
Sang bibi semakin geram saat mengetauhi bahwa laki-laki ini masih mengekor langkahnya. Tatapan marah dan tak suka kembali sang bibi berikan sebagai tanda bahwa bibi begitu keberatan dengan ulahnya.
"Tuan muda. Tolong ... berhenti, jangan mengikuti saya! Tuan sudah membuat hati saya kecewa," tegas sang bibi.
Danendra hanya bisa menatap dengan kecewa, bibirnya semakin merapat dirinya tak menyangka jika sang bibi berani memarahinya. "Bi ... dengarkan saya dulu," ucap Danendra akhirnya.
"Tuan, apa yang harus saya dengarkan, satu hal yang perlu Tuan tahu, Non Soya juga sudah menikah. Tolong jangan ganggu kehidupan Non Soya," ujar sang bibi bohong.
Percakapan mereka terhenti saat melihat kedatangan Cintya dari jarak yang cukup dekat. Sang bibi seketika menatap tak suka tetapi belum juga sang bibi menjauh.
"Hai, wanita tua. Apa yang kamu bicarakan?" tanya Cintya tak sopan.
Sang bibi seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Cintya dan Danendra.
"Pelakor yang tidak tahu malu, hem ... jadi ini yang Tuan inginkan menikah dengan wanita culas dan gila," cemooh sang bibi.
"Selamat Tuan dan Anda berhasil. Beruntung Non Soya di pertemukan dengan laki-laki yang lebih baik dan pengertian, lagipula untuk apa mempertahankan Tuan yang tak tegas dan bibi harap Tuan akan menyadari semuanya," tegas sang bibi puas.
Danendra seketika menatap sang bibi tak suka terlihat dari sorot matanya yang tajam.
Melihat sikap tuan muda sang bibi seketika tersenyum puas merasa apa yang dipendamnya terlampiaskan. "Tuan muda tak terima dengan ucapan saya, saya berkata begini karena saya tahu siapa Non Soya dan Anda lebih mementingkan Cintya dengan pesona cantiknya tetapi berhati culas. Oh.Ya, terima kasih surat putusan cerai Anda sudah sampai pada Soya. Cintya terima kasih, akhirnya kamu menerima bekas Soya, Tuan ternyata Anda dan Cintya adalah satu paket," sindir sang bibi.
"Ash ... kenapa saya meladeni Anda, selamat Tuan untuk pernikahan Anda!" seru sang bibi.
Melangkah dengan tergesa ada perasaan lega di hati sang bibi saat bisa membela Soya. Namun, sang bibi terkejut untuk kedua kalinya saat tangannya di tarik dengan kasar, seketika bibi menoleh dan menatap tajam pada Danendra. "Tuan. Lepaskan! Saya bukan asisten di rumah Anda dan apa hak Anda mencegah saya!" pekik sang bibi kesal.
"Bi, maafkan saya, sa-saya ...." Danendra menghentikan ucapannya saat sang bibi menepis tangannya dengan kasar.
"Ada, apa Bi?" tanya Hazal tiba-tiba, "Soya mencari Bibi," kata Hazal pelan tetapi netranya menatap ke arah Danendra.
__ADS_1
"Ayo, Nak Hazal. Kasihan istri Nak Hazal jika terlalu lama menunggu," ucap sang bibi sembari menarik tangan Hazal tetapi netranya melirik ke arah Danendra.
Sang bibi sekali lagi merasa puas dengan semua ucapannya, ada hal yang membuat sang bibi berani mengatakan semuanya. Hingga langkah sang bibi dan Hazal melewati koridor rumah sakit, sang bibi menghentikan langkahnya dan menarik lengan Hazal. "Terima kasih Nak, sudah menolong untuk kesekian kalinya. Entah bagaimana tadi jika tidak ada Nak Hazal," keluh sang bibi.
"Tenang Bi, saya senang membantu Bibi. Soya mencari Bibi, mari!" ajak Hazal.
Melangkah beriringan dengan tenang sampai di ruangan Soya. Langkah sang bibi terhenti dan menatap Soya lekat, ada kelegaan tersendiri di hati sang bibi saat melihat Nonanya berbaring di bed.
"Non, apa semuanya baik-baik saja?" tanya bibi sembari mendekat.
"Baik, Bi. Soya hanya perlu istirahat dan ...." Soya menghentikan ucapannya dan menatap ke arah Hazal.
"Kak Hazal, kenapa mesti di bawa ke rumah sakit besar? Sebaiknya kita lekas pulang!" ajak Soya khawatir.
"Soya, apa yang kamu khawatirkan, sengaja saya bawa kemari karena saya juga ingin tahu bagaimana kondisi kesehatan kamu dan anak kita," tutur Hazal tiba-tiba merubah cara bicaranya.
Hazal berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Soya. Netra Soya seketika melirik ke arah pintu tatapan Soya seketika meredup dan kini berubah menatap ke arah Hazal seakan mencari pertolongan. Menyadari sikap Soya, Hazal dan bibi langsung memasang badan dan berusaha mencegah Danendra masuk.
Namun, Danendra seakan tak bergeming langkahnya semakin mendekat hingga Hazal berdiri di depan tubuh Soya.
"Maaf, apa yang Anda inginkan dari istri saya?" tanya Hazal berpura-pura.
"Istri kamu? Soya, Bibi!" teriak Danendra tak suka seakan mencari jawab.
Hazal masih berdiri di depan tubuh Soya meskipun Hazal tahu bahwa laki-laki yang berdiri didepanya tengah meradang dengan emosinya. Hazal hanya tersenyum dan berusaha untuk melindungi Soya semampunya.
"Maaf, sebaiknya Anda jangan berteriak, benar ini istri saya dan saat ini istri saya juga sedang hamil, tolong Anda keluar dan Anda tahu di mana pintu ke luar sebelum saya mengusir Anda!" tegas Hazal.
"Soya! Apa ini benar dan ...."Danendra tak melanjutkan ucapannya hanya menatap Soya tak percaya.
__ADS_1
"Katakan Soya!"
"Mas Ardan, saya sudah menikah dan saya juga sedang mengandung tetapi apa hak Mas Ardan. Mas juga sudah menceraikan saya!" bentak Soya marah.
"Ka-kamu ...."Danendra kini hanya bisa diam menatap istri yang lama menghilang dan menghukum dirinya saat tak bisa bertindak tegas.
"Soya, maafkan saya." Akhirnya ini yang keluar dari bibir Danendra.
Namun, suasana menjadi semakin memanas saat Cintya datang dan berteriak tak suka saat mendapati Danendra berada di ruangan Soya. "Danendra, jadi kamu masih mencari istri kamu, istri yang selingkuh dan mencurangi kamu!" teriak Cintya tanpa bukti.
Mendengar ucapan Cintya, Danendra langsung menatap tajam dan menghampiri Cintya. "Kamu! Jadi ini tujuan kamu mengajak saya untuk datang ke kota ini. Jadi kamu tahu sejak dulu di mana istri saya tinggal. Cintya ...."Danendra tak melanjutkan ucapannya dan memilih menarik tangan Cintya keras.
Sepanjang jalan koridor rumah sakit Danendra terus menyeret Cintya hingga tiba di area parkir Danendra baru melepas tangan Cintya dan menghempasnya dengan kasar.
"Argh ... kenapa saya tak tegas pada kamu sejak dulu!" teriak Danendra kesal.
Cintya dan Danendra akhirnya terdiam untuk sesaat di dalam mobil hingga tak berapa lama Danendra melajukan mobil dengan kencang. Amarah yang terus terbakar saat melihat Cintya yang duduk di sampingnya dan penyesalannya yang melepas Soya begitu saja. Hingga tanpa Danendra sadari Cintya dengan culas merebut kemudi mobil hingga mobil Danendra nenabrak pohon di pinggir jalan dan tak lama berguling jatuh di jurang.
Sementara itu di rumah sakit Soya hanya bisa menangis sembari memeluk sang bibi. Soya tak bisa menerima apa yang terjadi saat ini. Bagaimanapun juga Danendra adalah Ayah biologis anaknya, masih dengan tangisnya Soya menatap sang bibi lekat.
"Bi, bawa saya pergi jauh dari kota ini. Saya tak ingin Mas Andra menemukan anak saya dan saya. Saya ingin hidup tenang dan membesarkan anak saya, Bi," pinta Soya di tengah isaknya dengan suara parau.
Hazal yang mendengar permintaan Soya langsung mendekat dan menepuk lembut tangan Soya. "Hentikan tangis Anda dan kita bersiap untuk pergi," ucap Hazal pelan.
Soya, akhirnya menuruti saja ucapan Hazal, laki-laki yang mau menolongnya dan mau di jadikan kambing hitam untuknya. Soya langsung beringsut turun dari bed dan menatap sesaat ke arah Hazal. "Terima kasih untuk semua pertolongan Kakak, tetapi saya harus mengambil sesuatu di rumah," ujar Soya pelan.
Hazal hanya mengangguk setuju dan berjalan lebih dulu. "Tunggu di area parkir Bi, ada sesuatu yang harus selesaikan dulu," titah Hazal sembari tersenyum.
Bibi dan Soya menunggu untuk beberapa saat di area parkir saat dua mobil ambulans masuk ke area UGD. Soya, hanya bisa mengelus dadanya saat tiba-tiba hatinya berdesir dan gelisah, sesaat dirinya kembali meringis menahan sakit, saat perutnya kembali merasa sakit dan pergerakan sang bayi yang aktif dan terus bergerak tak nyaman. Namun, Soya hanya diam dan mengusap perutnya untuk menenangkan pergerakan sang bayi.
__ADS_1
"Ayo, kita pulang!" ajak Hazal sembari membuka pintu mobil.