RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 13. Kedatangan Zulhan


__ADS_3

Keadaan Ibu masih saja seperti itu, tubuhnya menjadi semakin ringkih, mengonsumsi obat dan itu wajib. Semua mengenai hubungan utang piutang sudah Soya tangani, perempatan tempat Soya berjualan seakan menjadi tempat negosiasi yang tersamarkan.


Hari ini sudah dua minggu sejak terakhir kali pertemuan Soya dan Zulhan, hingga pagi ini Zulhan menemui Soya di perempatan.


"Soya!" panggil Zulhan.


Soya yang merasa namanya di panggil langsung menoleh, "Kak Zulhan," seru Soya.


"Kamu, tidak sekolah?" tanya Zulhan heran.


"Em ..., Soya sudah memutuskan untuk berhenti, Ibu sering sakit-sakitan dan membutuhkan ketenangan, tolong jangan pernah cerita ke Ibu jika Soya berhenti sekolah," tutur Soya pelan.


"Oh. Ya, ini Kak. Soya masih bisa membayar bunganya selama dua minggu, kebetulan ada hutang Bapak yang tersebar sudah tinggal sedikit dan ada yang mengikhlaskan saja hutang Bapak jika masih seratus dua ratus ribu," ujar Soya sembari menyerahkan uang satu juta pada Zulhan.


"Kak. Maaf, masih segitu kemampuan Soya," ujar Soya sembari melihat jam di pinggir jalan.


"Kak, sudah siang. Tolong catat Kak. Eh, tetapi tunggu, ini Kakak tanda tangani dulu," ujar Soya sembari menyerahkan buku dan bolpoin. "Satu juta, Kak Zulhan," ujar Soya sembari memasukkan buku dalam tasnya kembali. "Kak, Soya tinggal dulu," ujar Soya sembari berlari memburu waktu dan akan pergi entah kemana.


Melihat sikap Soya Zulhan hanya menatap Soya hingga hilang di tikungan, "Kasihan, kamu Soya, kamu anak yang pintar dan cantik, sekarang kamu sudah banyak berubah dan itu juga karena Bapak kamu," guman Zulhan lirih dan masih fokus menatap arah ke mana menghilangnya Soya. Zulhan akhirnya melangkah juga sembari menggeleng hingga sapaan kasar, yang Zulhan terima.


"Zulhan, bagaimana," tanya suara laki-laki dalam mobil. "Beres Bos, anak Pak Kadir sudah membayar bunganya sebesar satu juta," jawab Zulhan sembari menyerahkan uang yang di terima Zulhan.


"Satu juta! anak Pak kadir kan harus membayar lebih dari itu," tukas laki-laki yang di sebut Bos.


"Danendra, sudahlah kasihan anak Pak Kadir, kamu lihat sendiri keadaannya, Ibunya juga sakit dan hanya dia saja yang mencari uang," ujar Zulhan berusaha menenangkan hati sang Bos. "Argh. Kamu ini, bisnis ya bisnis Zulhan. Bukan masalah kasihan, uang adalah uang," ujar Danendra marah.


"Bos, tolong untuk nasabah kita yang satu ini," ujar Zulhan lagi.

__ADS_1


Danendra sejenak terdiam, "Akh, tidak bisa, pembayaran harus lengkap atau ... "ujar Danendra terputus dan tersenyum jahat.


"Bagaimana, jika saya naikkan menjadi dua kali lipat," ujar Danendra licik.


"Bos, tolong khusus untuk Soya, bukannya saya ingin menganak emaskan Soya, tetapi tolong lihat kondisi Soya," ujar Zulhan iba.


"Tidak bisa, pokonya terlambat sehari tak membayar, tagihan harus dua kali lipat, mana-mana surat perjanjian Pak Kadir," ujar Danendra semangat.


"Pak, jalan," ujar Danendra sembari membaca berkas perjanjian Pak Kadir.


"Wah-wah, kenapa jaminan yang di berikan di sini tertulis barang berharga, Zulhan apa Pak kadir mempunyai rumah?" tanya Danendra.


"Bos, jangan mencekik mereka lagi, kasihan Bos," ujar Zulhan pelan.


Danendra seketika menyerngit saat mendengar Zulhan berkali-kali mengucap kata kasihan. "Zulhan, apa kamu menyukai gadis ingusan itu," ujar Danendra lagi.


"Ash! Soya Ndra, bukan Koya. Danendra, tidak seperti anggapan kamu, Soya sudah saya anggap sebagai adik, anaknya baik dan sebenarnya cantik tetapi sayang umurnya masih belasan," ujar Zulhan pada akhirnya.


Danendra seketika tertawa mendengar ucapan Zulhan, sejenak Danendra terdiam saat melihat gadis berkulit coklat dan rambut yang di kuncir. "Zulhan bukankah itu si koya," ujar Danendra asal.


Zulhan hanya tersenyum saat melihat Soya sudah berganti peran, saat ini Soya sudah bekerja di toko di belakang perempatan sebagai jukir. "Gadis yang tangguh, meskipun usianya masih belasan tetapi dia kuat demi Ibu dan hutang yang ingin segera di selesaikan," guman Zulhan kagum.


Namun, kekaguman Zulhan harus terhenti saat Danendra memukulnya memakai kertas.


"Tugas kamu bukan untuk mengagumi, tetapi ingat pungut tagihan si koya esok lagi. Ayo, Pak jalan," ujar Danendra kesal.


Zulhan menatap Danendra aneh, "Ndra kamu, sebegitu teganya, coba kamu bayangkan jika kamu dalam posisi Soya, kamu belum tentu bisa melakukan itu semua, sungguh saya tak terima saja jika kamu memperlakukan Soya seperti itu," ujar Zulhan.

__ADS_1


"Ndra, mengurangi bunga pada satu nasabah seperti Soya, tak ada ruginya. Anggap saja kamu bersedekah. Argh ..., jika kamu terus menerus menekan Soya, lebih baik saya berhenti dan cari orang lain saja," ujar Zulhan sembari menatap ke luar jendela.


Danendra hanya diam saja mendengar ucapan Zulhan. Namun, dari sorot mata Danendra jelas jika Danendra tak akan berubah pikiran.


Suasana di dalam mobil seketika hening, hingga laju mobil berhenti, Zulhan keluar tanpa banyak bicara. "Zulhan ingat lakukan tugas kamu," ujar Danendra dari dalam mobil.


"Ayo, Pak jalan," ujar Danendra dari dalam mobil.


Zulhan yang masih kesal dengan sikap Danendra kini memilih pulang lebih awal, Zulhan hanya tak habis pikir saja, kenapa Danendra tak merasa kasihan denga Soya.


"Huuf, bagaimana saya menyampaikan pada Soya, bunga yang bertambah apakah Soya sanggup menyanggupinya?" tanya Zulhan pada dirinya sendiri.


Zulhan kini memilih duduk di taman sebelum pulang, Zulhan memilih menghitung bunga yang akan Soya bayar jika menjadi dua kali lipat, "akh, mengapa keuntungan Danendra banyak sekali, ini namanya pemerasan," ujar Zulhan lirih.


"Hash, memang tolol Pak Kadir, sungguh tak ada kasihan sedikit pun pada Soya dan Bu Warti," ujar Zulhan lagi.


Hingga adzan magrib Zulhan masih saja duduk di taman sembari memikirkan cara untuk menyampaikan pada Soya, "Ya, ampun jangan sampai Danendra datang ke rumah Soya," ujar Zulhan pada akhirnya saat menyadari akan sorot mata Danendra.


Zulhan dengan bergegas berjalan menuju rumah Soya, langkah Zulhan terhenti saat melihat Soya duduk di ruang tamu sembari tesenyum dan tertawa dengan sang Ibu. Zulhan merasa sedikit tenang, saat melihat Soya tersenyum.


"Untunglah, Bos mata duittan itu tak datang ke rumah Soya dan itu terlihat dari sikap Soya yang tenang," guman Zulhan lirih sembari melangkah menuju rumahnya.


Namun, langkah Zulhan terhenti saat ada yang memanggil namanya berulangkali, suara yang tak asing dan itu membuat Zulhan langsung waspada.


"Zulhan ...!" panggil suara laki-laki ini lagi.


Zulhan yang sangat yakin akan suara yang memanggilnya langsung memilih untuk berjalan lebih cepat, "aduh Zulhan, kenapa buru-buru, apa Zulhan tak mendengar panggilan saya?" tanya laki-laki ini sembari berjalan mendekat.

__ADS_1


__ADS_2