RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 72. Ini hadiah pernikahan untuk kamu Soya


__ADS_3

Soya yang merasa kecolongan dengan ciuman Danendra hanya bisa menatap marah. "Malu, Mas. Jangan seperti itu, untung sopir ambulans tak melihat kita," bisik Soya pelan.


Danendra tak menjawab hanya pandangannya yang terus memindai wajah Soya. "Huufff ...."Hembus Danendra pelan dan berusaha mengatur hatinya yang benar-benar bergejolak.


"Mas, kenapa? Apa Mas merasa sakit?" tanya Soya sembari membuka baju Danendra dan melihat perut Danendra.


"Saya hanya segera ingin tiba di rumah Soya dan menghabiskan hari bersama kamu," bisik Danendra dengan suara serak.


Soya yang mendengar bisikan Danendra seketika menjadi gerah, berusaha untuk tetap terlihat tenang meskipun saat ini Soya tak paham dengan ucapan Danendra. 'Ingin menghabiskan hari bersama,' batin Soya.


"Mas ini, aneh-aneh saja. Lihat luka Mas Andra. Soya ingin Mas itu segera sembuh, begh! Kalau begini Soya jadi semakin merasa bersalah Mas," sesal Soya.


"Mm .... kalau begitu, pegang tangan saya hingga tiba di rumah," pinta Danendra manja.


Perjalanan yang menempuh waktu sedikit lebih cepat dua jam dari waktu normal, akhirnya mereka tiba juga di rumah yang hampir satu minggu Danendra tinggalkan. Setelah semuanya beres, Danendra kini lebih menurut dengan semua titah Soya tetapi ada hal yang membuat Soya terus menghela napas panjang saat Danendra terus mengekor langkahnya. "Hash! Mas duduk saja dan jangan terus berjalan, luka Mas itu ...."Ucapan Soya terhenti ketika Danendra menariknya masuk kamar. "Mas!" pekik Soya tak suka.


"Hem, jika kamu terus saja bergerak, bagaimana saya bisa menatap wajah kamu dan ini," ujar Danendra sembari menyentuh bibir Soya.


"Mas Andra yang baik hati, tunggu sampai Mas sembuh," tutur Soya lirih memberi pengharapan.


"Hash! Kamu yang sakit perut saya, tetapi bibir saya tidak Soya," timpal Danendra sembari mendekat.


"Agh, Mas Andra mesum. Sekarang Mas istirahat, biar luka Mas sembuh dulu," jawab Soya berusaha menolak ciuman Danendra.


"Hm .... tetapi dengan satu syarat kamu harus menemani," rengek Danendra layaknya anak kecil.


Soya, kini lebih memilih mengalah, toh bagaimana juga Danendra akan terus mengekor langkahnya. Berbaring berdua di ranjang membuat Danendra seketika tersenyum. "Soya mendekatlah!" pinta Danendra lirih.

__ADS_1


Soya segera beringsut mendekat, penolakan apapun yang Soya lakukan nanti pasti akan membuat Danendra semakin nekat. "Lega, jika sudah sah kembali seperti ini Soya, apapun nanti kita akan menjalani dengan tenang," guman Danendra sembari mengusap kepala Soya.


Danendra sesaat terdiam, menatap langit-langit kamar dengan nanar, ada perasaan yang tak bisa Danendra ungkap saat ini. Merasakan tubuh Soya yang gemetar dalam diamnya Danendra sekilas menatap Soya. "Temani saya Soya, saya tak akan melakukan apa-apa hingga luka saya sembuh. Berbaring seranjang berdua begini sudah membuat saya tenang," tutur Danendra lirih.


"Hem, saya tak menyangka akhirnya pelabuhan hati saya ada pada kamu Soya, gadis kecil yang berbeda usia cukup jauh dan kamu bisa membuat hati saya tenang, maaf! Jika dulu saya pernah menekan kamu," ujar Danendra lembut.


"Soya!" panggil Danendra saat Soya tak merespon ucapannya.


"Kenapa kamu diam?" tanya Danendra.


Soya hanya menggeleng, tak menyangka jika laki-laki yang sangat menyebalkan dulu akan bersikap lembut dan penuh perhatian seperti saat ini. "Enggak, Mas. Soya sudah menerima semuanya dengan ikhlas, meskipun menjadi istri pelunas hutang tetapi sikap Bibi, Ayah, Pak Muin semuanya baik dan memperlakukan Soya seperti anak mereka sendiri," jawab Soya jujur tetapi membuat Danendra tak suka.


"Apa maksud kamu, apa saya tak baik?" tanya Danendra sedikit kesal.


Soya langsung tersenyum dan makin mendekat, "Mas Andra istimewa, meskipun awalnya Mas jutek, perhitungan dan selalu semaunya tetapi tidak untuk sekarang, Mas Andra baik dan satu hal Mas mencintai saya," tutur Soya pelan sembari beringsut semakin mendekat memeluk Danendra erat.


Namun, tidak untuk Danendra di atas kebahagiaan yang di rasakan ada sesuatu yang membuatnya kecewa, tetapi Danendra berusaha menutupi itu dari Soya.


"Soya, turun dan buka almari dan tolong kamu ambil tas yang ada di almari," titah Danendra.


"Mas!" panggil Soya bingung.


Danendra hanya tersenyum dan meyakinkan Soya akan ucapannya. "Ambil Soya," ujar Danendra untuk kedua kalinya.


Soya segera menuruti kemauan sang suami dan mengerjakan apa yang di perintahkan Danendra, sesaat netra Soya terkejut saat melihat tas yang di maksud oleh Danendra.


"Mas. I-ini, 'kan .... "Ucapan Soya terputus sembari tangannya menarik tas yang di maksud dan kembali menutup almari.

__ADS_1


Tatapan tak percaya Soya kini tak dapat di sembunyikan lagi.Memandang tas ransel kucel miliknya, tas favorit yang sering di bawanya kemanapun. "Bawa kemari Soya," pinta Danendra sembari tersenyum.


Soya yang masih bingung dengan maksud Danendra hanya menurut saja dan memberikan tas yang di bawanya. "Buka saja Soya, semua yang ada di dalam tas itu adalah milik kamu sekarang," ucap Danendra sembari tersenyum.


"Mas, apa maksud Mas?" tanya Soya tetapi tak ujung membuka tas yang di bawanya.


"Soya, buka saja dari pada kamu penasaran," seru Danendra meyakinkan.


Perlahan Soya membuka tas kucelnya, senyum Soya seketika terkembang saat melihat isinya, mengeluarkan satu persatu isi tasnya. menatap buku yang sudah menguning dan kemudian menyembunyikan dari Danendra. "Hah! Kenapa kamu sembunyikan, saya sudah melihat semua isinya dan kamu yakin jika hanya itu saja isinya," putus Danendra saat Soya tak menyadari isi di tempat lainnya.


"Agh, Mas jangan bergurau!" seru Soya tak percaya tetapi tangan membuka satu tempat yang terlewat.


Netra Soya seketika melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya dengan tatapan heran Soya mengeluarkan isi tas yang di maksud Danendra. Memindai sesaat berkas yang di pegangnya dan membuka amplop kecil yang terbungkus rapi. "Mas, apa ini?" tanya Soya tak percaya.


Perlahan Danendra bangkit dari tidurnya, menatap wajah Soya yang terkejut dan menatapnya tak percaya. "Soya, itu berkas rumah kamu dan bukalah amplop kecil itu," pinta Danendra pelan.


Perlahan Soya membuka amplop yang di maksud dan seketika Soya terperanjat saat melihat apa yang di pegangnya. "Mas! I-ini buku tabungan?" tanya Soya terkejut untuk yang kesekian kalinya.


"Soya, berkas rumah kamu dan buku tabungan semua yang ada situ adalah hasil keringat kamu, dengan ini saya mengembalikan hak kamu dan itu sebagai hadiah Mas kawin dari saya, semua hutang kamu sudah terbayar lunas dan jadilah istri untuk pertama dan terakhir kalinya untuk kita, hanya itu permintaan saya," ucap Danendra sembari menangkup wajah istrinya.


Soya yang mendengar ucapan Danendra seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya, saat ini entah apa yang harus di ucapkan untuk Danendra. "Mas, tetapi saya sudah menerima Mas kawin kemarin?" tanya Soya polos.


"Terima saja Soya, anggap itu hadiah pernikahan dari saya," tutur Danendra.


Bibir Soya kini benar-benar terkunci, air matanya sudah luruh, kebahagiaan yang begitu besar membuat hatinya benar-benar merasa di awan. "Mas ...."Seru Soya sembari memeluk erat Danendra, beribu perasaan yang sulit Soya jabarkan dengan kata-kata, tangisnnya Soya seketika luruh dalam pelukan Danendra.


"Terima kasih Mas," tutur Soya lirih dalam tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2