RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
107. Akhirnya Kembali untuk bersama


__ADS_3

Danendra sesaat tersenyum, saat ini dirinya sudah mengetauhi siapa Diandra sebenarnya. Danendra semakin menyanyangi Diandra berusaha mencuri hatinya dan memenangkan hati anaknya, tetapi bibir Danendra masih bungkam akan kejujuran siapa dirinya sebenarnya. Waktu terus berjalan Soya masih kekeh dengan pendiriannya meskipun dirinya tak melarang Danendra untuk dekat dengan anaknya.


Kedekatan sang ayah dan sang anak akhirnya membawa dilema sendiri untuk Danendra, bagaimanapun juga Diandra harus mengakuinya sebagai ayah dan memanggilnya ayah. Keegoisannya sebagai laki-laki kini lebih dominan pengakuan akan statusnya sebagai ayah membuat dirinya kembali berusaha untuk mendekati Soya dan ini cara satu-satunya agar Diandra memanggilnya ayah tanpa paksaan.


"Soya," panggil Danendra suatu sore saat dirinya mengunjungi anaknya.


"Ya!"


Danendra diam sejenak tak melanjutkan ucapannya, menatap manik mata yang menatapnya lekat. Soya sesaat menghindari tatapan mata Danendra dan memilih melihat anaknya yang sedang menonton televisi.


"Apa kamu tak kasihan dengan anak kita. Lihat dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi jangan menghukum anak kita dengan menyembunyikan aku dari dirinya," ujar Danendra akhirnya.


Mendengar ucapan Danendra, Soya menoleh dengan membuang napas. "Lalu apa yang Mas mau, Mas Andra juga sudah tahu jawaban aku. Tolong Mas hargai keputusan aku," jawab Soya pelan karena dirinya tak ingin anaknya mendengar perkataan mereka.


"Kamu, jahat Soya. Kamu tega membuat anak kita terluka karena ketidaktahuannya akan diriku," ujar Danendra lagi.


Soya tak menjawab bibirnya semakin terkatup rapat dan netranya menatap nanar tetapi terlihat jelas jika saat ini hatinya begitu rapuh.


Cukup lama Soya terdiam melihat ke arah Diandra hingga beberapa kali dan yang terdengar hanya suara napasnya yang berat.


Danendra yang melihat semua sikap Soya seakan menemukan jalan untuk mendekati Soya. "Maafkan diriku Soya, aku berjanji demi Diandra aku tak akan membuat kamu terluka dan tersakiti untuk sekian kalinya. Aku mohon kembalilah padaku Soya," ujar Danendra pelan dan kini sudah duduk di dekat Soya.

__ADS_1


"Mas, kenapa Mas memaksa," jawab Soya tak suka.


Danendra seketika mengubah posisi tubuhnya, dirinya saat ini rela duduk jongkok di depan Soya. "Soya, maukah kamu menikah dengan aku, mantan suami kamu," pinta Danendra sembari mengulurkan cincin untuk Soya.


"Mas! Apa yang Mas lakukan, berdiri Mas," ujar Soya tak suka.


"Soya, terima lamaran aku dan aku tak akan mengubah posisi dudukku hingga kamu menerima lamaranku, tolong ini demi anak kita," tekad Danendra dan demi tujuannya tercapai.


Soya masih tak percaya dengan apa yang didengarnya dia tak menyangka jika Danendra akan bersikap senekat itu. "Mas, bangunlah saya tak bisa menerima lamaran Mas," jawab Soya.


Namun, mereka tak menyadari jika Diandra sedari tadi memperhatikan mereka sejak tadi.


"Ibu, Om. Ada apa?" tanya Diandra heran.


Danendra yang mendengar jawaban Danendra seketika tersenyum penuh kemenangan. "Diandra jika Om, menikah dan hidup bersama dengan Ibu, Om dan Diandra apa Diandra suka dan mengizinkan?" tanya Danendra sembari tersenyum.


Diandra sejenak terdiam menatap sang ibu dengan wajah tegangnya dan Danendra duduk dengan mengulurkan tangannya. "Boleh, Diandra suka dan itu artinya Diandra akan memanggil Om, Ayah. Ibu, akhirnya Diandra bisa memamerkan Ayah pada teman-teman Diandra," jawab Diandra yang membuat Danendra dan Soya menatap dengan terkejut.


Namun, belum juga hilang rasa terkejut mereka Diandra kini menarik tangan sang ibu. "Ibu. Terima saja, kasihan Om, lihat Om sampai menangis," ucap Diandra pelan.


"Bu ... apa Ibu tidak kasihan dengan Om," cicit Diandra.

__ADS_1


Soya masih terdiam ada sesal dalam hatinya saat mendengar penuturan Diandra. Soya seketika mengikis air matanya, meskipun dirinya tak pernah bisa menerima jika anaknya mengalami hal yang tak menyenangkan dari lingkungan sekitarnya, Diandra tak pernah bercerita. "Huufff .... "Soya berusaha untuk meredakan hatinya yang tengah membara.


"Apa, jaminan untukku jika aku menerima dan aku sadar jika anak kita butuh keluarga yang utuh dan lengkap," jawab Soya akhirnya.


"Aku berjanji demi anak kita Soya," jawab Danendra akhirnya.


"Berdirilah Mas, aku menerima Mas juga demi Diandra dan demi anak kita dan hanya itu," jawab Soya sekali lagi.


Danendra saat ini benar-benar merasa lega, saat usahanya selama ini berhasil mendekati Soya dan meyakinkan hatinya. Danendra langsung memeluk Soya erat. "Terima kasih Soya, meskipun semua yang kita lakukan demi anak kita, tetapi belajarlah kembali untuk mencintaiku," bisik Danendra dan tak lama melepas pelukannya.


Danendra langsung memeluk tubuh Diandra rasa senang langsung terlihat di wajah yang tampak semakin dewasa. "Diandra mulai sekarang panggil Om, Ayah," tutur Danendra bahagia.


"Sungguh, Om tidak berbohong, 'kan?"


"Tidak Diandra, tidak. Ayo, panggil Ayah sekarang," pinta Danendra lagi.


"A-Ayah," panggil Diandra pelan.


"Bagus. Ayo, ulangi sekali lagi."


"Ayah!"

__ADS_1


Danendra kembali memeluk Diandra. "Benar begitu, terima kasih anakku, aku Ayah kamu Diandra, Ayah kamu," ucap Danendra sembari mengikis air mata bahagianya.


__ADS_2