
"Aneh!" gerutu Soya sembari masuk dalam dapur dan tak lama Soya sudah keluar lagi sembari membawa satu cangkir teh.
"Silahkan Tuan," tutur Soya sembari meletakkan cangkir pelan.
Danendra yang sedari tadi memperhatikan akhirnya tersenyum, tanpa mengucapkan terima kasih Danendra langsung meraih cangkir dan meminum teh yang Soya sungguhkan. "Buah! Apa ini? Kamu bisa membuat teh, tidak!" pekik Danendra marah.
"Tu-Tuan, tetapi saya sudah membuatnya dengan benar," tutur Soya tergagap.
"Benar-benar apanya? Saya tidak mau tahu, buat lagi yang baru!" perintah Danendra sembari melotot. Tanpa bicara Soya langsung mengambil cangkir yang telah tandas isinya.
Soya menatap laki-laki di depanya dengan geram dan pergi begitu saja menuju dapur.
Soya semakin geram saat mendengar teriakan Tuan muda begitu keras. "Hash. apalagi, ini saja belum selesai," gerutu Soya sembari mengaduk teh yang di buatnya.
"Lamban! Cepat sedikit dan setelah itu bantu saya!" ujar Danendra ketus sembari melempar obat gosok ke arah Soya.
Melihat tingkah sang Tuan, Soya hanya mencebik kesal kemudian memungut obat gosok yang terjatuh ke bawah. "Tuan ini obatnya," ujar Soya sembari menyerahkan obat gosok pada Danendra.
"Argh ..., kamu itu bodoh atau apa? buka dan gosok punggung saya!" perintah Danendra kasar sembari membuka baju.
"Agh. kenapa Tuan membuka baju?" tanya Soya sembari menutup wajah dengan dua tangannya.
"Lantas, jika tak membuka baju saya mesti bagaimana?" tanya Danendra biasa.
"Cepat gosok!" perintah Danendra.
Soya makin menutup rapat wajahnya dengan dua telapak tangannya, sesaat Soya berkeringat tak menyangka jika akan mendapat penampakan yang begitu indah, tubuh tegap dan kekar ala-ala body aktor korea. "Huffftt ..., Soya hanya bisa menghela napas, bagaimanapun juga Soya gadis normal.
Sementara itu, Danendra yang menunggu baluran obat dari Soya sedikit heran saat tak ada pergerakan dari tangan di punggungnya.
Danendra seketika menoleh dan betapa terkejutnya Danendra saat melihat Soya menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Danendra dengan senyum usil langsung mendekat ke arah Soya. "Dasar bodoh! Apa yang sedang kamu pikirkan, hah?" tanya Danendra sembari menyentil dahi Soya.
__ADS_1
Soya, seketika melepas tangannya dan memejamkan mata erat, "Tuan. kenapa menyentil sakit Tuan!" jawab Soya dengan mata terpejam dan tangan Soya mengusap dahi.
"Argh ..., kamu! Cepat selesaikan tugas ini!" ujar Danendra ketus.
"Soya, enggak mau Tuan, Tuan memakai baju dulu," tutur Soya sembari menunduk.
Danendra kembali tersenyum usil, "sudah, cepat gosok punggung saya!" perintah Danendra.
Soya seketika membuka mata belum juga netranya menangkap dengan jelas tubuh yang ada di depannya, "argh ...! Soya, enggak mau, Tuan-Tuan membohongi saya," ujar Soya kembali terpejam.
Menyadari sikap Soya yang demikian Danendra kini menatap ke arah gadis yang duduk di depannya, terlihat senyum tulus yang tersungging di bibir, "sudah! Buka mata kamu dan balur cepat punggung saya, sakit Koya," tutur Danendra sedikit pelan.
"Enggak mau Tuan. Tuan pasti berbohong," ujar Soya sembari terpejam.
"Sudah. Buruan, kamu harus bertanggung jawab," ujar Danendra kembali ketus.
"Enggak mau, Tuan pakai baju dulu!" jawab Soya ulang.
"Cepat! Soya!" ujar Danendra geram.
"Kamu!" pekik Danendra sembari menarik tangan Soya.
"Tuan-Tuan pakai baju Tuan dulu!" jawab Soya.
Perdebatan antara mau dan tidak mau akhirnya membuat laki-laki yang baru masuk dalam rumah sedikit menyerngitkan keningnya, berjalan sedikit tergesa menuju sumber suara berasal. Danendra yang berusaha menarik tangan Soya dan Soya dengan mata terpejam berusaha melepas tangan Danendra. Zulhan yang melihat ini langsung tersenyum hingga akhirnya Zulhan memilih terbatuk lirih untuk menyapa mereka.
Soya seketika membuka mata dan berlari kearah Zulhan sementara Danendra langsung memakai baju. "Zulhan, ini-ini tidak seperti yang kamu lihat," ujar Danendra kikuk.
Zulhan langsung menuju ruang makan di mana Soya duduk dan berkali-kali mengelus dada, "kenapa?" tanya Zulhan.
"Zulhan, sungguh saya hanya minta tolong pada Soya, lihat punggung saya," ujar Danendra sembari membuka baju dan menunjukkan pada Zulhan.
__ADS_1
Melihat kondisi punggung Danendra seketika Zulhan menatap Soya dan Danendra bergantian. Zulhan dengan diam menatap ke arah Danendra. "Jangan menatap saya, tanyakan saja pada Koya itu, lantas kenapa pula si Koya tak bertanggung jawab," ujar Danendra ketus. Danendra langsung menuju ke arah Soya dan mengambil obat gosok dengan kasar. "Kamu! Awas!" ujar Danendra marah.
"Zulhan tolong balur punggung saya," tutur Danendra pelan sembari mengajak Zulhan duduk di ruang tengah.
Zulhan hanya tersenyum melihat sikap Danendra yang naik turun, duduk di ruang tengah tanpa Zulhan minta Danendra langsung menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini. Zulhan seketika tertawa keras saat mendengar cerita Danendra.
"Terima kasih, Zulhan," ujar Danendra sembari memakai bajunya kembali.
"Danendra, kamu harus paham. Soya gadis yang masih lugu belum pernah melihat tubuh laki-laki, jadi kamu harus paham. Berbeda 'kan dengan Nella," tutur Zulhan pelan.
Danendra hanya menatap Soya dari kejauhan, 'benar perkataan Zulhan jika Soya masih begitu polos dan muda,' tutur hati Danendra.
Danendra baru tersadar saat tepukan mendarat di bahunya, "jangan melamun. Ayo, saya mau laporan," ujar Zulhan sembari berdiri.
"Hay, Koya. Buatkan kami minum dan antar ke lantai atas cepat!" perintah Danendra.
Soya yang mendengar teriakan Danendra langsung menatap dengan heran. "Tuan, bukan teh Tuan masih utuh," ujar Soya mengingatkan.
"Buang saja, jika kamu mau minum saja," ujar Danendra sembari naik ke atas.
"Sayang sekali teh manis, saya membuatnya pakai tenaga dan memakai gula, teh dan harus menjerang air juga. Maaf, teh manis jika Tuan muda tak ingin meminumnya," tutur Soya sembari mengambil cangkir dan membawanya ke dapur.
"Hash, coba kamu dengar Zulhan, kenapa Soya berbicara seperti itu," ujar Danendra pelan.
Zulhan seketika tersenyum, "sudahlah Danendra, lagi pula Soya terbiasa hidup serba kekurangan jadi ada rasa sayang," tutur Zulhan sembari duduk.
Suasana rumah yang tadi terdengar ramai kini hanya terdengar dua orang yang sedang berbincang dengan serius. Hingga Soya naik ke atas dan menaruh dua teh hangat. Terima kasih Soya," ujar Zulhan sembari tersenyum.
"Sama-sama Kak," jawab Soya. Namun, netra Soya seketika menatap lembaran yang tercecer di atas meja. "Tunggu Kak, sepertinya hitungan di kertas itu ada yang salah," tutur Soya sembari berjalan mendekat dan langsung memeriksa hitungan di lembar yang berserak.
Danendra yang menatap Soya melotot langsung di hentikan oleh tatapan Zulhan.
__ADS_1
Soya, langsung memeriksa hitungan yang di pegangnya menatap serius dan langsung mengambil bolpoint Zulhan. Secara cepat Soya menyelesaikan hitungannya dan kembali mengambil lembar kedua.
"Kak Zulhan, tolong koreksi," ujar Soya sembari menyerahkan lembar pertama pada Zulhan.