
Soya memilih untuk diam dan memasukkan belanjaan yang di bawanya, Nella yang sedari tadi menunggu akhirnya hanya bisa tersenyum kecut menatap Danendra.
"Sayang, kenapa ada Papa di area parkir tadi?" tanya Nella penasaran.
Danendra yang baru masuk dan duduk seketika menatap Nella lekat, "Nella ini Mall yang cukup terkenal dan siapa saja bisa datang, lantas kenapa Nella takut?" tanya Danendra pura-pura tidak tahu.
"Ih ..., sayang! Sayang lupa ya? ini, lihat bagaimana dengan keadaan yang seperti ini Nella bisa bertemu dengan Papa!" jawab Nella menyesal.
Mendengar ucapan Nella sesaat Danendra melirik ke arah belakang kemudi, 'Lah, enak sekali si Koya sudah tertidur,' guman hati Danendra sembari melajukan mobil.
Nella yang sedari tadi memperhatikan sikap Danendra kini semakin merasa tak suka dengan Soya. "Sayang, awas jika terus melirik ke arah belakang, lagi pula apa istimewanya pembantu itu, gadis ingusan," ujar Nella ketus.
"Nella, wajar jika saya melihat ke belakang siapa tahu dia ketinggalan di swalayan," ujar Danendra asal.
"Tapi Nella tak suka sayang!"
"Hem ..., jika suatu saat saya di jodohkan dengan Ayah, toh umur saya juga bukan tergolong muda lagi dan pasti Ayah juga ingin punya momongan?" tanya Danendra.
"Nella akan bunuh wanita itu dan akan memberi hukuman yang pantas," jawab Nella yakin.
"Yakin!"
"Iyalah!" jawab Nella.
"Hem, beruntung saya memiliki pacar yang setia, andaikan saya melihat kamu! selingkuh pasti saya akan melakukan hal yang sama dan akan memberi hukuman yang pantas juga," jawab Danendra dan seketika membuat Nella menunduk.
"Eh, kenapa menunduk. Sini," tutur Danendra sembari meraih tubuh Nella lebih dekat.
Sepanjang perjalanan pulang Nella lebih banyak diam dan menatap kosong, pikirannya kini tertuju pada beberapa hal yang pernah di lakukan di belakang Danendra. Danendra sesaat tersenyum saat melihat tubuh Nella yang menegang dalam diamnya.
"Nella, kenapa diam. Saya berharap Nella setia selama ini!" ucap Danendra dan itu membuat Nella semakin berkeringat di malam yang dingin.
"A-a ..., Nella gerah sayang," ujar Nella sembari membuka kaca mobil dan menghadapkan wajahnya pada jalan raya.
"Nella, tutup jendelanya, toh di mobil juga ada ac," ujar Danendra lirih.
"Bagaimana jika kita menikah?" tanya Danendra memancing.
"Me-menikah?" tanya Nella bingung.
__ADS_1
"Hiya, kita menikah! Buktikan jika kamu selalu mencintai saya," jawab Danendra.
"T-tapi, Nella belum siap sayang," jawab Nella lagi.
Danendra yang sedari tadi berusaha untuk tenang, akhirnya Danendra menghentikan laju mobilnya dengan tiba-tiba. Amarah yang di pendamnya selama berbulan-bulan serasa ingin meronta dan menghardik serta menghukum Nella saat itu juga. "Hash! kamu selalu saja menolak saat di ajak menolak tetapi kamu mau bercumbu dengan saya Nella," ujar Danendra berusaha tenang.
Nella terdiam dan tak bisa menjawab setiap pertanyaan Danendra. "Nella kenapa diam?" tanya Danendra. "Em ..., Nella-Nella minta waktu," jawab Nella tergagap. Danendra masih menunggu jawaban yang tak mungkin di terimanya, hingga suara dari belakang kemudi mengejutkan Nella dan Danendra.
"Huam ..., Tuan. Kenapa kita masih belum sampai dan terus berputar-putar, membuat kepala Soya pusing," ujar Soya sembari sesekali menguap.
Danendra yang mendengar ucapan Soya seketika melajukan mobilnya kembali, hingga tiba di rumah Danendra masih melihat Nella yang tegang. "Soya, atur sekalian belanjaanya di kulkas!" perintah Nella tiba-tiba dan itu membuat Danendra tak suka.
Nella yang menyadari sikap Danendra langsung tersenyum untuk meredakan ketegangan di hatinya, "sayang, kenapa marah! Lagi pula itu tugas pembantu!" ujar Nella sembari menarik lengan Danendra masuk. Soya hanya tersenyum melihat Nella, "pasangan yang serasi, tetapi kenapa Tuan ..." Putus Soya sembari mengangkat belanjaan.
Baru saja langkah Soya memasuki ruang tamu, Nella yang duduk di ruang tamu seketika menatap Soya tak suka, "setelah memasukkan belanjaan, buatkan saya makan malam setelah itu buatkan saya salad," ujar Nella sembari tersenyum sinis.
"Nona, saya tidak bisa membuat salad," ujar Soya sembari menatap Nella bingung.
"Kamu! Lalu apa bisa kamu hah!"
"Maaf Nona!" jawab Soya lirih dan kemudian menuju dapur.
Danendra yang baru turun dari lantai atas seketika menatap tak suka, " Nella jangan menyuruh Soya yang dia tak bisa," ujar Danendra sembari berjalan menuju dapur.
"Eh. Tuan, Tuan mau di buatkan kopi," ujar Soya sembari menyalakan kompor dan menjerang air.
"Boleh!" jawab Danendra sembari melirik ke arah Nella.
"Tuan. Tuan tahu cara membuat salad?" tanya Soya penasaran.
"Ash! kenapa kamu menanyakan pada saya? Cepat masak nasi dan masak," jawab Danendra terkejut.
"Lagian kaya, kenapa Tuan tak beli saja tadi," gerutu Soya sembari menuang kopi.
"Jangan menggerutu, jika saya selalu membeli masakan siap saji, lantas untuk apa saya belanja dan mengisi kulkas," ujar Danendra tak terima.
Soya hanya diam dan melanjutkan memasak
tak menghiraukan Tuannya yang menatap kesibukannya. Namun, belum juga masakan selesai, "lama sekali masaknya lelet!" ujar Nella asal.
__ADS_1
"Ih ...! Bau apa ini, sayang ayo kita duduk di depan saja. Bau ini ..."Ujar Nella tak suka dan langsung menarik Danendra.
Soya seketika menoleh ke arah Nella dan menggerutu tak jelas.
Sementara itu, Danendra yang duduk di ruang tengah langsung menghempas tangan Nella tak suka. "Sayang ..., kenapa kamu marah. Nella sudah terbiasa di layani," jawab Nella jujur.
"Argh ..., bukan itu yang membuat saya marah, tetapi apa jawaban kamu untuk pertanyaan yang tadi?" tanya Danendra memburu Nella.
"Sayang ..., Nella itu belum siap, Nella masih pingin main dan senang-senang, lagi pula umur Nella belum genap dua puluh lima tahun dan itu pun masih satu tahun lagi," jawab Nella mencoba untuk berkelit.
"Nella, beri keputusan pada pertanyaan saya dan semakin cepat semakin baik, atau ..., "apa ada sesuatu yang membuat Nella mengundur niat baik ini?" tanya Danendra.
"A-a ..., en-enggak ada!" jawab Nella kembali tergagap.
"Lantas ...?" tanya Danendra sembari mengungkung tubuh Nella di atas sofa.
Nella yang merasa tegang dan tiba-tiba tubuhnya kembali menegang dan mendorong tubuh Danendra, "jangan membuat saya takut," ujar Nella dengan tubuh gemetar.
"Nella satu minggu, ya satu minggu saya menunggu jawaban kamu!"
Nella seketika melotot tak percaya dengan ucapan laki-laki yang berdiri di depannya dengan tatapan tajam, "Huuff ..., jangan memaksa sayang!" ujar Nella sembari berlalu pergi.
Nella berjalan sedikit tergesa hingga langkahnya terhenti saat Soya hendak melangkah menuju ruang tengah, "agh, kamu! apa kamu tak melihat jika saya berdiri di sini! jalan yang benar!" hardik Nella sembari mendorong tubuh Soya agar jauh dari tempatnya berdiri.
"Dekil, kotor dan agh ..., bau apa ini!" ujar Nella sembari menutup hidungnya.
"Maaf Nona!" jawab Soya sembari berjalan menepi.
"Argh ...!" teriak Nella saat tiba di dapur.
Soya yang hendak memanggil Danendra mengurungkan niatnya dan bergegas menuju dapur. "Ada apa Nona?" tanya Soya bingung.
"Sini! Masakan apa ini? Selera makan saya langsung hilang!" ujar Nella sembari menyembur kuah yang di icipnya dari sendok.
Soya yang merasa jerih payah dan lelah memasak tak mendapat kebaikan sedikitpun dari wanita yang berdiri di depannya kini menatap tajam, " Nona, jika Anda tak menyukai masakan saya, silahkan Anda membeli masakan di luar," jawab Soya kesal dan meninggalkan Nella begitu saja.
"Tuan, makan malamnya sudah siap!" seru Soya dan kembali menuju dapur.
Setelah Danendra duduk, " Silahkan Tuan, jika Tuan sudah selesai saya ada di kamar," jawab Soya dan masuk dalam kamar.
__ADS_1
Namun, belum lagi Soya duduk di ranjang.
"Soya ...!" teriak Danendra keras.