RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 105. Menuju titik terang


__ADS_3

Mendengar ucapan Danendra seketika Soya menatap tajam tak terima. "Apa maksud dari ucapan kamu Mas Andra?" tanya Soya tak suka.


"Di sini yang seharusnya marah saya Mas, Mas tanpa sebab menghianati saya. Apa salah saya dan Mas seakan tak bersalah melakukan itu!" seru Soya penuh amarah.


"Mas Andra jahat!" pekik Soya sembari menatap tajam ke arah Danendra.


"Maaf," ucap Danendra seketika menunduk.


"Maaf ... apa kata maaf cukup untuk semua yang Mas Ardan lakukan? Mas tidak tahu betapa sakitnya hati saya!" seru Soya yang kini sudah menangis, menumpahkan semua kesal dalam hatinya.


Danendra masih terdiam menatap netra yang terus mengembun dengan isak pelannya.


"Soya ... tolong dengarkan saya dulu! Saya sebenarnya .... "Ucapan Danendra terputus saat Soya berusaha untuk ke luar.


"Soya, tunggu! Dengar dulu penjelasan saya," ujar Denendra sembari memeluk tubuh Soya yang terus berontak.


Kini keduanya sama-sama terdiam, Soya masih dengan tangisnya dalam dekapan Danendra. "Mas Andra jahat, Mas Andra kejam Soya sangat membenci Mas .... "Ucap Soya dalam pelukan Danendra sembari memukul dada Danendra.


Danendra hanya membiarkan Soya terus menangis mengeluarkan semua kekesalan hatinya. Hingga Soya melerai pelukan Danendra dan duduk sedikit menjauh, mengikis air matanya. "Maaf." Kata ini akhirnya yang ke luar dari bibir Soya sembari menghembuskan napas berat.

__ADS_1


Danendra duduk sedikit mendekat, tanpa menatap wajah Soya. "Soya. Maaf, banyak hal yang tak pernah kita bicarakan aku terlalu takut kehilangan dan nyata-nyata aku sudah kehilangan dirimu. Cintamu dan semua hal tentang kamu. Tekanan Cintya membuat aku semakin menjauh dari kamu, tetapi semua sudah terjadi Cintya sudah pergi untuk selamanya dan aku bersyukur tenyata Cintya tak menyentuh kamu sedikitpun. Maaf."


Mendengar perkataan Danendra, Soya segera menatap ke arah Danendra. "Maksud Mas Andra?"


Danendra tersenyum saat panggilan Soya tak berubah sedikitpun. "Ternyata kamu masih mengingat panggilan sayang untukku," jawab Danendra yang keluar dari pertanyaan Soya.


Netra Soya seketika membola lebar dan itu semakin membuat Danendra tertawa.


"Huuff ... rasanya baru sekarang aku bisa tertawa. Soya, jika aku saat itu tak menuruti kemauan Cintya pasti kamu saat ini tinggal nama dan aku bersyukur saat itu kamu meninggalkan aku," jawab Danendra akhirnya.


"Jadi?" tanya Soya ketika mendengar jawaban Danendra.


Soya kini tak lagi bicara, hanya diam menatap nanar entah apa yang saat ini sedang dalam pikirannya. Hingga cukup lama mereka terdiam hingga mereka sama-sama saling menatap tanpa sengaja. Danendra kembali tersenyum dan Soya langsung membuang mukanya.


"Biarkan aku keluar dan rasanya semakin gerah jika terus di dalam mobil," pinta Soya akhirnya.


"Hash! jangan harap kamu bisa keluar jika belum menceritakan semuanya," jawab Danedra lagi.


"Argh ... kamu masih tetap memaksa, Diandra bukan anak kamu, titik!" seru Soya kesal.

__ADS_1


"Lalu, anak siapa?" tanya Danendra menyelidik.


"Anakku!" tegas Soya.


"Anak kamu? Lalu Ayah biologisnya?" tanya Danendra kekeh.


Soya terdiam dan tak ingin menjawab pertanyaan Danendra, bibirnya terasa berat untuk menyebut nama laki-laki yang duduk di sebelahnya. Melihat Soya yang sengaja mengulur-ulur jawabannya membuat Danendra sedikit kesal. Danendra makin duduk mendekat hingga wajah mereka begitu dekat dan napas mereka berdua bisa menerpa wajah masing-masing.


Soya yang terkejut dengan tingkah Danendra langsung mendorong tubuh Danendra agar menjauh. "Baik-baik, akan aku katakan tetapi buka pintunya dulu, aku bisa mati kehabisan napas!" pekik Soya kesal.


Melihat Soya yang begitu kesal Danendra makin mendekat. "Argh ... kamu, apa yang kamu pikirkan!" pekik Soya keras.


"Baik, aku tak perlu jawaban dari bibir kamu, kamu bisa menyembunyikan siapa Ayah biologis Diandra, tetapi aku akan mencarinya sendiri, dua kesaksian sudah aku dapat," jawab Danendra.


"Terserah!" jawab Soya kesal dan enggan mengatakan siapa ayah Diandra.


Danendra akhirnya mengalah dan duduk sedikit menjauh. "Baik, jika begitu apapun keputusanku tentang Diandra kamu berarti setuju," jawab Danendra sembari membuka pintu mobil sembari tersenyum.


"Soya kita lihat seberapa lama kamu kekeh dengan pendirian kamu," gumam Danendra akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2