
Soya mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan dengan perlahan, mengosongkan rongga dadanya sejenak agar sedikit lega. Mengikis air mata yang sejak tadi luruh meskipun Soya sadar jika semua yang terjadi ada yang mengaturnya. Beranjak dari ranjang dan menyimpan kenangan yang membuatnya kembali bersedih.
"Non ...." Panggil bibi mengejutkan Soya.
"Masuk Bi," jawab Soya.
Sang bibi seketika menelisik wajah sembab Soya, Diandra tertidur pulas dalam gendongan sang bibi. Tersenyum untuk menetralkan suasana yang terasa kaku.
"Bibi, tidurkan saja di ranjang," pinta Soya lirih.
Entah, kenapa melihat sang bibi air mata Soya luruh kembali, tangisnya pecah dalam pelukan sang bibi. Bibirnya kelu hanya suara tangis Soya yang terdengar memenuhi kamar hingga cukup lama Soya menangis untuk menumpahkan semua perasaan kecewanya.
"Non, ada apa?" tanya bibi bingung.
"Bi ... Mas Andra," jawab Soya di sela tangisnya.
Bibi langsung paham dengan kasihnya bibi memeluk erat tubuh yang tengah melara akan perasaannya. "Non, sudah jangan menangis lagi. Diandra nanti terbangun," tutur sang bibi.
Mengikis air mata dengan menahan isakan yang membuat dadanya serasa menciut hingga Soya mengambil napas sebanyak-banyaknya untuk melegakan dadanya. "Maaf, Bi," ucap Soya akhirnya setelah bisa mengusai hatinya.
"Bi, Mas Andra ternyata datang mencari Soya dan Mas Andra memberikan ini Bi." Soya mengambil kembali surat dan map yang disimpannya tadi.
__ADS_1
"Bi ... apa sebaiknya kita tinggal di rumah lama Soya? Soya ingin lebih dekat dengan rumah dan lebih sering mengunjungi makam Ibu," terang Soya akhirnya.
"Bi, mulai saat ini Soya membebaskan Bibi tetapi Soya ingin Bibi mau tinggal dengan Soya dan Bibi bisa mengunjungi siapa saja tanpa perlu bertanya pada Soya." Tegas Soya.
"Non ... apa Non mengusir Bibi?" tanya bibi salah paham.
"Enggak Bi, Soya tak akan pernah bisa lepas dari Bibi. Maksud Soya Bibi bebas mengunjungi siapa saja dan Soya tak akan pernah melarang itu," jelas Soya.
Sang bibi tersenyum seakan paham akan maksud Soya, menatap lekat wajah Soya. wajah yang selalu berusaha untuk tegar tetapi tidak untuk hari ini semua keteguhan hatinya luluh saat menerima surat dari nantan suaminya.
"Non, boleh Bibi meminta satu permintaan dan Non akan mengabulkan itu," pinta Bibi lirih.
"Non, saya akan tetap tinggal dengan Nona dan itu juga sudah menjadi keputusan Bibi dan apa Bibi boleh meminta sesuatu untuk Non Diandra cucu Bibi?"
Menatap lekat manik mata yang mulai menua, wanita yang setia dan tulus menyanyanginya sepenuh hati. Soya tersenyum sembari meraih tangan sang Bibi, mengusapnya perlahan sebelum mencium tangan itu berulang kali. "Katakan Bi, andaikan saya bisa mengabulkan itu," jawab Soya.
"Nona yakin?"
"Hem ... akan saya usahakan Bi," jawab Soya memberi harapan.
"Non. Ini tentang Diandra tolong Non pikirkan kebahgiaan Diandra hanya ini saja keinginan Bibi." Bibi menatap Soya.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang bibi tubuh Soya seketika membeku tak menyangka jika Bibi akhirnya mengatakan ini juga, hal yang paling ditakutinya selama ini. Terdiam untuk sesaat hingga tepukan lembut di bahu Soya membuyarkan semua lamunannya.
"Non, pikirkan semuanya. Diandra juga membutuhkan sosok yang kuat dalam hidupnya. Bibi tak ingin Diandra terombang ambing dengan kasih sayang semu yang membuatnya terus bertanya-tanya," tutur sang bibi dan tak lama berlalu pergi.
"Huuufff ... kenapa ini terasa berat? permintaan yang sangat sulit untuk di kabulkan," gumannya lirih.
Menatap lekat surat yang dipegangnya dan menatap Diandra, wajah cantik yang kini tertidur pulas dengan senyum manisnya.
Sesaat dirinya terkejut saat mendengar Diandra mengigau memanggil ayah.
Benar tutur sang bibi jika Diandra membutuhksn seorang figur ayah tetapi Soya seketika menggeleng, tak mungkin dirinya bisa mengabulkan semua permintaan sang bibi.
"Ayah," igau Diandra ulang.
"Maaf, Diandra. Maafkan ibu," tutur Soya mendekat dan memeluk Diandra.
'Jangan menangis Soya. Tenangkan hatimu,' batin Soya.
Tangis Soya terhenti saat matanya terlelap tidur dengan mendekap Diandra hingga pagi menjelang, Soya terkejut saat tak mendapati Diandra disisinya. Suara tawa yang terdengar memenuhi rumah. Mengerjapkan mata yang terasa berat hingga Soya mendengar suara yang tak asing di telingannya.
"Tak mungkin," gumam Soya tak percaya.
__ADS_1