
Soya tak menyangka jika sore ini dia bertemu dengan sang mertua, ada sedikit perasaan lega di hati Soya karena sang mertua masih mau menganggap dirinya. Tatapan Soya terputus saat melihat sang ayah mertua masuk dalam mobil dan kemudian melaju tak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Berkali-kali Soya mengusap perutnya yang kembali mengeras, seakan sang anak dalam rahimnya terus bergerak hingga membuat Soya tersenyum. "Lihat Bi, gerakan di perut Soya, lihat betapa aktifnya dia," tutur Soya.
"Kita pulang Bi, sudah semakin sore." Soya melangkah perlahan.
Namun, belum juga langkah mereka tiba di rumah langkah Soya terhenti saat melihat mobil yang tak asing di netranya. Soya seketika mundur beberapa langkah sembari menarik tangan sang bibi. Ada ketakutan yang tiba-tiba muncul di benak Soya.
"Bi, berhenti." Soya sembari menatap ke arah mobil.
"Non. Ada apa,kenapa?" tanya bibi bingung.
Soya seketika mengajak sang bibi duduk, dan bersembunyi, keringat membasahi wajah Soya dan perutnya makin sering menegang. Soya berkali-kali mengusap perutnya untuk meredakan rasa sakit yang terus membuatnya meringis. Cukup lama Soya berlaku demikian tetapi netranya terus mengawasi mobil yang berhenti di depan rumah.
"Bi, kita pergi dari kota ini. Kenapa dia bisa sampai di sini. Soya tak suka Bi, Soya tak ingin jika dia tahu bahwa saya tengah mengandung anaknya Bi," putus Soya.
"Non ... apa yang Non katakan?" tanya Bibi heran.
"Bi, saya sudah menduga ini dan saya tak mau bertemu dengan Mas Adran Bi ..." Soya sembari berjalan menjauh.
Sang bibi yang paham akan maksud Soya akhirnya hanya bisa menurut dan mengekor langkah Soya. Berdiri menjauh dan mencari tempat yang tak dapat di lihat oleh orang-orang Danendra. Soya berjalan semakin menjauh dengan perut besarnya tak menyurutkan niat Soya untuk menghindari Danendra. "Bi, tolong carikan tempat untuk duduk." Soya meminta dengan napas memburu dan wajah berkeringat.
Melihat kondisi Soya, bibi yang kebingungan dengan sigap langsung mencari tempat duduk yang di maksud. Bibi seketika tersenyum saat melihat bangku kosong yang tersamar oleh pohon yang tinggi menjulang. Sang bibi dengan bergegas menghampiri Soya tetapi langkah sang bibi terhenti saat sang bibi melihat Soya tengah berbincang dengan laki-laki yang tak pernah di kenal.
"Bi, kemari." Soya memanggil.
"Non ... siapa pemuda ini?" tanya sang bibi bingung.
"Bi, nanti Soya jelaskan. Asal kita bisa pulang," ujar Soya.
Tanpa berbicara apa-apa Soya langsung menggandeng tangan sang bibi dan memegang tangan laki-laki ini. Sang bibi seketika menatap tak suka saat melihat Soya meraih tangan laki-laki ini. "Non ..." Panggil sang bibi.
__ADS_1
"Sssttt ... Bi, ayo!" seru Soya lirih.
Sang bibi dengan tanpa bicara akhirnya mengekor juga langkah mereka, ternyata dugaan Soya tak salah. Berjalan semakin mendekat membuat Soya semakin menegang itu jelas terlihat dari genggaman tangannya yang semakin erat. "Hai, kamu!" teriak seseorang memanggil dari dalam mobil.
"Saya," jawab laki-laki ini sigap.
"Ya, kamu. Siapa lagi dan kamu bekas istrinya Danendra," cerca Cintya.
"Hai kamu wanita aneh, bicara sedikit sopan. Wanita ini adalah istri saya, saya tak suka jika kamu berbicara kurang ajar," tutur laki-laki ini tenang.
Mendengar jawaban dari laki-laki ini. Cintya seketika menatap tak percaya tetapi bibirnya tersenyum puas. Cintya dengan ponggah berjalan menghampiri Soya menatap Soya dari atas sampai bawah. Soya memilih mundur beberapa langkah dan berlindung di balik tubuh lelaki ini.
"Jaga sikap kamu, lihat istri saya sampai ketakutan!" seru sang lelaki.
Cintya kini mundur selangkah dan tersenyum sinis tetapi netranya terus memindai perut Soya. Cintya seakan tak percaya jika Soya telah menikah kembali dan hamil. Cintya masih dengan tatapan menyelidik tak lama masuk dalam mobil dan keluar kembali membawa berkas dan melempar ke arah Soya dengan kasar.
"Baca dengan benar," titah Cintya.
"Non ... tenang dan ingat anak dalam kandungan Nona," ujar sang bibi sembari berusaha memburu tubuh Soya agar tak jatuh.
Mendengar ucapan sang bibi, dirinya seakan sadar akan situasi aneh sore ini. Netranya seketika menatap wajah laki-laki yang berdiri di depannya dengan kikuk. Laki-laki ini hanya tersenyum dan kemudian membungkuk untuk mengumpulkan berkas yang tercecer.
"Maaf, ini berkas Anda." Laki-laki sembari mengulurkan berkas yang di ambilnya.
"Terima kasih, sekali lagi terima kasih untuk pertolongannya," timpal Soya sembari menerima berkas dari tangan laki-laki ini.
"Enggak apa-apa saya ikhlas menolongnya," jawab sang lelaki.
"Non, kenalkan saya Hazal." Sang lelaki memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Saya Soya, terima kasih Kak Hazal." Soya menjawab.
Perkenalan singkat karena suatu keadaan yang mendesak membuat Soya semakin malu. Soya hanya memikirkan bagaimana dia bisa lepas dari Cintya demi menyelamatkan anak yang ada dalam kandungannya. Perlahan Soya menarik tangan sang bibi berusaha menutupi rasa malu yang kini dirasakan.
"Bi. Ayo, kita pulang," ajak Soya lirih.
Sementara itu Hazal masih berdiri seakan memastikan Soya masuk dengan selamat hingga tiba di rumah tak lama lelaki ini berlalu pergi sembari tersenyum.
Namun, berbeda dengan Soya yang sudah berada di dalam rumah dengan perlahan duduk dan mengambil napas kasar. Sang bibi yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa tersenyum kecut saat mengingat ulah Soya. Entah kenapa sang bibi merasa tak suka dengan sikap Soya.
"Bi, kenapa? Apa bibi marah dengan sikap Soya? Andaikan saya tak hamil pasti akan saya lawan wanita itu tetapi ... saya harus bisa menjaga anak saya Bi."
Penjelasan singkat Soya seakan membuat sang bibi lega, bagaimana juga sang bibi tak rela jika Soya berjalan dengan lelaki lain meskipun bibi tahu jika tuan muda selalu membuat hati Soya sakit. Lamunan sang bibi sirna begitu saja saat Soya memanggilnya.
"Bi ... Bibi." Soya memanggil lirih.
"Ya, Non. Ada apa?"
"Tolong bawa berkas yang Cintya berikan," pinta Soya.
Sang bibi tanpa bertanya dua kali langsung mengerjakan apa yang di minta Soya, menyerahkan berkas yang di minta. Soya tanpa merasa curiga menerima berkas dan membacanya, sesaat Soya menyengitkan dahi seakan berusaha memahami berkas yang dibacanya. Soya segera meletakkan berkas yang dibacanya netranya seketika mengembun dan kini menjadi titik air mata.
"Non, kenapa?" tanya bibi bingung.
"Bi ... Ma-Mas Andra!"
"Kenapa Non, cerita apa yang terjadi?"
"Mas Andra .... "Soya tak melanjutkan ucapannya, tangisnya luruh sembari terus mengusap perutnya.
__ADS_1
"Akhirnya, apa yang saya takutkan terjadi," guman Soya.