
"Saya tanya sekali lagi, kamu mau kemana malam-malam?" tanya laki-laki ini lagi.
"Maaf, Tuan. Saya-saya sedang bingung," ujar Soya lirih.
"Apa kamu tak berjualan lagi?" tanya laki-laki ini. Soya hanya bisa menghela napas berat, Soya kemudian mendongak dan menatap laki-laki yang duduk di depannya. "Anda Pak Guntur," ujar Soya bersemangat tetapi sesaat kemudian Soya kembali terlihat lesu. "Maaf, Pak Guntur. Saya sudah tidak berjualan lagi dan semua pekerjaan saya juga sudah menghilang semua dan semalam saya berusaha melarikan diri dari kejaran renternir si kutu kupret itu," jawab Soya jujur.
"Em ..., lantas kamu akan pergi kemana? terus Ibu dan Bapak kamu?" tanya Pak Guntur pelan sembari menatap wajah Soya.
"Itulah Pak, kedua orang tua saya sudah meninggal dan sepeninggal Bapak meninggalkan hutang yang begitu banyak terutama pada renternir si kutu kupret," jawab Soya polos. "Siapa kutu kupret itu?" tanya Pak Guntur menyelidik. "Eh. Anu, Pak itu sebutan untuk renternir itu, renternir yang pelit, selalu mau menang sendiri dan satu hal Pak, kutu kupret itu seperti selalu mencari masalah, masa saya sudah membayar lengkap ada saja alasan untuk berdebat dengan saya," ujar Soya tanpa rem.
"Em ..., apa si kutu kupret itu tampan?" tanya Pak Guntur memancing. Soya yang mendengar pertanyaan Pak Guntur hanya tersenyum, "apa kutu kupret itu tampan?" tanya pak Guntur ulang. "Tampan, sangat tampan tetapi sangat menyebalkan," ujar Soya pelan. "Lalu siapa namanya?" tanya pak Guntur seakan ingin mengorek kejujuran Soya. "Danendra Pak!" jawab Soya lugas.
"Oh ..., Danendra, apa wajahnya mirip yang ada di foto itu, jika benar Danendra adalah anak saya satu-satunya," jawab Pak Guntur tenang.
Soya seketika menatap foto yang di tunjuk pak Guntur, seketika mata Soya melotot saat menatap foto yang terpampang di dinding.
"Maaf, Pak. Maafkan Soya dengan mulut kasar Soya," ujar Soya seketika berdiri dan menunduk menghormat untuk meminta maaf. Pak Guntur yang melihat reaksi Soya seketika tertawa keras seakan puas mendengar ucapan Soya hingga pak Muin dan bibi masuk ke dalam untuk melihat.
Pak Guntur setelah menghentikan tawanya seketika menatap Soya dan berganti ke arah pak Muin sembari berkedip. "Pak Muin, Bibi. Hari ini Danendra mendapat nama baru dan julukan dari gadis ini. kutu kupret," ujar Pak Guntur sembari tertawa lagi. Soya yang merasa bersalah semakin menunduk menatap lantai. "Maaf, jika saya memanggil Tuan Danendra, kutu kupret karena jujur Tu-tuan Danendra sangat menyebalkan," ujar Soya sembari memainkan kakinya di lantai.
__ADS_1
"Pak Muin, panggil si kutu kupret kemari," jawab Pak Guntur setelah berhenti dari tertawanya. Soya yang mendengar ucapan Pak Guntur seketika gemetar terbayang umpatan-umpatan Danendra selama seminggu ini. "Pak, Tolong jangan panggil Tuan Danendra karena selama satu minggu ini saya belum mengangsur dan tolong saya, saya belum berani menemui Tuan Danendra," ujar Soya ketakutan.
Pak Guntur yang mendengar ucapan Soya kembali berkedip ke arah Pak Muin sebagai isyarat. "Baik Tuan saya akan memanggil Tuan muda," jawab Pak Muin bersungguh-sungguh. Soya yang mendengar ucapan pak Muin segera berlari memburu langkah pak Muin. "Tolong Pak jangan bawa Tuan Danendra kemari, tolong Pak! Saya-saya akan segera mencari pekerjaan untuk melunasi hutang Bapak saya," ujar Soya tergugu bersimpuh di kaki pak Muin.
Sang bibi yang sedari tadi diam memilih pergi karena sang bibi tak tahan melihat Soya menangis. "Pak Muin, batalkan," ujar Pak Guntur tiba-tiba. Soya masih memegang kaki pak Muin erat. "Sudah, jangan begini Soya," ujar Pak Muin risih. Soya perlahan melepas tangannya, tetapi tangisnya masih belum mereda.
"Soya!" Panggil pak Guntur lirih.
Mendengar panggilan dari pak Guntur Soya segera mengikis air matanya dan berjalan mendekat, Soya kini makin menunduk.
"Kamu, akan bekerja di mana dan apa ijazah kamu?" tanya Pak Guntur aneh. "Entalah Pak, Soya juga tidak tahu, Soya hanya berijazah SMP dan andaikan Soya masih melanjutkan sekolah, tahun ini Soya tamat SMA," jawab Soya sembari mengusap ingusnya.
"Dua puluh lima juta dan bunganya terus berlipat ganda," jawab Soya pelan.
"Siapa nama Bapak kamu?" tanya pak Guntur sembari mengeluarkan beberapa berkas dari almarinya. "Kardi Pak!" jawab Soya tegas.
"Kardi-Kardi," ujar pak Guntur berulang kali sembari membolak balik berkas di depannya.
"Kardi, alamat **** nomor delapan belas?" tanya pak Guntur tiba-tiba.
__ADS_1
"Benar Pak!" jawab Soya pelan dengan tubuh yang tiba-tiba gemetar.
"Duduklah ada yang ingin saya sampaikan," ujar pak Guntur tenang.
Perlahan Soya duduk di depan pak Guntur dan ketakutannya makin menjadi saat pak Guntur menyisihkan satu berkas yang di carinya.
"Soya, apa kamu pernah membaca surat perjanjian antara Bapak kamu dan anak saya si kutu kupret itu?" tanya pak Guntur sembari menatap wajah pucat di depannya. "Saya pernah membacanya dan semalam saya juga membawanya," jawab Soya dengan suara tergetar.
"Kamu sudah membacanya dengan detail?"
"Sudah Pak dan di surat itu juga tertulis bahwa sebagai jaminan dari hutang itu adalah barang berharga yang Bapak miliki," ujar Soya menjelaskan.
"Em ..., apa di rumah kamu ada barang berharga yang orang tua kamu miliki?" tanya pak Guntur. Soya langsung menggeleng, "hanya rumah yang saya tinggali dan saya pernah mengajukan pelunasan hutang dengan rumah itu tetapi Tuan Danendra menolak karena tanpa sertifikat," ujar Soya lirih.
"Soya, jika di rumah kamu tak ada barang berharga yang Bapak kamu miliki, lalu barang berharga apa yang akan di jaminkan Bapak kamu," tegas pak Guntur. Soya terdiam saat ini pemikiran apa lagi yang harus Soya utarakan. "Pak, yang saya punya hanya rumah itu saja, coba kamu baca sekali lagi dan satu hal yang perlu kamu ingat rumah itu tidak bisa di jaminkan pada Danendra karena sebelum Bapak kamu meminjam pada Danendra, Bapak kamu sudah meminjam kepada saya sebesar lima puluh juta dan sertifikat rumah sudah ada di saya," ujar pak Guntur pelan. "Coba lihat dan baca perjanjian ini. Saya menganggap hutang Bapak kamu lunas, sementara di Danendra apa yang akan kamu gunakan sebagai jaminan?" tanya pak Guntur yang tiba-tiba menyudutkan.
Soya semakin tertunduk semua pembicaraan pagi ini seperti bom nuklir yang memporak porandakan hati Soya hingga hancur berkeping-keping. "Saya akan bekeja Tuan," jawab Soya lirih. "Bekerja dan gaji yang kamu terima pasti akan terus habis untuk membayar hutang pada Danendra, saya juga tahu sifat anak saya seperti apa," ujar pak Guntur pelan dan mengintimidasi.
"Bagaimana jika saya membantu Soya, tetapi ada satu syaratnya," ujar Pak Guntur sembari tersenyum.
__ADS_1