RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 76. Kegilaan Cintya


__ADS_3

Soya sesaat terkesiap saat melihst senyum Cintya penuh kemenangan, tubuhnya kini terasa lemas dengan perasaan yang tak tentu Soya masih berdiri di depan pintu kamarnya.


Berbagai perasaan berkecamuk di hati Soya, marah dan jujur Soya tak suka dengan apa yang di lihatnya hingga sang bibi datang dan memeluknya erat. "Non, maafkan sikap Tuan." Hanya ini yang terucap dari bibir sang bibi dan tak lama melepas pelukannya, menatap Soya penuh kasih.


"Nona harus berjuang, bagaimanapun juga Nona adalah istri Tuan dan Cintya adalah gadis gila yang terobsesi dengan Tuan muda," tutur sang bibi seakan paham akan sikap Cintya.


Soya seakan sadar akan sikapnya yang mudah terbawa emosi, perlahan Soya meredakan emosinya dan tersenyum menatap bibi.


"Bibi, apa yang terjadi dengan Cintya?" tanya Soya lirih.


"Bibi tidak tahu Nona, yang Bibi tahu mereka pernah bersama dan saling mencintai tetapi Bibi juga tidak tahu mereka berpisah karena apa," jelas bibi pelan.


"Bi, apa Soya bisa menghadapi sikap Cintya? Apa bisa saya melihat semua ini?" tanya Soya akhirnya.


"Kenapa, Ayah pergi juga begitu lama?" tanya Soya seakan mencari perlindungan pada sosok yang selama ini begitu menyanyanginya.


"Non. Non harus percaya pada Tuan muda dan yakin jika saat ini hati Tuan muda hanya untuk Nona," ujar sang bibi sembari memeluk erat Soya.


Soya hanya menghela napas, bagaimana juga perasaannya sakit jika melihat keadaan ini.


Perlahan Soya melepas pelukan sang bibi, "terima kasih Bi, terima kasih," imbuh Soya lirih dan menuju dapur.


"Ayo. Bi, Soya bantu di dapur." Ajak Soya dengan wajah lebih tenang.


Soya tak menyangka jika kedatangan Cintya begitu membuatnya khawatir sesaat Soya menghentikan pekerjaannya saat mendengar suara manja Cintya yang tengah bergelayut manja di lengan sang suami. Soya masih tak menyangka jika Danendra suaminya mengikut saja kemauan Cintya. "Ash! Mereka membuat saya semakin gemas," umpat Soya lirih mencoba untuk meredam emosinya.

__ADS_1


"Soya!" panggil Danendra sesaat setelah keluar dari kamar Cintya dengan wajah tak bersalah.


Soya sengaja tak menjawab panggilan sang suami dan membiarkan sang suami dengan panggilannya hingga langkah Danendra terhenti di dapur. "Cintya, ingin sesiatu untuk di makan dan setelah itu tolong bantu minum obat," ujar Danendra seenaknya.


Mendengar perkataan sang suami Soya sesaat menatap heran seakan tak percaya dengan ucapan sang suami. "Mas. Mas enggak salah bicara 'kan? Biar Cintya makan sendiri dan perlu Mas tahu, saya tak akan pernah membantu Cintya titik!" jawab Soya tegas dan melempar apron yang dipakainya.


Danendra seketika melotot tak percaya dengan apa yang di dengar, menatap Soya tak suka. "Mas jangan memaksa, Mas bisa minta tolong pada Bibi," ujar Soya kesal.


"Soya! Cintya tamu di rumah kita." Danendra berucap sembari memburu langkah Soya.


"Soya! Dengarkan dulu!" pinta Danendra sembari meraih tangan Soya.


"Apalagi Mas! Kenapa Mas begitu perhatian dengan Cintya, dia hanya teman Mas dan apa selayaknya teman bersikap begitu? Apa Mas masih mencintai Cintya?" tanya Soya seketika membuat Danendra menghentikan langkahnya.


"Mas, jika Cintya merasa sebagai seorang tamu hendaknya dia bersikap sebagai tamu dan teman, baru sehari Cintya di sini dia sudah berusaha untuk bunuh diri. Sungguh Soya tak habis pikir, Mas sejak awal saya sudah tegaskan bahwa kita sudah menikah dan berbeda lagi urusannya jika kita belum menikah," tegas Soya sembari menatap ke arah kamar Cintya.


Soya sesaat menatap ke arah sang suami lihat itu teman atau .... agh apalah itu!" ujar Soya kesal dan memilih untuk diam.


"Danend sayang, kenapa lama sekali?" tanya Cintya membuat Soya semakin tak suka.


Danendra langsung menoleh dan tersenyum ke arah Cintya, tetapi masih berdiri di depan Soya. "Cintya ...." Pekik Danendra saat melihat Cintya hanya memakai lingeri dan berjalan keluar menghampirinya.


Danendra yang sadar akan situasi ini seketika menelan ludah, bagaimana juga dia lelaki normal sementara Soya langsung menatap sang suami dengan amarah. "Mas Andra!" bentak Soya dan mengejutkan Danendra.


Soya langsung menarik tangan sang suami masuk kamar dan memanggil sang bibi untuk mengurus Cintya. "Mas, apa Mas sadar dengan apa yang Mas lakukan tadi?" tanya Soya geram.

__ADS_1


Danendra seketika menunduk dan tak berani menatap mata Soya, hingga beberapa saat kemudian. "Akhirnya saya paham Mas, ternyata Mas tak bersungguh-sungguh mencintai saya," guman Soya lirih.


Soya lebih memilih untuk diam, tak akan mendebat apapun itu saat sadar statusnya di awal pernikahan. "Hm .... "Hanya ini yang terdengar dari bibir Soya dan sesaat tersenyum, senyum luka karena merasa kalah akan sikap sang suami.


"Soya, maaf!" kilah Danendra.


"Soya maafkan." Soya hanya menjawab sekilas dan berlalu keluar dari kamar.


"Mbok, tolong bantu saya menyiapkan makan malam," pinta Soya sembari menyiapkan sayur dan lauk yang telah di masaknya tadi.


Sang bibi yang sedari tadi memperhatikan Soya hanya bisa menggeleng tetapi masih saja membantu Soya. "Bi, tolong panggil Cintya," tutur Soya sembari menuju kamar dan tak lama keluar bersama sang suami.


Namun, sesaat Soya tersenyum saat melihat Danendra yang duduk dengan kikuk menatap Cintya dengan aneh. "Bi, kita makan bersama," panggil Soya setelah mereka semua ada di meja makan. "Mas, lekas makan." Soya sembari mengambil nasi serta lauknya di piring sang suami.


"Terima kasih Soya," jawab Danendra sembari tersenyum.


Cintya seketika menatap tak suka ke arah Soya, tatapan mata tajam dan tak berkedip.


Melihat cara Cintya menatap Soya langsung tersenyum. "Cintya, ayo lekas makan dan Bibi juga. Maaf, saya lupa jika hari ini kita kedatangan tamu Bi. Silahkan!" seru Soya sembari menyuap nasi.


Namun, belum juga makan malam berakhir ada yang aneh dengan sikap sang suami, Danendra terus tersenyum sembari menatap Soya lekat seakan menikmati sesuatu yang bukan berasal dari makanan yang dikecapnya. "Mas, habiskan dulu makanya nanti tersedak," sindir Soya seakan membuat Danendra sadar.


Danendra yang merasa malu dengan sikapnya langsung menghentikan makanya dan berdiri, menatap Soya penuh tanya tetapi semua tatapan Danendra terputus saat Cintya sudah menarik tangan Danendra. "Temani saya jalan-jalan Danend sayang," ajak Cintya dan langsung menarik tangan Danendra.


"Bi. Coba lihat, betapa tidak tegasnya suami Soya dan saat ini saya benar-benar tak berarti di mata Mas Andra dan Mas Andra tak bisa menolak keinginan Cintya," guman Soya tercekat saat menyaksikan sang suami pergi begitu saja tanpa berani menolak.

__ADS_1


__ADS_2