
"Agh, tak mungkin malam-malam begini Kak Zulhan datang," guman Soya sendiri. Soya hanya duduk dan menunggu hingga ketukan di pintu terhenti. Soya hanya bisa menghela napas dan tersenyum lega saat suasana kembali hening. Soya hanya bisa duduk meringkuk di depan almari usang miliknya. Satu minggu sudah Soya bersembunyi di dalam rumah dan bermain petak umpat dengan Danendra meskipun Soya sadar jika Danendra begitu marah terdengar jelas dari cara Danendra memanggil dan bukan hanya sekali atau dua kali tetapi Danendra bisa hampir sehari penuh datang dan pergi dan itu membuat Soya semakin gelisah. "Argh ..., jika begini terus, saya bisa gila," tutur Soya akhirnya.
Soya merasa sedikit lega saat mendengar langkah kaki menjauh dengan umpatan yang membuat Soya merinding. Soya akhirnya menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan mandi sepuasnya, suara air yang mengalir menyamarkan pendengaran Soya dan ketukan pintu terhenti saat Soya keluar dari kamar mandi. Soya tak menyadari bahwa sejak lima belas menit yang lalu ada yang mendengarkan semua kegiatan Soya. "Ya, hari ini saya harus bisa keluar dari rumah ini," tutur Soya lirih sembari mengambil beberapa baju dan menyimpannya di tas punggung milik Soya.
Perlahan Soya melangkah dan berhenti di ruang tamu, Soya mengintip melalui tirai yang tertutup. "Sepi," guman Soya sembari tersenyum dan mengedarkan pandangannya keluar teras dan halaman. Soya seketika bergerak cepat dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Soya dengan cepat meraih tas miliknya dan kemudian membuka pintu dengan perlahan, "Ash, kenapa Soya seperti maling," cicit Soya pelan dan mengunci pintu lagi.
Pukul sepuluh malam Soya keluar dari rumah berjalan dengan tergesa menuju jalan raya, senyum Soya sesaat tersunging senang karena akan meninggalkan tempat yang membuat Soya ketakutan siang dan malam. Soya terus saja berjalan tanpa tujuan hingga langkah Soya terhenti saat sebuah mobil berhenti secara tiba-tiba di depannya. Menyadari ada sesuatu yang mengancam dirinya Soya memilih berlari dan menghidar
"Shiit," umpat Soya saat dirinya terjatuh dan terpelanting.
Soya masih berusaha berdiri dan berlari sembari sesekali menoleh kebelakang dimana mobil itu terus mengikuti langkah Soya, hingga akhirnya Soya merasakan ada tangan yang menarik Soya dan memasukkan Soya paksa dalam mobil. Soya berusaha untuk berontak dan berusaha keluar dari mobil. Namun, usapan lembut, dan aroma sesuatu yang membuat Soya pusing, perlahan Soya menghentikan gerakannya yang makin lama makin melemah.
"Entah, berapa lama tak sadarkan diri. Soya hanya merasa kini tubuhnya sedang berbaring di sesuatu yang lembut dan hangat serta aroma yang wangi lavender yang menusuk hidungnya. "Di mana ini?" tanya Soya sembari menggeliat nyaman. Soya mengercapkan mata berulangkali seakan tak percaya dengan apa yang tak di lihatnya.
"Mustahil, apa Saya sudah mati dan ini tak mungkin," ujar Soya saat menatap langit-langit kamar yang bersih seputih kapas dan dinding yang bercat putih tulang. Soya seketika meraba ranjang yang Soya tiduri, "lembut," guman Soya lirih. "Di mana ini?" tanya Soya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Soya semakin heran saat menatap ruangan kamar yang begitu indah dan akhirnya tatapan soya tertujuh pada dirinya. "Ini, enggak, ini enggak mungkin," cicit Soya takut dan langsung menarik selimutnya lagi.
Soya memilih duduk meringkuk dan masih menatap takut dan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Perlahan pintu kamar terbuka dan muncul wanita setengah baya dengan senyum manisnya, "selamat pagi, anda sudah bangun?" tanya wanita ini sopan. Soya seketika tersenyum menjawab sapaan wanita ini. "Panggil saja saya Bibi. Oh. Ya, Tuan sudah menunggu Anda, segera bersiap dan pakai baju yang sudah saya siapkan," ujar Bibi lirih.
Soya yang madih belum sadar akan siruasi yang di hadapi segera beringsut turun mengejar langkah sang bibi. "Bi. Maaf, tolong jelaskan saya ada di mana?" tanya Soya bingung. "Anda segera bersiap, kamar mandi ada di sebelah sini dan itu tempat bedak dan cepat, Tuan sudah menunggu," jawab Bibi akhirnya.
Soya hanya mengangguk dan langsung menuju kamar mandi, Soya sedikit terkejut saat menasuki kamar mandi, "wah, mewah sekali," ujar Soya sembari mengedarkan pandangannya. "Mana gayung dan bak mandinya? Lalu bagaimana caranya untuk mandi," guman Soya sembari memutar kran dan iru membuat Soya terkejut. "Oh ..., jadi begini mandinya seperti di film-film yang dulu pernah saya lihat," guman Soya sembari mengamati satu persatu peralatan di kamar mandi. "Wah, semuanya baru, pasta gigi, dikat dan sabun ini juga harum," ujar Soya takjub.
Soya akhirnya membersihkan diri, Sota tak menyangka jika semua yang hanya di lihatnya di televisi akhirnya Soya bisa menikmati semuanya. Keluar dari kamar mandi Soya sedikit terkejut saat melihat sang bibi sudah berdiri di depan kamar mandi, menyerahkan baju dan perlengkapan lainnya. "Non!" panggil sang bibi membuat Soya terkejut.
Soya yang mendengar suara sang bibi langsung menoleh. "Ada apa Bi?" tanya Soya heran.
"Agh, tidak Non! Mari," ajak sang bibi dengan melangkah lebih dulu.
__ADS_1
"Bi, tunggu!" seru Soya lirih.
Sang bibi segera menghentikan langkahnya. "Bi, saya takut!" ujar Soya dan langsung memegang erat tangan sang bibi.
Sang bibi hanya tersenyum dan terus melangkah hingga langkah kami berhenti di ruangan yang besar dengan perabot yang begitu mewah dan banyak terpajang foto di dinding dalam penglihatan Soya sekilas dan selebihnya Soya memilih menunduk. "Pagi, Tuan. Maaf kami sedikit terlambat," ujar sang bibi dan Soya semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Terima kasih Bi," jawab laki-laki yang di panggil Tuan.
"Duduklah," ujar laki-laki ini tegas.
"Baik Tuan," jawab Soya sembari menarik tangan sang bibi.
"Non, tolong lepaskan tangan Nona," seru sang bibi mengejutkan.
"Oh, hiya Bi. Maaf," ujar Soya masih menunduk.
Suasana ruangan ini seketika menjadi hening, untuk beberapa saat tak ada percakapan sedikit pun yang keluar dari bibir Soya dan laki-laki di depannya. "Soya," panggil laki-laki ini mengejutkan. Soya yang menunduk seketika menyerngit dan mendongak, "Ya, Tuan," jawab Soya lirih karena Soya paham betul dengan suara yang memanggilnya.
__ADS_1
"Kenapa, kamu terkejut? Kamu akan kemana?" tanya laki-laki ini penasaran.
Soya yang menyadari akan kesalahannya seketika kembali menunduk lesu dan tak berani menatap laki-laki yang duduk di depannya dengan penuh kharisma.