
Soya sedikit bingung saat Danendra tiba-tiba menarik tangannya. Tatapan tajam darinya tak menyurutkan niat Danendra, seakan memaksa dirinya untuk mengikuti langkahnya. Danendra berhenti tepat di depan ruangan yang membuat Soya bingung.
"Diam dan tunggu di sini!" seru Danendra tak ingin ada penolakan.
Soya yang masih bingung dengan sikap Danendra akhirnya memilih patuh pada keputusan Danendra. "Argh ... kenapa aku menurut begitu saja. Diandra? Bagaimana keadaannya."
Soya masih dengan bingungnya, saat dirinya memindai ruangan yang ada di depannya. Perlahan Soya beringsut menjauh dan netranya sudah kembali melihat Danendra.
Soya bergegas menghampiri Danendra. "Bagaimana kondisi Diandra, aku ingin melihat Diandra!" seru Soya sembari meninggalkan Danendra begitu saja.
Danendra membiarkan Soya pergi begitu saja karena rencananya kini sudah berhasil, Danendra memanfaatkan jatuhnya Diandra untuk keperluan dirinya dan mencoba meyakinkan dirinya akan Diandra melakukan beberapa test yang diinginkannya.
Danendra kembali mengekor langkah Soya, Soya sedikit terkejut saat melihat Tuan Guntur sudah berada di rumah sakit dan menggendong Diandra sembari tersenyum.
"Ayah, Diandra. Apa .... "Perkataan Soya terputus begitu saja saat dirinya merasa di bodohi oleh Danendra.
"Danendra yang menelfon Ayah, beruntung Diandra baik-baik saja, Diandra pingsan karena terkejut dari jatuhnya," jawab sang ayah mencoba meyakinkan Soya.
"Tapi, Ayah. Sungguh Diandra baik-baik saja? Ayah kita bawa Diandra untuk periksa kembali," pinta Soya bingung.
"Ibu, Diandra baik-baik saja dan Dokter sudah mengizinkan pulang," cicit Diandra.
Soya yang masih bingung dengan apa yang dilihatnya kini kembali menatap tajam pada Danendra, tersangka utama dari semua kebingungannya. "Apa yang kamu rencanakan kutu kupret ... apa!" seru Soya geram.
__ADS_1
"Hust ... diam, sekarang kita ada di rumah sakit jangan berteriak," ujar Danendra saat semua orang memandang Soya dan Danendra dengan tatapan tak sukanya.
Danendra yang merasa malu akhirnya kembali meraih tangan Soya. "Maaf, saya minta maaf atas nama istri saya," ucap Danendra sembari tersenyum.
Soya kembali merasa kesal dengan Danendra saat menyebut dirinya sebagai istri Danendra.
Menghempas tangan Danendra dengan kesal dan memilih mengejar langkah Diandra dan sang Ayah. Melihat sikap Soya yang begitu keras padanya Danendra hanya bisa tersenyum dan menatap penuh arti. "Tunggu Soya, jika semua keberadaan Diandra jelas anakku jangan harap aku akan melepas kamu," gumam Danendra dan mengekor langkah Soya.
Selama perjalanan pulang Soya lebih banyak diam dan sibuk dengan semua pikirannya. Soya begitu merasa ada yang aneh dengan sikap Danendra. "Argh ... bodoh," gumam Soya kesal, hingga Diandra dan sang ayah menatap dengan heran.
Soya semakin terkejut saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di rumah yang sudah begitu lama tak pernah Soya kunjungi.
"Ayah, kenapa kita berhenti di sini? Bukankah rumah Soya ada di sana?" tanyanya bingung.
Namun, semua kebingungan Soya terjawab saat nekbi keluar dari rumah dan meraih Diandra untuk di ajak ke dalam. Tuan Guntur tersenyum dan hendak keluar, tetapi tuan Guntur menghentikan niatnya menatap ke arah Danendra dan Soya bergantian. Tuan Guntur sesaat membuang napasnya dengan kasar.
"Tapi, Ayah. Ayah sudah tahu keputusan Soya dan Ayah menerima keputusan Soya," jawab Soya pelan.
"Itu, dulu dan sekarang sudah berbeda, terserah kamu Soya, tetapi jangan harap Ayah akan melepas Diandra begitu saja. Danendra selesaikan masalah kamu dengan Soya. Ingat selama kalian belum menyelesaikan semuanya, Diandra akan Ayah bawa dan camkan itu!" tegas Tuan Guntur.
"Ayah ... kenapa Ayah jadi begini?"
"Soya, Ayah sudah tua dan sudah cukup Ayah melihat kalian tarik ulur begini, lagi pula apalagi yang harus di sembunyikan Soya!" seru Tuan Guntur lagi sembari ke luar dari mobil.
__ADS_1
Soya kini terdiam, dirinya serasa tak mampu membela dirinya sendiri hanya tertunduk terdiam menatap dalam ke arah dua kakinya.
Namun, lamunan Soya terputus saat mendengar suara Danendra. "Soya, apa yang Ayah maksud. Apa ... semua ini ada hubungannya dengan Diandra?" tanya Danendra mengejutkan.
Soya makin terdiam tak bisa mengatakan apa-apa, saat semua rahasia yang berusaha Soya tutup akhirnya harus terungkap juga. Soya hanya bisa mengembuskan napas dengan berat, tetapi bibrnya masih enggan menjawab semua pertanyaan Danendra.
"Antarkan saya pulang, biarkan Diandra di sini untuk beberapa waktu," jawab Soya berusaha untuk tegar.
Danendra tak menyangka jika wanita yang ada didepannya masih begitu kukuh dengan pendiriannya. Soya kini kembali diam dan tak sedikitpun menatap ke arah Danendra. Hingga beberapa menit kemudian. "Baik, buka pintu mobilnya Danendra, saya akan berpamitan pada Ayah dan menitipkan Diandra untuk sementara waktu," jawab Soya dan itu membuat Danendra semakin tak percaya.
"Kamu!"
"Ya. Saya dan ini pembelajaran yang saya dapat Danendra dan kamu harus paham itu!" seru Soya kesal dan berusaha membuka pintu mobil.
Danendra yang kesal dengan sikap Soya, kini melajukan mobil dengan kencang untuk meluapkan semua emosinya. Soya yang terkejut dengan sikap Danendra hanya bisa terdiam tetapi semakin lama Danendra melajukan mobil semakin kencang. Soya yang menyadari kegilaan Danendra akhirnya hanya bisa memejamkan mata untuk meredam semua ketakutannya.
"Danendra berhenti! Kamu sudah gila! Berhenti!" teriak Soya keras.
"Aku tak akan berhenti jika kamu tak menceritakan semuanya!" teriak Danendra membalas.
Soya saat ini harus berpikir jernih dirinya tak mungkin akan mengorbankan nyawanya dan meninggalkan Diandra begitu saja, mati konyol dengan laki-laki yang membuatnya begitu kesal. "Baik! Berhenti Danendra!" teriak Soya mengalah.
Mendengar jawaban dari Soya, Danendra seketika memperlambat laju mobilnya dan berhenti tepat di tepi jalan. "Gila. Kamu gila!" teriak Soya saat dirinya sudah bisa menguasai dirinya.
__ADS_1
"Buka pintunya, aku ingin keluar," ujar Soya.
"Aku, sudah bilang. Aku tidak akan membuka pintu mobil jika kamu tak menceritakan siapa Diandra dan itu keputusan aku, titik!" seru Danendra yang kekeh pada pendiriannya.