
Soya masih duduk di meja makan bersama sang bibi, entah kenapa saat ini Soya seakan membiarkan saja sikap Danendra, lagi-lagi status awal pernikahan yang membuat Soya mempertimbangkan semua kejadian ini.
Soya sadar jika semua ini akan berlangsung sesaat hingga Cintya pulang. Namun, sesaat hatinya teriris perih saat melihat sikap Cintya yang tak tahu malu dan hanya satu ketakutan Soya, saat suaminya akan mengikuti permainan Cintya gadis yang terlihat lebih cantik dan seksi dan mereka berusia sepadan dan kelas sosial yang sama.
"Non, kenapa Non melamun? Kenapa Non tak melarang Tuan muda?" tanya sang bibi.
"Bi, Cintya itu tamu, jadi selayaknya Mas Andra menemani Cintya, lagi pula mereka juga berteman," dalih Soya untuk menutupi hatinya yang merasa khawatir.
"Non, bagaimana juga Tuan adalah suami Non Soya!" tegas bibi lirih.
"Bi, semua tergantung Mas Andra, jika Mas Andra mencintai saya, Mas Andra pasti akan menjaga sikap dan perasaannya, ingat Bi status saya di awal pernikahan. Saya siapa Bi dan Mas Andra siapa?"
Mendengar ucapan Soya, sang bibi langsung memeluk erat, ada sedih yang terlihat jelas dari wajah sang bibi. "Semoga Tuan sadar akan sikapnya dan semoga Tuan belajar dari pengalaman beberapa waktu lalu," tutur bibi sembari mencium kening Soya dan membisikkan sesuatu pada Soya.
"Terima kasih Bi, tetapi saya akan melihat seberapa jauh mereka berbuat," sahut Soya pelan.
Pukul satu dini hari terdengar pintu di buka, suara Cintya yang terus meracau dan tawa Danendra yang kadang terdengar membuat Soya terbangun. Soya seketika keluar dari kamar, langkah Soya terhenti bersamaan dengan netranya yang menatap tak percaya pada apa yang di lihatnya. "Mas Andra, Cintya apa yang kalian lakukan!" pekik Soya kesal saat Danendra dan Cintya hampir berciuman.
"Mas!" bentak Soya, tetapi tak membuat Danendra bergeming dan di depan matanya dengan rakus Cintya mencium Danendra sembari tersenyum ke arah Soya penuh kemenangan.
"Mas!" teriak Soya dan langsung mendekat dan itu membuat Soya sadar jika mereka berdua tengah mabuk dan aroma yang menyengat tercium dari mereka.
"Hahaha .... kamu tahu, kami berdua dari jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama," racau Cintya dan itu membuat Soya geram.
__ADS_1
Soya, seketika terdiam saat mendengar ucapan Cintya, tubuhnya seketika gemetar menahan amarah yang saat ini tengah merasuki hatinya. "Lantas apa yang harus saya lakukan," guman Soya lirih.
Soya semakin sadar jika suaminya sudah menentukan pilihannya, menerima semua perlakuan Cintya dan seperti saat ini Soya melihat dengan mata kepalanya sendiri saat suaminya begitu menikmati ciuman Cintya.
Tangis Soya luruh begitu saja, tubuhnya yang gemetar menahan amarah, hingga tak terasa air matanya kini sudah luruh begitu saja.
"Aku, sudah kalah," guman Soya dalam tangisnya.
Soya akhirnya membiarkan saja saat Cintya membawa tubuh suaminya masuk dalam kamar, Cintya seakan puas dengan kekalahan Soya dan itu terlihat dari senyum Cintya antara sadarnya hingga Cintya menutup pintu kamar. Soya segera berdiri dan masuk dalam kamar, saat ini yang Soya bayangkan hanyalah bagaimana ulah mereka berdua di dalam kamar. "Bodoh! Kenapa kamu membiarkan suami kamu dan kenapa kamu tak berusaha merebut Soya!" umpatnya dan Soya sadar bahwa hatinya juga tak rela.
Namun, semua perasaan Soya tepis begitu saja saat ingatannya kembali pada ciuman panas Cintya. "Maaf, Mas! Sekali ini saja Mas sudah cukup kesabaran Soya," ujar Soya tak terima dengan sikap Danendra.
Soya tanpa bicara langsung meraih tas ransel kucelnya, membawa hak yang sudah menjadi miliknya, buku tabungan yang di berikan oleh sang suami dan mengeluarkan surat sertifikat rumah yang di jaminkannya dulu. Perlahan Soya keluar dari kamar dan menuju kamar sang bibi. Memasukkan surat yang di bawanya dan meletakkan di kamar sang bibi. Soya keluar dari rumah tak ada penyesalan dan air mata, saat ini satu tujuan Soya untuk pergi sejauh mungkin dan tak akan pernah memaafkan sikap Danendra.
"Bi, jika Bibi ikut siapa yang akan merawat Tuan muda?" tanya Soya khawatir.
"Non ijinkan Bibi ikut!"
"Bi, apa sudah Bibi pertimbangkan?" tanya Soya ulang.
"Sudah Non, Ayo kita segera pergi," ajak sang bibi.
"Bi, jika Bibi ikut ada satu syarat. Bibi harus berjanji untuk tidak membocorkan tempat kita nanti," jelas Soya dan di aminkan oleh sang bibi.
__ADS_1
Berjalan beriringan hingga mereka tiba di terminal. Soya saat ini hanya bisa menatap nanar dan sesekali menghembuskan napas panjang sebelum naik bis, seakan ingin melepas semua beban yang di rasakan meninggalkan tempat yang memberinya perih. Sang bibi yang berdiri di sisi Soya hanya bisa menatap tak bisa menahan keinginan Soya untuk pergi menjauh dari sang suami. "Non, kita akan kemana?" tanya bibi akhirnya.
"Entalah Bi. Saat ini yang terpikir di hati saya hanya ingin pergi sejauh mungkin dari Mas Andra dan Ayah, Soya juga tak ingin mereka menemukan Soya," tutur Soya sembari menatap nanar tempat yang akan ditinggalkannya.
"Non, Bibi akan ikut kemana saja Non Soya pergi. Saya tak ingin Nona sendirian di tempat asing," putus bibi dan itu membuat Soya mengalihkan pandangannya.
"Terima kasih Bi," jawab Soya pelan.
"Ayo, Bi. Kita berangkat," ajak Soya lagi.
Perjalanan tanpa arah menghantar kami menuju tempat yang asing, tempat baru yang tak kami kenal, Soya hanya menuruti hatinya yang merasa sakit akan sikap sang suami. Soya menatap sesaat terminal sembari meraih tangan sang Bibi. "Bi, jangan pernah melepas tangan Soya, kita saling menjaga diri, kita naik angkot apapun asal kita menemukan kampung nanti kita turun," tutur Soya pelan.
Namun, nasib baik seakan berpihak pada Soya, langkah bibi dan Soya terhenti saat ada yang memanggil nama Soya keras dan begitu familiar, suara yang tak pernah Soya lupakan.
Soya semakin mengenggam erat tangan sang bibi seakan mencari perlindungan, hingga suara yang memanggil makin mendekat.
"Soya! Benar ini Soya 'kan?" tanya sang wanita dari arah belakang.
Soya yang merasa penasaran dengan suara yang ada di belakangnya sesaat terdiam dan melirik ke arah sang bibi, seakan paham akan tatapan Soya sang bibi langsung menoleh dan tak lama kemudian Soya, Soya menatap tak percaya, wanita yang ada di depannya.
Wajah yang kini terlihat sedikit menua dengan senyum khasnya dan satu lagi yang tak bisa Soya lupakan suara khas saat memanggil Soya.
"Ibu, Ibu ada di sini?"
__ADS_1