
Danendra tak menyangka jika semua berjalan mulus, meskipun dari awal orang tua Clara menolak secara mentah-mentah keputusan yang Clara ambil secara tiba-tiba. Baru tiga bulan Clara dan Danendra menikah dan secepat itu mereka bercerai. "Terima kasih, setidaknya ke depannya saya bisa menata hidup saya dan menghadapi dengan tanpa malu," ujar Clara sembari menerima surat perceraian mereka.
Danendra menatap Clara dengan senyum lega. "Terima kasih, setidaknya kamu sudah memaafkan kesalahan yang saya perbuat. Terima ini sebagai modal kamu untuk hidup ke depannya," ujar Danendra pelan sembari menyerahkan sejumlah uang pada Clara.
Danendra tak menyangka jika wanita yang telah di sakitinya begitu lapang menerima semua kebejatannya. "Terima Clara. Maaf untuk semuanya," ujar Danendra ulang.
"Tuan, saya akan menerima ini dan saya tak akan munafik, saya juga memerlukan uang ini," tutur Clara sembari menerima uang dari Danendra.
Clara dan Danendra akhirnya memilih jalan mereka, tetapi belum juga langkah Danendra menjauh. "Tuan ...!" teriak Clara sembari mendekat. "Tunggu!" ujar Clara sembari mencari sesuatu dari dalam tasnya.
"Sesekali Tuan pergilah ke alamat ini, di tempat ini ada tempat yang sangat indah untuk di kunjungi," ujar Clara sembari memberikan secarik kertas pada Danendra.
Danendra melihat sekilas kertas yang di berikan oleh Clara. "Terima kasih," ujar Danendra sembari menyimpan kertas dalam sakunya.
Setelah semua urusannya dengan Clara selesai Danendra memilih kembali ke rumahnya sendiri. Menghentikan mobil di depan rumah yang masih terlihat bersih. "Terima kasih Bi," guman Danendra sembari menutup pintu mobil dan tak lama Danendra memasukkan mobil dalam garasi.
Ada sedikit perasaan aneh dalam hati Danendra, memilih untuk tetap tenang meskipun hatinya selalu teriris perih setiap kali mengingat Soya. "Soya kemana kamu menghilang," guman Danendra putus asa hingga kini belum juga menemukan istri yang bisa membuatnya berubah dari sikap arogannya.
Hanya mendesah membuang napas dengan kasar. Memindai satu persatu ruangan rumah Danendra kini menuju kamar yang lama di tinggal sang pemiliknya. Membuka pintu kamar menatap sekilas ke arah meja kecil di samping ranjang masih ada berkas tahunan yang tersimpan rapi, baju yang lama tak tersentuh sang pemilik. "Soya, maaf," guman Danendra lirih.
Merebahkan tubuh di ranjang kecil milik sang istri, netra Danendra menatap langit-langit kamar. "Huff .... " Hanya ini yang keluar dari bibir Danendra.
Cukup lama Danendra merebahkan tubuh di kamar Soya, hingga tatapan Danendra tertuju pada tas punggung kesayangan Soya, tas yang selalu di bawa kemana saja. Danendra dengan penasaran akhirnya turun juga dari ranjang dan meraih tas Soya. Membuka tas dengan perlahan memindai setiap bagian dari tas serta mengeluarkan isi tas. Senyum lebar Danendra terlukis jelas saat Danendra menemukan beberapa uang koin milik Soya dan beberapa lembar uang yang tersimpan rapi di dalam tas. Namun, tatapan Danendra saat ini tertuju pada buku yang terlihat lusuh dan ujungnya sudah kusut. Perlahan Danendra membuka satu lembar pertama dari buku itu, hanya ada tulisan nama dan jumlah uang yang tertera hingga pada bagian tengah buku yang di bukanya. "Argh ...! Kamu, Soya," saat Danendra membaca tulisan tangan Soya dan segera membawa tas itu keluar dari kamar.
"Awas, Kamu!" ujar Danendra marah tak jelas.
__ADS_1
Semangat Danendra untuk menghakimi Soya tiba-tiba berkobar lagi. Mengulir ponsel miliknya dan menghubungi Zulhan yang selama ini di percayanya. "Bagaimana, ada perkembangan?" tanya Danendra sedikit kesal.
"Shiit," umpat Danendra keras saat tak menerima kabar yang menyenangkan hatinya.
Cukup lama Danendra duduk termenung seakan mengatur rencana yang tak mungkin akan gagal. "Ayah, Pak Muin, pasti tahu di mana Soya berada atau mungkin Bibi," guman Danendra sendiri.
Tanpa menunggu lama Danendra kembali keluar dan melaju dengan kencang menuju rumah sang ayah. Danendra sedikit bingung saat mendapati rumah sepi, mobil yang biasa di gunakan sang ayah juga tak nampak.
"Bi ...!" teriak Danendra keras dan itu membuat sang bibi terkejut
"Agh, Tuan muda! Ada apa?" tanya bibi heran.
"Kemana Ayah dan Pak Muin?" tanya Danendra tak sabar.
"Bi ...!" panggil Danendra ulang.
"Tuan, ada apa? Kenapa Tuan terlihat bingung dan gelisah?" tanya sang bibi.
"Bi, Ayah mana? Apa Bibi tahu ke mana Soya pergi Bi?" tanya Danendra putus asa.
"Tu -Tuan muda duduk dulu, mau Bibi buatkan kopi?" tanya Bibi pelan.
Sang bibi yang merasa gugup akhirnya memilih untuk mengajak duduk Danendra, menatap sejenak netra yang terlihat gusar.
"Tuan, Tuan besar dan Pak Muin sedang ada urusan dan pergi ke suatu tempat," jawab sang bibi mencoba untuk berbicara setenang mungkin.
__ADS_1
Danendra yang sejak tadi merasa gelisah akhirnya menanyakan juga perihal Soya.
"Bi, Bibi tahu di mana Soya? Selama ini saya seperti menemui jalan buntu untuk menemui istri saya," ujar Danendra akhirnya.
Sang bibi yang sedari tadi berusaha untuk menghindari percakapan ini akhirnya mau tak mau menjawab juga. "Tuan, coba Tuan cari sendiri dan jika Tuan mengandalkan para pegawai Tuan, Tuan masih kalah kekuasaan dengan Tuan besar. Tuan cari sendiri dan sata juga tak tahu Soya saat ini ada di mana," jawab sang bibi sembari menepuk bahu Tuan mudanya. "Semangat Tuan, buktikan jika Anda benar-benar menyukai Soya," guman sang bibi sembari melangkah dan tak lama kembali dengan satu piring kue basah.
"Makan Tuan, kue ini begitu enak," ujar sang bibi sembari tersenyum.
Mendengar tawaran sang bibi, Danendra akhirnya tersenyum juga. "Huuff .... "Ujar Danendra sembari menatap kue yang ada di depannya.
Danendra tak kunjung mencicipi kue yang ada di depannya hingga suara sang bibi membuat Danendra terkejut. "Tuan, cicipi saja dan ini kopi panas sebagai pelengkapnya," ujar sang bibi seakan memaksa Danendra untuk mencicipi kue yang ada di depannya.
"Terima kasih Bi," jawab Danendra sembari mengambil satu kue.
Danendra tak segera memakan kue yang di pegangnya tetapi melihat label yang tertempel di bungkusnya. "Koy'a cookies," ujar Danendra lirih.
"Bi, sejak kapan Ayah mempunyai langganan kue basah dengan label seperti ini. Bi, ini ...."ujar Danendra seakan sadar dengan nama label kue yang di pegangnya.
"Tuan, banyak yang berjualan kue basah seperti itu," ujar sang bibi pura-pura tidak tahu.
Danendra terus membolak-balik kue yang di pegangnya seakan mencari sesuatu yang membuatnya puas. "Di makan Tuan!" seru bibi sembari tersenyum.
"Bi, kenapa di label ini tak mencantumkan alamat toko atau sejenisnya?" tanya Danendra heran.
"Tuan ingin memakan kuenya atau hanya ingin melihat saja, sebaiknya Bibi simpan saja," ujar bibi tak suka.
__ADS_1
Mendapat omelan dari sang bibi, Danendra akhirnya tersenyum dan langsung memajan kue yang di pegangnya. "Enak, rasa masakan kue ini seperti ..., Bi. Bibi pasti menyembunyikan sesuatu," ujar Danendra menelisik curiga.
Sang bibi tak menghiraukan celoteh Danendra dan kini memilih masuk kamar dan menutupnya rapat. "Semoga Tuan sadar, lalu kemana saja Tuan muda, toh kue itu setiap satu minggu sekali pasti di kirim oleh Soya," guman sang bibi geli seakan menertawakan kebodohan sang Tuan muda.