RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
21+ Bab 33. Saya Kekasih Danendra.


__ADS_3

Soya masih tak percaya dengan apa yang di dengar dan di lihatnya, belum juga terkejut Soya lenyap. Soya melihat wanita ini sudah turun dan pergi lagi. "Nona!" panggil Soya mengejutkan wanita ini.


Soya keluar dari dapur dan langsung menghampiri wanita yang membuatnya curiga. Merasa ada yang memanggil wanita ini langsung berhenti dan menatap Soya tanpa berkedip dari atas hingga ke bawah.


"Kamu siapa?" tanya wanita ini sembari berjalan memutari tubuh Soya.


"Saya art, baru Nona," jawab Soya pelan.


"Oh, ya. Kenalkan saya Nella kekasih majikan kamu," ujar Nella sembari menatap tajam pada Soya dengan rasa tak percaya.


"Em ..., siapa nama kamu?" tanya Nella pura-pura lupa.


"Saya Soya, Nona. Silhakan duduk, sembari menunggu Tuan datang," ujar Soya mencegah agar Nella mau menunggu.


"Oh, maaf. Saya terburu-terburu," jawab Nella sembari memakai kaca mata hitamnya.


Soya masih menatap wanita cantik di depannya dan mencari cara bagaimana wanita ini agar mau tinggal. "Nona, ada pesan untuk Tuan muda," jawab Soya.


"Ash, enggak ada dan jangan bilang-bilang saya datang kemari," ujar Nella sembari melangkah.


"Nona, boleh saya melihat yang Anda bawa dari lantai atas," seru Soya khawatir.


"Oh, i-ini!" jawab Nella gugup.


"Ya, Nona," jawab Soya tegas.

__ADS_1


Merasa terpojok dengan ucapan Soya, Nella seketika meradang untuk menutupi aksinya, "kamu! Hanya art, buka urusan kamu mencampuri urusan saya dan satu hal saya sering datang kemari dan kamu jangan coba-coba mengatur, ingat saya kekasih Danendra," ujar Nella marah.


"Baik, silahkan Anda pergi dan apa yang saya lihat akan saya laporkan pada Tuan Danendra," ujar Soya tegas.


Mendengar ucapan Soya, Nella makin meradang dan berjalan dengan menghentak kasar. "Maaf, Nona saya tak bisa mengantar hingga pagar karena Nona sudah membawa kunci," tutur Soya sembari mengekor Nella hingga ruang tamu untuk memastikan.


"Hufffttt ..., ujung-ujungnya pasti Soya yang kena damprat," ujar Soya sembari memasang pengait di pintu ruang tamu.


Sementara itu, di tempat lain Danendra tengah menikmati malam dengan seorang gadis, gadis yang mau tidak mau harus bertanggung jawab atas kecurangan yang selama ini di lakukannya. "Zulhan. Jaga pintu luar, saya ingin bermain-main dengan wanita ini," ujar Danendra terang-terangan.


Setelah Zulhan menutup pintu, Danendra langsung menghentak meja keras-keras.


"Bagus Clara, jadi seperti ini cara bermain kamu hem!" ujar Danendra sembari menangkup wajah, Clara.


"Bicara yang jelas, hem! Ternyata kamu cantik dan bibir kau seksi serta ... "Daendra langsung menatap tubuh Clara dari atas hingga bawah.


Sesaat Danendra menelan ludahnya kasar, menahan gejolak yang tiba-tiba muncul di jiwa laki-lakinya. "Bicara!" bentak Danendra keras sembari melepaskan tangannya dari wajah Clara dan meninggalkan bekas merah.


Clara semakin gemetar, "Maaf, Tu-Tuan semua ini karena suruhan kekasih Tuan," ujar Clara takut. Danendra kembali menatap wanita yang berdiri di depannya. "Jangan ngaco kamu Clara," tukas Danendra marah dan tak terima.


Danendra dengan tatapan nyalang menatap Clara dengan napas memburu. "Lantas kerugian yang sudah kamu lakukan harus kamu ganti rugi," ujar Danendra sembari memainkan jari di wajah cantik Clara.


"Tuan jangan begini, semua kecurangan yang saya lakukan masuk ke rekening Nella Tuan dan ... "wanita ini hanya bisa menangis dan tak melanjutkan ucapannya.


"Tuan. Jangan!" ujar Clara dengan suara tertahan saat Danendra menarik tubuh Clara makin dekat dan merapat ke tubuh Danendra

__ADS_1


"Tuan ..., saya mohon!"


Danendra seketika tertawa keras, "saya akan menganggap semua kerugian saya lunas jika kamu mau melayani saya malam ini atau saya akan menjual kamu," ujar Danendra pelan serasa berbisik.


"Jangan Tuan, saya akan mengganti kerugian Tuan dengan uang, jangan seperti ini," tutur Clara sembari menepis tangan Danendra saat mulai memasukkan tangannnya di balik kemeja yang Clara kenakan.


Danendra seketika menghentikan gerakan tangannya dan menatap Clara lekat, "kamu bisa membayar tiga kali lipat dari kerugian yang kamu buat dan kontan?" tanya Danendra dengan mata merahnya.


Clara tak menjawab dan berusaha untuk berontak dan itu makin membuat Danendra marah dan makin memeluk Clara erat.


"Pilih, melayani saya semalam atau kamu saya jual dan saya lempar ke laki-laki hidung belang," ujar Danendra sembari tersenyum sinis.


Seketika tubuh Clara lemah, Clara hanya bisa menangis dan tak berani mengeluarkan satu patah kata. "Bagaimana?" tanya Danendra ulang. Tangisan Clara seakan menjadi jawaban untuk Danendra. Danendra dengan kasar memasukkan tangannya ke balik baju Clara, meraba setiap inci tubuh Clara hingga dorongan kasar yang Clara lakukan saat tangan Danendra masuk di area sensitifnya. "Tuan! Saya mohon jangan lakukan ini!" ujar Clara masih berusaha mendorong Danendra.


Danendra yang terus mendapat perlawanan dari Clara membuat Danendra terkejut dan marah. Namun, dorongan kasar pada tubuh Danendra membuat Danendra yang tengah di puncak birahi langsung merobek baju Clara dan dengan kasar Danendra menarik tubuh Clara dan melempar ke arah sofa. "Tuan, saya mohon jangan lakukan ini, saya bisa melaporkan Tuan pada pihak berwajib," pekik Clara sembari menutupi tubuh bagian depannya. "Laporkan saja!" ujar Danendra sembari berjalan mendekat.


Danendra semakin mendekat dan dengan kasar Danendra mencumbu Clara, suara helaan napas yang menderu dan tangisan Clara tak menyurutkan niat Danendra untuk menghakimi wanita yang sudah berlaku curang padanya. Hentakan demi hentakan kasar Danendra lakukan, tangis kesakitan tak Danendra hiraukan, saat ini yang Danendra pikirkan bagaimana membalas kecurangan Clara hingga Clara terkulai lemas di sofa bersamaan berhentinya gerakan Danendra.


Namun, Danendra seakan belum puas, kembali Danendra menarik Clara dan menhempas tubuh Clara di ranjang, pergulatan kembali terjadi Clara dengan tubuh lemah akhirnya hanya bisa pasrah saat Danendra kembali mengulang untuk kedua kalinya. Danendra dengan keringat dan napas terengah mengakhiri hukuman untuk Clara.


Danendra duduk sejenak sembari menatap tubuh Clara yang polos, Danendra langsung meninggalkan Clara dan melempar uang ke tubuh Clara. Clara hanya bisa menangis dan menyesali semua kejadian ini, "Tuan, jika hukuman ini berlaku untuk saya, saya juga menginginkan hukuman yang setimpal untuk Nella," tutur Clara di sela tangisnya.


Mendengar nada protes dari Clara Danendra hanya tersenyum dan seakan tak ada penyesalan sedikit pun dari tatapan Danendra. "Tenang saya akan berlaku adil dan pergilah sebelum pikiran saya berubah dan uang itu setimpal dengan keprawanan kamu. Pergi dari kota ini," ujar Danendra sembari merapikan baju dan celananya. Danendra keluar begitu saja dari kamar yang di sewanya, tak menghiraukan tangisan Clara di ujung ranjang dengan tubuh polosnya.


"Zulhan, ayo kita pergi dan suruh orang untuk mengawasi kamar ini hingga Clara pergi," ujar Danendra sembari melangkah pergi.

__ADS_1


__ADS_2