
Danendra hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Zulhan, Danendra masih terus melaju hingga mobil mereka berhenti.
Danendra dengan tenang keluar dari mobil dan merapikan bajunya, setelah merasa pakaian yang di gunakan terlihat rapi.
"Zulhan, ayo!" ajak Danendra sembari melangkah lebih dulu.
"Ash, selalu seperti ini!" ujar Zulhan tak urung mengekor langkah Danendra.
Zulhan masih melangkah dengan diam, melihat gedung yang Danendra kunjungi sejenak Zulhan menarik tangan Danendra agar berhenti. "Kenapa kita kemari?" tanya Zulhan penasaran.
"Rahasia dan Ayah juga setuju," jawab Danendra sembari melangkah masuk ke dalam ruangan.
Sejenak Danendra berhenti dan melihat sekeliling ruangan, hingga Danendra menghentikan pencariannya saat melihat laki-laki yang berdiri dengan pakaian rapi, tinggi dan setelan jas yang di gunakan terlihat begitu mewah. "Selamat datang, silahkan masuk Tuan sudah menunggu," jawab laki-laki ini sembari tersenyum dan membuka pintu.
Setelah masuk, Danendra dengan sopan menjabat tangan laki-laki yang sudah menunggu di depannya. "Selamat tak menyangka Anda mengambil keputusan ini, silahkan," ujar laki-laki yang berdiri di depannya dan mempersilahkan Danendra untuk duduk.
Sementara itu Zulhan hanya melihat dengan penasaran tetapi bibirnya takut untuk bertanya. Hingga beberapa saat setelah Danendra menandatangani beberapa berkas.
"Tuan, silahkan bawa dan semuanya sudah beres," ujar lelaki ini sembari memasukkan berkas tersebut dalam amplop.
Zulhan yang sedari memperhatikan Danendra sesaat menyengitkan dahi heran, Danendra tak banyak bicara tetapi tatapannya tenang dan wajahnya selalu menyungingkan senyuman. "Tumben, mungkin Danendra sedang kerasukan," guman Zulhan lirih.
"Zulhan ayo!" ajak Danendra.
"Benar-benar aneh!" guman Zulhan lirih.
Danendra yang mendengar Zulhan terus berguman sendiri akhirnya tersenyum, "enggak usah penasaran," ujar Danendra tenang.
"Ash, aneh. Danendra apa ..., kamu bermimpi? Tumben sikap kamu berubah!" seru Zulhan heran.
Danendra masih mengunci bibirnya rapat dan memilih melajukan mobilnya. "Hei, kita akan kemana?" tanya Zulhan kembali heran.
__ADS_1
Zulhan siapkan laporan satu bulan ini dan jangan lupa sekalian siapa saja bulan ini yang masih menunggak," ujar Danendra mengingatkan.
"Kita bermalam di rumah Ayah dan kamu jangan sesekali menemui Soya dalam satu minggu ini, besok pagi kita berangkat," ujar Danendra sembari menghentikan mobilnya.
Zulhan semakin di buat bingung dengan ucapan Danendra, "memang kita akan pergi kemana? Hash, kamu selalu merepotkan," ujar Zulhan menimpali.
Memasuki rumah Danendra langsung di sambut dengan tatapan bahagia sang Ayah, Tuan Guntur langsung memeluk Danendra erat dan berkali-kali menepuk punggung anak laki-lakinya, "Ayah sangat setuju dan senang dengan keputusan yang kamu ambil Danendra," ujar Tuan Guntur sembari melepas pelukannya, Tuan Guntur langsung memegang bahu Danendra dan berkali-kali menepuknya.
Malam ini ada kebahagiaan yang terpancar dari wajah Tuan Guntur dan senyum Danendra yang bahagia. Menyadari kehadiran Zulhan Danendra langsung memeluk sang Ayah dan membisikkan sesuatu dan kemudian menyerahkan berkas yang di pegangnya. "Terima kasih Ayah," jawab Danendra senang.
"Zulhan, cepat istirahat!" perintah Tuan Guntur.
Danendra dan Zulhan langsung masuk dalam kamar, sementara Tuan Guntur dengan diam-diam menemui bibi di dapur. "Bi, sukses," ujar Tuan Guntur sembari tersenyum puas.
"Tuan Guntur seketika mengisyaratkan Mbok untuk diam, "sudah Bibi istirahat," tutur Tuan Guntur sembari berlalu pergi dari dapur.
"Akhirnya!" hanya ini yang terucap dari bibir sang Bibi.
Malam ini suasana rumah benar-benar berbeda, kepulangan Danendra serta kabar bahagia yang Danendra dengungkan mampu membuat Tuan Guntur bernapas lega. Hingga terdengar umpatan kasar dari salah satu kamar. Pagi hari, Danendra benar- benar berangkat setelah bersiap, setelah berbicara sesaat dengan sang Ayah.
"Kemana, Danendra?" tanya Nella.
"Em, saya tidak tahu Nona," jawab Soya sembari menutup pintu rumah.
Soya hanya membiarkan saja Nella dengan sikapnya, hingga suara langkah Nella berhenti di dekat tangga, Soya yang memperhatikan Nella sesaat menghela napasnya dalam-dalam saat Nella mengeluarkan baju yang di pakainya kemarin. Nella menatap Soya tajam dan tanpa bicara.
Plaak
Tamparan keras seketika mendarat di wajah Soya, "bagus! Saya membiarkan kamu kemarin karena ada Danendra dan sekarang, jangan harap saya memberi kamu maaf," ujar Nella sembari tersenyum sinis dan menarik tangan Soya.
Soya yang masih merasakan panas di pipinya sesaat terkejut saat Nella menariknya dan menghempaskan tubuhnya ke lantai hingga Soya jatuh terduduk. "Di sini tempat kamu, di bawah kaki saya! Lantas bagaimana kamu akan mengganti baju saya yang sobek!" ujar Nella keras.
__ADS_1
Soya masih duduk merasa bersalah, "maaf, Nona saya tidak sengaja, andaikan kemarin Nona tak buru-buru, pasti baju itu tak sobek," balas Soya pelan.
"Kamu!" pekik Nella kesal sembari mendorong tubuh Soya hingga jatuh kembali.
Namun, seketika Nella menghentikan amarahnya saat ponselnya sudah berdering sedari tadi dengan cepat Nella mengatur napasnya sebelum menerima telfon.
"Ya, sayang! Iya bolehkan Nella tinggal," jawab Nella sembari berjalan ke lantai atas dan hanya ini yang Soya dengar.
Soya bergegas berdiri, Soya hanya bisa mengembuskan napas kasar dan terus melihat ke lantai atas. "Huufft ..., nasib! Andai Nella ..., Argh!" ujar Soya putus asa.
Soya kembali melanjutkan pekerjaanya yang terputus dan sesekali memegang pipinya yang terasa sakit, "Ibu dan Bapak saja tak pernah memukul," guman Soya kesal dengan mata berkaca-kaca.
Soya akhirnya memilih duduk untuk meredakan suasana hati yang sedang gundah, menatap nanar rumah yang cukup besar. Soya hanya mengembuskan napas kasarnya berulang kali, "apa yang harus Soya lakukan," guman Soya lirih.
Soya yang sedang duduk termenung akhirnya hanya bisa pasrah dan kembali berdiri, "hai, kamu!" teriak Nella mengejutkan.
"Non, tolong jangan berteriak disini hanya ada kita berdua," ujar Soya kesal.
"Kamu ...!"
"Ya, Non! Kenapa, Nona ingin marah?" tanya Soya dan makin membuat Nella melotot.
Nella yang tersulut emosi seketika meredakan amarahnya, perubahan sikap yang tiba-tiba dan itu makin membuat Soya khawatir. "Nona mau di masakkan apa?" tanya Soya hati-hati.
"Terserah!"
Mendapat jawaban yang tak pasti Soya langsung menghentikan pekerjaannya dan menatap Nella lekat, "Non, jika Nona menjawab terserah berarti saya akan memasak dengan bumbu terserah juga," jawab Soya.
"Kamu!"
"Ya, saya Nona," jawab Soya tak ingin di rendahkan lagi.
__ADS_1
Nella yang tak terima dengan jawaban Soya, langsung berdiri, "kamu begitu berani membantah," ujar Nella pelan dan mendekat.
Soya yang tak paham dengan sikap Nella kini sedikit menjauh, "hem kenapa, takut saya gampar lagi?" tanya Nella sinis.