakan ucapan sang Tuan dan memapah tubuh Soya yang lemas, tetapi belum tiga langkah tubuh Soya sudah jatuh tak sadarkan diri dan itu membuat sang bibi kebingungan. Pak Muin yang melihat sang bibi dengan sigap membantu. Sang bibi langsung membaringkan Soya di kamar. "Bagaimana keadaan Soya?" tanya Pak Guntur lirih saat melihat Pak Muin keluar dari kamar.
"Masih belum sadar Tuan dan bibi masih menunggu," jawab Pak Muin.
"Ya, sudah biarkan Soya istirahat," jawab Pak Guntur iba.
Selepas kepergian Pak Muin kini Pak Guntur hanya bisa duduk termenung di ruang kerjanya, menatap foto yang hanya dirinya saja yang boleh melihat. "Maafkan saya, Hesti," guman Pak Guntur lirih.
Memandang foto yang terlihat usang Pak Guntur seakan terbuai dalam lamunannya.
Pak Guntur sesaat tersenyum saat mendapati situasi yang hampir mirip ini.
Pak Guntur flashback on
Senyum Pak Guntur merekah saat itu melihat gadis cantik berumur belasan tahun yang sudah mencuri hatinya, gadis yang sering di jumpainya saat Guntur muda bekerja sebagai Depkolektor, gadis yang selalu tersenyum dan menjadi pandangan pertama sebelum Guntur muda memaki atau menindas orang tuanya saat menagih di mana jumlah uang setoran yang berkurang. Hingga suatu hari Hesti, gadis cantik rela menyerahkan dirinya sebagai pelunas hutang orang tuanya. Guntur muda saat itu hanya bisa menatap dan menelaah setiap ucapan Hesti yang tak tega melihat orang tuanya yang terus di caci saat Guntur muda datang menagih. Hingga akhirnya Guntur muda menghiyakan saja permintaan Hesti.
Pak Guntur kini hanya bisa menatap foto yang sedari tadi di pegangnya, kemiripan cerita pada diri Soya membuat Pak Guntur seakan tercubit nyeri dengan masa lalunya.
Pak Guntur flashback off
Pak Guntur, hanya bisa menunduk penuh penyesalan. Menatap lekat foto yang di pegangnya, "Hesti, maaf. Jika saya melihat sosok kamu di diri Soya dan maaf, jika keputusan saya nantinya akan membuat Danendra marah," ujar Pak Guntur lirih sembari mengusap foto yang di pegangnya. Hingga ketukan pintu yang berulang dan mengejutkan Pak Guntur. "Ya!" jawab Pak Guntur sembari meletakkan foto yang di pegangnya.
"Masuk!" jawab Pak Guntur berusaha untuk tenang.
Perlahan pintu terbuka dan hanya terlihat wajah sang bibi yang muncul di balik pintu.
__ADS_1
"Ada apa Bi?" tanya Pak Guntur heran.
"Maaf, Tuan!" jawab sang bibi sembari masuk.
"Em ..., itu Tuan, Non Soya belum bangun, wajahnya pucat dan tubuhnya seperti tak baik-baik saja," cerita sang bibi pelan.
Pak Guntur seketika berdiri dan metasa khawatir, "Bi, beritahu Pak Muin untuk memanggil Dokter!" ujar Pak Guntur.
"Siap Tuan," ujar sang bibi dan bergegas keluar.
Pak Guntur yang merasa cemas akhirnya melihat ke kamar Soya, Pak Guntur seketika menyerngit saat melihat tubuh Soya berkeringat. Namun, Pak Guntur hanya hisa melihat Soya dari jauh hingga Pak Muin datang bersama Dokter. "Silahkan! Anda periksa Dokter!" tutur Pak Guntur tanpa bada-basi. Pak Dokter yang melihat kecemasan di wajah Pak Guntur langsung bekerja cepat. Hingga beberapa menit kemudian Dokter menatap Pak Guntur heran.
"Maaf. Nona ini sedang dalam kondisi tertekan, asupan makan yang tak teratur, darahnya rendah dan saat ini dia benar-benar dalam kondisi tak stabil. Saya akan memberi Vitamin nanti jika siuman tolong isi asupan makannya, sepertinya Nona ini sering terlambat makan," jelas Sang Dokter sembari menulis resep.
Mendengar keterangan Dokter, Pak Guntur hanya terdiam dan hanya bisa menatap Soya iba. "Tolong Anda tebus resep ini dan jangan lupa jaga pola makannya," ujar dang Dokter asal. Pak Guntur hanya tersenyum dan langsung menyerahkan resep tersebut pada Pak Muin. "Pak. Tolong ambil resep ini dan sekalian antar Pak Dokter!" ujar Pak Guntur.
"Dok, terima kasih," tutur Pak Guntur kemudian.
"Bi, tolong siapkan apa yang Dokter bilang, jika Soya terbangun tolong biarkan istirahat dulu dan cegah dia jika akan istirahat, saya akan pergi," ujar Pak Guntur berpesan.
Pak Guntur kini hanya mengurung diri di ruang kerja, hingga terdengar suara sang bibi yang ribut dan berusaha menenangkan Soya.
Mendengar keributan yang terjadi akhirnya Pak Guntur keluar juga dari ruang kerjanya dan menuju kamar di mana Soya berada.
"Soya!" bentak Pak Guntur akhirnya saat melihat Soya terus berontak sembari menangis. Soya bukannya berhenti tetapi semakin keras menangis sembari memeluk sang bibi. "Non. Tenang, jangan bersikap begini pikirkan dengan tenang," ujar sang bibi akhirnya.
__ADS_1
Namun, di balik keributan dan tangis Soya, ada sosok yang sejak tadi masuk dan melihat apa yang terjadi, hingga sosok ini pergi begitu saja tanpa sepatah kata.