RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 68. Tangis Soya


__ADS_3

"Tuan, apa saya tak salah mendengar?" tanya Soya akhirnya.


"Benar, Soya. Saya tak ingin menunda lagi," ujar Danendra sembari tersenyum.


"Ta-tapi, Tuan masih sakit?" tanya Soya bingung.


Danendra tak menjawab pertanyaan Soya, memilih kembali masuk dalam kamar. Sementara itu, Soya masih duduk dengan semua perasaannya. "Bapak, Ibu. Apa ini nyata? Tuan muda, benar-benar menyukai Soya? Apa benar ini tujuan Bapak?" tanya Soya bertubi-tubi.


Mengambil napas besar dan membuangnya dengan berat Soya hanya menghabiskan siang ini hanya duduk sembari menatap ke arah toko. Senyum Soya tersimpul manis, ada sesuatu di ingatannya yang membuat Soya malu sembari memegang bibirnya berulangkali. Angan Soya seakan lari mundur ke beberapa tahun belakang sesekali Soya menggeleng tak percaya dan tersenyum.


Akhirnya, semua keinginan Bapak terwujud. Bapak sukses menjual Soya pada Danendra, laki-laki dewasa yang terpaut usia yang cukup jauh. Laki-laki tampan yang selalu membuatnya marah dan melewati banyak tekanan dan umpatan yang di tujukan padanya. Lelaki dewasa yang lambat laun Soya suka, wajah tampan, tinggi dan semua terlihat sempurna. "Apa semua ini nyata? Mimpikah atau ada permainan lain yang sedang Tuan muda rencanakan," guman Soya sendiri.


"Sudah melamunya?" tanya Zulhan tiba-tiba dan itu membuat Soya terkejut.


"Oh. Kak Zulhan, Tuan Guntur," ujar Soya malu.


"Em .... silahkan Tuan Guntur, Tuan muda ada di kamar," tutur Soya pelan.


Tuan Guntur hanya tertawa saat melihat Soya kikuk saat menjawab. "Zulhan, ajak masuk tamunya," ujar Tuan Guntur.


Soya seakan tak percaya, Tuan Guntur dan Zulhan datang dengan membawa beberapa orang yang tak di kenalnya, hingga tepukan lembut yang membuat Soya kembali terkejut.


"Bibi, Pak Muin," ucap Soya dan langsung memeluk bibi erat.


"Soya, kangen Bi!" ujar Soya sembari menangis.


"Eh .... kok, menangis. Ah, besok mau jadi temanten," seru bibi sembari mengusap air mata Soya.


"Bibi, senang. Akhirnya Tuan muda bisa menemukan Non Soya," ucap bibi lagi.


Sang bibi yang sedari tadi nampak bingung dengan suasana toko akhirnya bertanya juga.


"Non, memang ada apa? Kenapa toko berantakan?" tanya bibi bingung.

__ADS_1


"Oh, itu. Semua ini ulah Nella Bi."


Suasana siang menjelang sore, semakin ramai. Tuan Guntur, seakan sudah mempersiapkan semuanya, acara sederhana yang mungkin akan Soya ingat seumur hidup Soya dan untuk yang pertama kali untuk Soya. Melihat kesibukan sore ini tak terasa air mata Soya kembali menitik ada perasaan sedih yang tiba-tba menyulut hatinya.


"Kenapa menangis?" tanya Tuan Guntur yang sudah duduk di dekat Soya.


Mendapat teguran dari Tuan Guntur air mata Soya makin deras, tangisnya makin menjadi.


"Ayah .... terima kasih, Soya-Soya ...., hanya tangisan Soya yang terdengar sembari memeluk Tuan Guntur.


Tuan Guntur seketika menyadari situasi Soya saat ini. "Soya. Sudah jangan menangis, besok hari bahagia Soya jangan sampai mata kamu sembab," ujar Tuan Guntur pelan sembari mengusap kepala Soya.


Soya yang mendengar ucapan Tuan Guntur bukannya berhenti menangis tetapi tangisnya makin menjadi hingga Danendra keluar dari kamar, memandang lekat ke arah Soya dan bergantian kearah sang ayah. "Eh. Kok makin keras?" tanya Tuan Guntur bingung.


Soya masih saja terus menangis untuk beberapa saat, hingga tangis Soya sedikit mereda. "So-Soya rindu Ibu, Ayah!" jawab Soya tiba-tiba sembari memeluk Tuan Guntur.


"Em .... besok setelah acara kamu dan Danendra selesai, kita pulang dan ziarah ke makam orang tua Soya dan sekarang Soya berhenti menangis," ujar Tuan Guntur menenangkan.


Layaknya anak kecil Soya langsung menghentikan tangisnya, tetapi masih memeluk Tuan Guntur erat. "Ayah, terima kasih," ujar Soya lirih.


"Soya, ada yang lebih berhak untuk memeluk dan membari ketenangan untuk Soya, suami Soya," ujar Tuan Guntur karena saat ini Danendra menatap sang ayah dengan tatapan yang tak suka.


Mendengar ucapan sang ayah Soya langsung mendongak, menatap Tuan Guntur. "Hem .... Danendra adalah tempat yang tepat untuk menjadi sandaran, pinjam bahu Danendra untuk berkeluh kesah dari semua kekesalan Soya dan jadikan cinta Danendra untuk menguatkan hati Soya. Harapan Ayah yang terbaik untuk Soya," ujar Tuan Guntur sembari berdiri.


"Danendra, bawa istri kamu ke kamar, jaga Soya," ujar Tuan Guntur sembari berlalu.


Soya yang mendengar ucapan sang ayah langsung menoleh ke arah Danendra dengan malu Soya mengikis kembali air matanya.


"Maaf, Tuan," tutur Soya lirih.


Danendra, tanpa banyak bicara langsung meraih tangan Soya dan membimbingnya masuk kamar. "Maaf, Tuan jika dalam keadaan sakit seperti ini saya harus mereporkan Tuan," ujar Soya lirih sembari melirik ke arah Danendra.


"Kemarilah Soya!" panggil Danendra lirih sembari berbaring di ranjang.

__ADS_1


"Enggak Tuan, Tuan istirahat saja dan saya duduk di sini," jawab Soya.


Danendra tak ingin memaksa, membiarkan Soya dengan keinginannya. "Soya. Dengarkan saya, mulai sekarang ubah panggilan kamu pada saya," ujar Danendra lirih sembari menahan sakit di perutnya.


"Tuan .... Tuan, baik-baik saja?" tanya Soya sembari mendekat.


Soya tanpa di suruh langsung membuka baju Danendra dan memeriksa lukanya. "Agh, Tuan. Tuan membuat saya terkejut," ujar Soya lega saat melihat luka Danendra aman.


"Soya, duduk saja di dekat saya, temani saya," ucap Danendra pelan.


"Ta-tapi .... saya gemetar Tuan, jika duduk dekat dengan Tuan," ujar Soya polos.


Mendengar ucapan Soya seketika Danendra tersenyum. "Kemarilah, sekarang Soya belajar agar tidak gemetar, duduk dan pegang tangan saya dan saya janji tidak akan melakukan apa-apa."


Soya sesaat menatap ragu ke arah Danendra,


tetapi keraguan Soya seakan terkikis oleh tatapan Danendra yang bersungguh-sungguh.


"Hem .... jangan terlalu dekat ya, Tuan," cicit Soya.


"Boleh!"


Perlahan Soya beringsut dan menurut, Soya merebahkan tubuhnya di sisi Danendra meskipun dengan jarak yang cukup jauh.


"Soya, boleh saya memegang tangan kamu?" tanya Danendra pelan.


Soya hanya mengangguk tanda setuju. Danendra dapat merasakan reaksi dari tubuh Soya, benar tubuhnya saat ini gemetar dan dingin. "Tidur saja Soya, lihat mata kamu jadi sembab. Lusa kita pulang dan mengunjungi makam orang tua kamu," ujar Danendra tiba-tiba dan itu membuat Soya mengubah posisi tubuhnya jadi menghadap Danendra.


"Terima kasih Tuan," ujar Soya pelan.


"Soya, maaf. Jika selama ini saya terlalu kasar dan mulai dari sekarang jangan panggil saya Tuan, paham!"


Soya hanya mengangguk dan sesekali menguap. Danendra sesaat tersenyum saat melihat Soya sudah terlelap, berdekatan dengan soya seperti ini Danendra juga merasakan hal yang sama, jiwa laki-lakinya juga membuncah dan Danendra sadar meskipun berstatus suami dan istri baru kali ini mereka tidur seranjang dan saling berpegangan tangan. Suasana yang hampir tak pernah Danendra lakukan. "Maaf, Soya jika saya selalu mengabaikan diri kamu.

__ADS_1


Maaf, ternyata kamu gadis yang hebat bisa bertahan begitu lama meskipun dengan status yang tergantung," ujar Danendra sembari beringsut mendekat, melupakan luka yang baru sehari selesai di jahit mencium kening Soya sesaat dan Danendra memilih untuk kembali berbaring.


__ADS_2