RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 59. Kejujuran Clara


__ADS_3

Clara yang merasa terpojok oleh ucapan dua laki-laki yang ada di depannya berusaha untuk mengelak. "Ah, mungkin Anda berdua salah lihat," ujar Clara pelan.


"Mm ..., mungkin tetapi saya masih ingat," ujar laki-laki yang berkulit coklat.


Danendra semakin berbunga saat melihat Clara semakin resah. "Clara kita pulang," ujar Danendra untuk mengurai ketegangan yang ada di wajah Clara.


Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam terutama Clara. Danendra berulangkali melirik ke arah Clara. "Ash! Kenapa kamu terlihat sedih, apa yang kamu pikirkan?" tanya Danendra.


Clara makin menunduk dan terus memainkan jari tangannya kalut. Melihat reaksi gadis yang duduk di sisinya membuat Danendra senang. "Ada apa? Jangan bersikap begitu, jangan membuat calon anak saya tak nyaman. Sebaiknya kita ke Dokter, saya tak ingin dedek debay yang ada di sini ikut resah," ujar Danendra sembari mengusap perut Clara yang datar.


Clara semakin terlihat takut, ada dilema dalam diamnya. "Ah, enggak saya baik-baik saja, kita pulang saja," jawab Clara.


Sejenak Danendra sadar ada hal yang harus di benahi pada sikapnya demi mendapat kebenaran yang terkadang membuat begitu marah. "Clara kita berhenti dan duduk di sana," ujar Danendra sembari memberhentikan mobil tiba-tiba di taman.


Menuju taman kecil di tengah-tengah kota.


"Duduk di sini mungkin bisa membuat kamu sedikit tenang," ujar Danendra duduk bersandar menatap taman.


Menghela napas barat dan membuangnya dengan kasar, Danendra menatap sejenak wajah gadis yang pernah di lukai hati dan tubuhnya. "Maaf, jika perbuatan saya kasar dan terlalu menyakitkan. Saya hanya tahu bagaimana menghancurkan dan membalas kecurangan yang di tujukan pada saya," ujar Danendra sembari meraih tangan Clara dan menatap lekat manik mata yang menegang.


"Kamu marah dan membenci saya, itu hak kamu dan satu hal saya meminta maaf," ujar Danendra lirih.


Kata maaf yang keluar dari bibir Danendra tak serta merta mendapat jawaban baik. Clara seketika menatap tajam pada Danendra.


"Maaf! Apa ini cukup. Anda sudah merusak masa depan saya. Apa, Anda tak pernah memikirkan itu?" tanya Clara yang tiba-tiba marah meluapkan kekesalan di hatinya dan menangis.


"Anda tak tahu bagaimana posisi saya, Anda sudah salah memberi hukuman, hukuman yang harus saya tanggung seumur hidup saya, malu, hinaan dan .... "Clara tak melanjutkan ucapannya, kini malah menangis lirih dan berusaha untuk meredam suara tangisnya dengan menutup mulutnya.


Danendra yang melihat reaksi gadis yang duduk di sisinya hanya menatap gundah sadar akan kesalahan yang di lakukan masa lampau perlahan Danendra memeluk Clara memeluk penuh hangat. "Apa, yang bisa saya lakukan untuk nenebus itu semua," ujar Danendra pelan.


Mendengar ucapan Danendra Clara makin tergugu ada rasa kesal yang ingin di luapkan dengan tangisnya. "Nikahi saya dan beri saya status yang jelas. Setelah itu ceraikan saya paling tidak saya sudah memiliki status sebagai janda dan itu membuat saya lebih terhormat di banding saya berstatus perawan tetapi sudah tak suci," ujar Clara lirih.


Danendra langsung melepas pelukannya sesaat. "Kamu!"


"Ya, saya," jawab Clara dengan suara tercekat.


"Beri saya status Tuan, paling tidak ini juga demi nama baik orang tua saya, saya mohon dan setelah ini saya akan pergi menjauh dan tak akan menganggu Anda dan Soya. Saya paham ini kesalahan saya yang serakah," ujar Clara pada akhirnya.

__ADS_1


"Maksud kamu?" tanya Danendra bingung.


"Tuan, semua ini bermula dari saya yang melakukan kecurangan pada kantor Tuan dan Nella tahu itu dan sejak saat itu Nella terus menekan saya dan terus menekan saya untuk melakukan kecurangan," cerita Clara jujur.


"Maaf, andaikan saya berkata jujur apa Anda akan mengabulkan keinginan saya?" tanya Clara datar.


Danendra langsung tersenyum dan menatap Clara lekat saat ini Danendra sadar jika ada beribu-ribu penyesalan yang membuat matanya terbuka lebar sikap arogan yang di milikinya ternyata mempunyai satu sisi buruk dan itu begitu merugikan gadis yang duduk di sampingnya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Danendra.


"Beri saya status janda Tuan, agar saya siap menghadapi hidup saya ke depannya dan hanya itu keinginan saya," ujar Clara.


Danendra hanya menunduk dan kemudian menatap Clara. "Apa ucapan kamu bisa di pegang?" tanya Danendra.


"Saya tak akan mengulang kesalahan untuk ke dua kalinya Tuan, saya hanya ingin setelah mendapat status yang jelas saya akan pergi dari kehidupan Anda," jawab Clara sembari menghembuskan napas kasar.


"Baiklah, lalu kehamilan kamu?" tanya Danendra akhirnya.


"Maaf, saya akan berkata jujur tetapi Anda harus menepati janji," jawab Clara.


Danendra hanya bisa terdiam untuk sesaat.


istri saya dulu," ujar Danendra berat.


Clara dan Danendra sama-sama terdiam seakan mereka telah melakukan kecurangan di belakang Soya. "Tuan, saya akan menceritakan semuanya di depan Anda dan Tuan besar," ujar Clara akhirnya.


"Baik! Saya tunggu itu Clara dan saya akan menghubungi pengacara saya," ujar Danendra sembari berdiri. "Kita pulang dan akan membicarakan ini," ujar Danendra pelan dan memilih melangkah lebih dulu.


Clara yang melihat reaksi Danendra akhirnya bisa bernapas lega. "Terima kasih Soya," guman Clara lirih sembari tersenyum lega.


"Clara, ayo pulang!" seru Danendra dari jauh.


Clara dengan sedikit berlari menuju di mana mobil di parkir. "Hati-hati ada calon anak saya," ujar Danendra.


Perjalanan pulang sedikit melegakan, meskipun nantinya akan ada prahara besar yang Clara sulut dengan kebohongannya selama ini. "Tuan, apa Tuan akan menepati janji Tuan setelah saya berkata jujur nanti?" tanya Clara akhirnya.


Danendra hanya mendengus kesal untuk membuang amarah yang sejak tadi di tahannya, memilih melaju sedikit kencang dan akhirnya tak lama mereka tiba di rumah.

__ADS_1


Memasuki rumah Danendra sedikit terkejut saat melihat sang Ayah sudah duduk dengan santai sembari menyantap berbagai kue yang ada di depannya. "Sore Ayah!" sapa Danendra heran dan langsung ikut duduk di sisi sang Ayah.


"Clara, kemarilah sini ada banyak kue," ujar Tuan Guntur.


"Ya, Tuan!" jawab Clara dengan senyum.


"Dari mana kalian?" tanya Tuan Guntur.


"Habis jalan-jalan Tuan," jawab Clara. "Maaf, Tuan saya akan ke kamar dulu," ujar Clara tiba-tiba.


Sementara Danendra menatap sang Ayah dengan aneh. "Ayah! Ayah sudah sehat?" tanya Danendra heran.


"Sudah, makanlah ini sangat enak, Pak Muin yang bawa dari kampung," ujar sang Ayah.


Melihat begitu banyak kue basah dengan berbagai rasa. "Pak Muin ...!" teriak Danendra memanggil.


"Hash! Kamu, jangan teriak, Pak Muin sedang Ayah suruh," ujar sang Ayah memupus semangat Danendra.


Danendra merasa kecewa karena rasa penasaran akan sesuatu hilang begitu saja membuatnya marah. "Ayah, saya ingin menikahi Clara," ujar Danendra dan itu membuat sang Ayah menatap Danendra tajam.


"Hm ..., menikahlah demi bayi yang ada di perut Clara," ujar Tuan Guntur menghiyakan.


Mendengar jawaban dari sang Ayah, Danendra akhirnya menceritakan semua pembicaraannya dengan Clara di taman. Netra Tuan Guntur seketika meredup dan tak berapa lama. "Panggil Clara," ujar Tuan Guntur pelan.


Clara yang sadar akan semua perbuatannya kini sudah bertekad untuk menceritakan pada Tuan Guntur tanpa sesuai dengan apa yang sudah terjadi tanpa di kurangi dan di tambah sedikitpun. "Maaf Tuan, jika saya sudah berbohong dan selama dua bulan ini, saya sadar jika Tuan muda yang bertindak pasti saya akan lebih tersiksa mendapat hukuman yang lebih berat," ujar Clara pada akhirnya.


Tuan Guntur hanya bisa menghela napas saat mendengar semua cerita Clara. "Clara, lantas kehamilan kamu?" tanya Tuan Guntur akhirnya.


Clara hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Sudah saya duga," jawab Tuan Guntur akhirnya.


Ada perasaan kecewa ysng mendalam yang di rasakan oleh Tuan Guntur, amarah yang berusaha di tahan dan kemudian menatap Danendra. "Cepat urus semuanya!" perintah Tuan Guntur marah dan meninggalkan Clara dan Danendra begitu saja.


"Clara, jangan pergi dari rumah ini sampai semua urusan kamu selesai," ujar Tuan Guntur akhirnya sembari menutup pintu kamar dengan keras.


Amarah yang sedari tadi membuncah di hati Tuan Guntur sedikit teredam saat mengingat nama Soya, gadis yang bisa membuat hati Tuan Guntur sedikit tenang. "Semoga pengorbanan kamu berhasil Soya dan senua ini juga bagian dari rencana kita tetapi saya tak menyangka jika Clara hanya pura-pura hamil," ujar Tuan Guntur lirih.

__ADS_1


Tuan Guntur hingga malam masih mengurung diri di kamar, sementara Danendra sudah kembali ke kamarnya dan terdengar tengah menghubungi seseorang dan tak lama Danendra terdengar mendengus kesal. "Argh ..., rumit," guman Danendra kesal.


Danendra hanya bisa monda-mandir di dalam kamar dan tak berapa lama Danendra tersenyum. "Semuanya akan berjalan lancar dan pasti bisa," ujar Danendra.


__ADS_2