RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 51. Semua tak baik-baik saja


__ADS_3

Soya tak menghiraukan teriakan Danendra, tangisnya luruh begitu saja, begitu banyak penyesalan di hati Soya. Soya sangat tak menyangka jika Danendra membuat Nella begitu tersakiti, sementara dirinya kini berperan sebagai orang ketiga dalam hubungan Danendra dan Nella.


Berkali-kali Soya mengusap pipinya yang panas, Soya masih meratapi saja nasibnya yang buruk hingga tanpa terasa Soya terlelap dalam tangisnya.


Sementara itu, Danendra yang merasa bersalah pada Soya akhirnya hanya busa dudyk di ruang makan sembari menatap dya buku nikah yang di pegangnya, tak urung bibirnya terus tersenyum tanpa sadar.


"Maaf, Soya tetapi ini yang terbaik untuk kamu dan saya sudah menetapi janji yang pernah saya buat dengan Bapak kamu dan maaf jika terlalu banyak trik untuk menjebak kamu untuk menjadi istri saya Soya," guman Danendra lirih sembari mengusap foto Soya di dalam buku nikah.


Danendra berjalan menuju tempat menyimpan kunci cadangan. "Maaf, jika ini yang harus saya lakukan Soya," guman Danendra sembari membuka pintu kamar Soya dengan kunci cadangan.


Danendra hanya bisa tersenyum kecut saat melihat Soya tidur meringkuk di ranjang kecilnya. Danendra masuk dan menilik sesaar pipi Soya yang memerah meskipun kulit wajah Soya tak seputih kapas tetapi jelas terlihat lima gurat jari-jari tangan Nella yang membekas. "Selamat malam dan bermimpilah yang indah," guman Danendra sembari tersenyum dan tak lama melangkah keluar dari kamar Soya dan menutupnya kembali.


Danendra hanya bisa menggeleng saat menemukan satu foto yang tersisa. "Hem, ternyata saya salah dalam mencintai seseorang dan beruntung semuanya cepat terbongkar," ujar Danendra lega.


Danendra memilih menuju balkon lantai atas, Danendra kini hanya bisa duduk sembari menatap langit malam sembari menghisap rokoknya. Danendra seakan tercubit hatinya saat menyadari bahwa keputusan singkat dan sepihak yang di ambilnya akan menimbulkan reaksi tak suka dari Soya.


"Maaf, Soya jika harus membawa nama kamu dalam masalah ini," ujar Danendra lirih sembari mengembuskan asap rokoknya.


"Semoga esok pagi Soya mau memaafkan kejadian ini," guman Danendra sembari menguap berulangkali.


Namun, Danendra masih belum ingin menyudahi lamunannya, sesaat senyum Danendra tersungging saat angannya tertuju pada kejadian satu tahun silam.


Danendra flashback on


Danendra hanya bisa berguman kesal saat sang Ayah memberi tugas untuk mengurusi nasabah yang selalu mangkir hingga tanpa Danendra sadari jika pak Kadir adalah nasabah yang juga meminjam uang pada Danendra. Selalu mangkir dan tak membayar hutang membuat Danendra terus geram dan mengancam pak Kadir. Hingga akhirnya Danendra memberi pinalti pada pak Kadir dan mengambil barang sitaan yang di janjikan.


Barang berharga yang di janjikan pak Kadir di simpan oleh sang anak gadisnya.


Danendra hanya bisa menggeleng saat menyadari bahwa anak pak Kadir masih memakai seragam abu-abu. Entah mengapa Danendra selalu menyempatkan diri untuk membuntuti Soya dan Danendra selalu merasa lega saat bisa melihat Soya dari jauh.


Perasaan berbeda yang tak pernah Danendra rasakan pada Nella.


Hingga akhirnya Danendra secara terang-terangan untuk mendatangi Soya dan tak segan-segan untuk mengancam Soya.


Ada ketertarikan sendiri pada diri Soya hingga Danendra tak ingin memperlakukan Soya seperti nasabah atau pada orang yang dengan sengaja berlaku curang pada Danendra, hingga akhirnya kesepakatan terjadi dua bulan sebelum pak Kadir meninggal. Pak Kadir hanya berharap bahwa Danendra tak melempar Soya ke para lelaki hidung belang. Pak Kadir yang menuliskan beberapa syarat yang dengan mudahnya Danendra setujui dan salah satunya keinginan pak Kadir agar Danendra mau menikahi Soya meskipun hanya sebagai istri yang ke berapa.


Gila ini yang Danendra rasakan, orang tua yang begitu tega pada anaknya sendiri.


Danendra flashback off


Danendra kembali menguap dan masuk dalam kamarnya.


Pagi hari, suasana rumah masih seperti biasa tetapi tak ada teriakan dan caci maki. Soya yang sudah terbangun memilih melakukan tugasnya dengan cepat dan Soya sedikit terkejut saat melihat Danendra sudah berdiri di dekatnya.

__ADS_1


"Pagi Soya, tolong siapkan sarapan pagi dan buatkan saya kopi," pinta Danendra pelan.


Soya tak menjawab hanya mengerjakan tugas yang di berikan oleh Danendra. Danendra yang merasa bersalah kini hanya menatap Soya teduh. "Soya duduklah saya bisa menjelaskan semuanya, semua bukan salah kamu," ujar Danendra pelan.


Danendra hanya bisa mengembuskan napasnya dan menatap Soya. "Maaf, jika pernikahan yang terjadi tak melibatkan kamu, tetapi jujur pernikahan ini resmi dan sah," ujar Danendra menjelaskan.


Soya yang sedari tadi diam mendengarkan kini menatap Danendra penuh amarah.


"Tuan, kenapa Tuan melibatkan saya dalam masalah ini. Tuan membuat hati saya sakit dan Tuan tahu saat ini saya begitu marah dengan Tuan!" ujar Soya kesal dengan mata berkaca-kaca.


"Soya, dengarkan dulu semua ini sudah sesuai dengan keinginan Bapak kamu dan saya hanya menjalankan pesan Pak Kadir," ujar Danendra pelan dan menatap wajah Soya.


"Soya, itu ...."Ucapan Danendra terhenti saat melihat Soya melotot marah.


"Cukup Tuan, saya tak ingin mendengar ucapan Tuan, saya kecewa Tuan dan satu hal lagi saya sangat tidak menyukai Tuan," ujar Soya ketus.


Danendra hanya bisa diam mengalah, toh perbedaan umur yang begitu jauh membuat Danendra harus ekstra sabar. "Semua pasti akan berubah dengan berjalannya waktu," guman Danendra pasrah.


Danendra hanya bisa tersenyum saat istrinya sudah membentang bendera perang dan setiap saat siapa saja bisa tersulut oleh keadaan ini.


Danendra hanya tersenyum dan masih mencoba untuk tenang. "Soya, duduklah dengan tenang!" pinta Danendra pelan.


Mendengar ucapan Danendra hanya melirik sekilas dan tak menghiraukan perintah Danendra yang berusaha untuk menahan emosi. "Soya!" panggil Danendra ulang.


Soya masih berlaku pada sikap kerasnya.


Danendra yang melihat Soya masih berkutat di dapur dan tak menghiraukan panggilannya sama sekali. Danendra kini dengan tersenyum mulai beraksi tanpa bicara Danendra mendekat ke arah Soya menarik dan mengungkungnya merapat di tembok.


"Tu-Tuan, apa yang Tuan lakukan!" pekik Soya marah.


Danendra semakin merapatkan kungkungannya menatap lekat gadis yang tiba-tiba di nikahinya. "Mulai sekarang saya suami kamu, suka tidak suka kamu adalah istri saya," ucap Danendra sembari mengusap pipi Soya yang merah.


"Tuan, saya tidak suka dan pergi ...!" pekik Soya berusaha untuk berontak.


Danendra kini makin kesal. "Soya ...!" teriak Danendra keras dan itu mampu membuat Soya terdiam.


"Saya, melakukan ini bukan semata-mata kamu sebagai pelunas hutang, tetapi saya juga memiliki rasa pada kamu Soya," ujar Danendra pelan, menatap netra yang kini sedang menangis.


Soya makin tergugu dalam takutnya. "Jangan menangis, lihat mata saya Soya, saya berkata jujur," ujar Danendra menatap wajah Soya lekat.


Soya semakin tak percaya dengan apa yang di dengarnya, perangai yang cepat berubah dan kemarin sikap Danendra yang kasar serta memperlakukan Nella dengan tega.


"Tu-Tuan, jangan seperti ini, sa-saya merasa takut Tuan, lepaskan saya," ujar Soya berusaha tenang.

__ADS_1


Danendra yang merasa Soya ketakutan kini merenggangkan kungkungannya. "Gadis pintar, kamu hanya perlu mengakui bahwa saya suami kamu dan ingat jangan coba-coba untuk lari," ujar Danendra lirih sembari berusaha mengatur napasnya.


"Maaf, Soya tetapi bagaimanapun juga saya adalah suami kamu," ujar Danendra pelan tetapi penuh penekanan.


Soya hanya diam menatap Danendra lekat rasa takut dan benci yang tiba-tiba muncul membuat Soya enggan untuk menerima kenyataan bahwa saat ini dirinya sudah berstatus sebagai istri Danendra.


Melihat Danendra yang sudah duduk dengan tenang sembari menyesap kopinya.


"Tuan, sebaiknya Tuan ceraikan saya saja!" pinta Soya lirih dan langsung mendapat tatapan amarah dari Danendra serta merta menggebrak meja makan dengan sekeras kerasnya.


Bruuuaaaakkk


Soya terjingkit sesaat dan kembali terdiam, kini Soya sadar jika laki-laki dewasa di depannya betul-betul menginginkannya.


"Apa? Sampai mati saya tak akan menceraikan kamu," ujar Danendra marah.


Danendra kembali berdiri dan mendekat ke arah Soya. "Jika kamu tak menurut dan menerima apa yang saya lakukan, jangan salahkan saya jika saya memaksa kamu untuk melakukan tugas kamu sebagai istri, ingat pernikahan ini sah dan resmi," ujar Danendra dengan mata merahnya.


Soya kini hanya bisa menatap Danendra dengan rasa tak percaya. "Tuan sa-saya benci Tuan," ujar Soya marah.


"Ingat itu Soya dan mulai sekarang kamu adalah istri saya, menurut dan patuh," ujar Danendra sembari menyentil dahi Soya.


"Tuan, Tuan selalu begitu!" ujar Soya protes.


"Jangan banyak protes akan ada banyak hukuman untuk kamu jika kamu terus membangkang dan protes, itu hukuman agar kamu sadar dengan ke ****han kamu," ujar Danendra sembari berlalu pergi melupakan sarapan pagi yang berlalu.


Danendra seakan sadar jika gadis yang di depannya adalah gadis polos dan selalu memberontak. "Soya kita ke rumah Ayah dan bersiaplah, sepuluh menit dari sekarang," ujar Danendra sembari tersenyum.


"Ess, dasar kutu kupret semaunya saja," guman Soya kesal.


Danendra yang mendengar umpatan untuk dirinya sesaat tersenyum, hal ini yang membuat Danendra senang. "Koya! Saya mendengar itu dan hukumannya bisa lebih dari menjentik dahi kamu," ujar Danendra keras.


Soya yang sadar akan ucapannya lebih memilih masuk dalam kamar. "Hash! Dasar bibir ini," ujar Soya takut dan tak segera bersiap.


Di dalam kamar Soya masih takut dan bingung akan hukuman aoa yang akan Danendra berikan. Haduh ..., bagaimana ini," ujar Soya takut dan tak segera bersiap.


Teriakan keras Danendra semakin menciutkan nyali Soya dan memilih ke luar dari kamar.


"Kamu!" pekik Danendra tertahan.


"Oke, karena kamu tak mematuhi apa yang saya perintahkan ada hukuman yang harus kamu terima dan kamu tak boleh menolaknya.


"Ta-tapi Tuan, saya salah apa?" tanya Soya gugup.

__ADS_1


Danendra tak menjawab saat ini yang ada dalam pikiran Danendra hanya ingin mengerjai istrinya yang terlihat ketakutan.


"Kita berangkat dan hukuman akan di lakukan di dalam mobil," ujar Danendra tanpa menoleh ke arah Soya tetapi bibir Danendra terus tersenyum senang.


__ADS_2