RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 71. Berbunga


__ADS_3

Soya semakin menunduk malu saat Danendra mengatakan tentang hal yang membuatnya tiba-tiba merinding. Tubuh Soya semakin gerah saat Danendra meraih tangannya dan memegang erat. "Tetaplah seperti ini dan jangan pernah berubah, saya tak ingin kehilangan kamu lagi," ujar Danendra lirih.


Suasana kamar yang sepi membuat dua insan ini hanya bisa saling menatap, Soya yang sedari tadi duduk di samping Danendra akhirnya berdiri juga. Melangkah mendekat sembari tersenyum hingga tubuh Soya merapat di sisi bed. "Sebaiknya Tuan istirahat dan saya juga menginginkan Tuan segera pulih," cicit Soya sembari merapatkan selimut Danendra. Kemudian Soya, memilih menuju kursi panjang yang berada tak jauh dari bed.


"Kenapa, kamu tidur di situ?" tanya Danendra tak suka.


"Istirahat Tuan, ini juga sudah malam," seru Soya sembari menguap.


Soya yang sudah kelelahan sehari ini langsung saja terlelap, ada satu hal yang tak dapat Danendra bisa lepas, menatap wajah yang terlihat begitu manis dan cantik menurut pandangannya. Napas Danendra berembus dengan kasar, ada onak dalam hatinya yang terus menuntut untuk selalu dekat dengan Soya. Perasaan ingin memiliki seutuhnya dan tak akam pernah melepas kembali. "Semoga semua berjalan dengan baik dan masa lalu yang buruk tak mengikuti dan menjadi bumerang kelak nantinya," guman Danendra lirih dan netranya terus menatap Soya.


Namun, Danendra segera mengubah arah pandangannya, sesaat netranya terkejab beberapa kali untuk mengusir kegundahan hatinya, ada sepenggal kisah yang membuat Danendra terus merutuk dalam hati penyesalan yang seakan tiba-tiba datang bersamaan rasa cinta yang kini sudah memenuhi hatinya. "Terima kasih Soya, bersama dengan kamu, sekarang saya menemukan tujuan hidup yang selama ini penuh kearoganan," guman Danendra pelan.


Perlahan Danendra terlelap dengan senyum yang terus menghias bibirnya hingga tepukan lembut di pagi hari membangunkan Danendra. "Bangun Mas, sudah pagi," ujar Soya pelan sembari tersenyum.


Danendra sesaat terkejut saat mendengar tutur dan panggilan Soya yang sudah berubah. "Jangan menatap Soya seperti itu Mas, sesuai pesan dan permintaan Mas akhirnya saya mengubah panggilan saya," ucap Soya sembari tersenyum dan meraih tangan Danendra.


"Hash! Jangan menatap terus seperti itu, sekarang Mas turun dan langsung ke kamar mandi. Dokter sebentar lagi akan datang memeriksa," tutur Soya sembari membantu Danendra turun dari bed.

__ADS_1


"Pelan. Hati-hati, jahitannya juga masih basah," ujar Soya sembari memandang ke arah perut Danendra.


Mendengar semua ucapan dan perhatian Soya, pagi ini Danendra merasa di atas awan. Dunia seakan sedang berpihak padanya dengan menunjukkan kebaikan dan perhatian Soya. Soya tak menghiraukan tatapan Danendra yang seakan memujanya, perlahan Soya mengajak Danendra melangkah dan mengantarkan Danendra ke kamar mandi dan tak lama kembali ke luar. Hingga beberapa menit kemudian Danendra sudah memanggil kembali, Soya seakan tak risih melakukan pekerjaan ini. "Tuan, berbaring saja saya akan mengusap wajah Mas dengan kain basah," cakap Soya sembari kembali menuju kamar mandi dan tak lama keluar.


Perlahan Soya mengusap wajah Danendra kemudian tersenyum dan menyisir rambut Danendra dengan tangannya. "Maaf, karena tak ada sisir jadi bolehkan saya menyisir pakai tangan?" tanya Soya sembari terus menyisir. Soya yang sudah menyelesaikan pekerjaanya sesaat tersenyum dan memindai wajah Danendra, senyum puas yang tak pernah Soya tunjukkan. "Duduk yang tenang, sebentar lagi sarapan datang dan jika Dokter memeriksa Mas sudah terlihat segar dan rapi, tetapi sayang belum gosok gigi," bisik Soya lirih dan langsung membuat Danendra melotot.


Percakapan mereka terhenti saat Bibi masuk bersama Sang Ayah mertua. "Wah! Tumben pagi-pagi sekali Ayah dan Bibi datang?" tanya Soya senang dan bersemangat.


"Pagi Danendra, Soya. Wah! sudah terlihat rapi!" ujar Tuan Guntur sembari tersenyum.


Sementara itu, sang bibi langsung menarik tangan Soya dan menatap lekat, "sudah Bi, Soya hanya melakukan tugas sebagai istri, hanya itu saja," tutur Soya sembari tersenyum.


"Non, Tuan besar bilang, rawat di rumah saja dan semua sudah di persiapkan," ucap bibi pelan.


"Tapi, Bi ...."Ucap Soya terputus saat sang ayah mertua memanggil.


"Ya, Ayah!" jawab Soya tergesa.

__ADS_1


Setelah Dokter datang memeriksa kita pulang, semua sudah Ayah persiapkan dan untuk Danendra akan ada yang mengawasi, semalam Ayah datang menengok, melihat cara kalian tidur membuat Ayah sedih," jelas Tuan Guntur kesal.


"Baik Ayah, tetapi biarkan Soya ikut satu mobil dengan Mas Andra," ujar Soya lirih.


Mendengar ucapan Soya, bibi dan ayah mertua seketika menatap senang. "Nah, memanggil seperti itu, 'kan lebih enak!" seloroh sang ayah mertua hingga membuat Soya tersipu malu.


Sementara itu, Danendra yang berada di atas bed terlihat senang dengan senyumnya yang terlihat menghias di sudut bibirnya. Danendra pagi ini merasakan kebahagiaan dua kali lipat saat Soya mau memanggilnya dengan sebutan Mas Andra. Namun, Danendra seketika menghentikan senyumnya dan menatap wajah Soya tak suka. "Andra? Andra siapa?" tanya Danendra akhirnya.


Sang ayah dan Soya seketika menoleh, sementara bibi langsung menghentikan pekerjaannya. Mereka secara bersamaan menatap Danendra bingung. "Andra, siapa?" tanya Danendra ulang.


Soya yang sadar akan pertanyaan sang suami akhirnya mencebik kesal, menatap Danendra geram, karena tak mungkin dia akan menjelaskan siapa Andra itu. Tanpa menghiraukan pertanyaan Danendra, Soya memilih menghampiri sang bibi dan membantu sang bibi membereskan sesuatu.


Pukul 10. 00 pagi, Dokter yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, setelah memeriksa dan menyatakan semuanya aman.


"Hm .... Tolong, untuk sementara jangan di buat untuk berjongkok ataupun melakukan pergerakan yang menguras tenaga karena satu yang saya khawatirkan, jahitan akan kembali terbuka dan jujur hanya ini pesan saya," tutur sang Dokter sembari tersenyum.


Mendengar ucapan sang Dokter, Danendra yang masih kesal dengan sikap Soya kini semakin geram dan terus menatap Soya, seakan ingin menuntut jawab dari pertanyaannya tadi. Hingga Dokter pergi Danendra masih dengan diamnya, hingga beberapa perawat datang dan mendorong bed Danendra dan tak lama masuk dalam mobil ambulans. "Mas, perjalanan cukup jauh, jadi sebaiknya Mas Andra tenang," cakap Soya tiba-tiba dan itu mengejutkan Danendra.

__ADS_1


Soya yang yang menyadari sifat sang suami sesaat tersenyum, "Mas Andra kenapa marah? Masa Soya memanggil Mas Endra, enggak enak di dengarnya, ini juga panggilan kesayangan Soya, apa salahnya jika hanya mengubah huruf E menjadi A, nama Mas Danendra juga ada huruf A juga," jelas Soya panjang lebar.


Perlahan Danendra merubah cara pandangnya, senyum Danendra langsung tersungging begitu saja dan tak lama menarik Soya lebih dekat. "Terima kasih Soya," cicit Danendra sembari mengecup lembut bibir sang istri dan Danendra melepas ciumannya saat mobil ambulans melaju dengan suara raungnya yang keras.


__ADS_2